
Keesokan harinya.
Masih diaparteman Bougenville, dan lebih tepatnya dikamar yang ditempati oleh Ahreum, gadis mungil itu baru saja membukakan kedua matanya tepat pukul 10:00 pagi menjelang siang.
Meskipun matahari telah terbit dan menyinari bumi, namun tidak mempengaruhi kamar gadis yang baru saja terbangun beberapa detik yang lalu, sebab gorden dikamarnya masih tertutup rapat hingga tak ada sedikitpun cahaya matahari yang bisa masuk ke dalam kamarnya.
Sebelum benar-benar menurunkan kakinya ke lantai, ia pun melakukan sedikit peregangan pada bagian tubuh atasnya seperti pada umumnya orang yang baru bangun tidur, kemudian melirik ke arah meja kecil yang berada disamping ranjangnya.
Ahreum meraih gelas yang berisikan air mineral kemudian meneguknya beberapa kali sampai habis tak tersisa. Disaat kerongkongannya menikmati kesegaran air mineral tersebut, tiba-tiba kedua telinganya menangkap suara gaduh yang berasal dari luar kamarnya.
Meski terdengar samar-samar, namun ia bisa memastikan jika suara itu berasal dari bunyi sebuah pisau yang tengah memotong-motong sesuatu diatas talenan, dan juga bunyi air yang mendidih diatas panci.
Seketika keningnya pun mengerut, sebelum pandangannya beralih ke arah jam dinding yang telah menunjukan pukul 10:15 am, tak mungkin jika itu Ansell, fikirnya’. Karena suaminya pasti sudah berangkat kerja sejak pagi tadi.
Tak ingin terus dihantui oleh rasa penasarannya, ia pun menaruh gelas yang sudah kosong kembali diatas meja kecil, sebelum turun dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu untuk keluar dari kamarnya dan memastikan siapa yang tengah membuat kegaduhan diaparteman suaminya.
“siapa ya?” tanya Ahreum seraya berjalan perlahan menghampiri wanita tua yang tengah mengaduk masakannya didapur.
“nona Ahreum..” sapa wanita tua tersebut seraya membalikan tubuhnya serta menurunkan tubuhnya sebagai tanda hormatnya pada majikannya.
“saya bi Ijah nona, saya ditugaskan oleh tuan Abi untuk membersihkan aparteman, memasak dan juga menjaga nona Ahreum dan tuan Ansell, sebagaimana tugas para asisten rumah tangga pada umumnya.
Tapi karena untuk kenyamanan tuan Ansell dan nona Ahreum, saya tidak akan tinggal disini, saya hanya akan datang di jam 7 pagi dan pulang di jam 5 sore.” Jelasnya panjang lebar seraya menautkan kedua lengan didepan tubuhnya.
“kenapa begitu?
Ahh, tidak ada kamar lagi ya? Amm, bibi bisa tidur bersamaku kok, ranjangnya cukup besar untuk kita berdua.” Sahutnya lengkap dengan senyuman ramahnya.
__ADS_1
Mendengar hal itu sontak membuat bi Ijah berfikir keras apa yang dimaksud oleh gadis manis tersebut.
“nona Ahreum tidak tidur dengan tuan Ansell?” tanya bi Ijah hati-hati.
“ahh itu, hehee..
Boleh ku bantu, ini hanya diaduk-aduk aja ya bi?” tanya Ahreum mengalihkan pembicaraan, dan beralih untuk mengambil tempat bi Ijah sehingga bi Ijah melangkah mundur, saat tangan Ahreum hendak memegang spatula yang masih berada dalam sebuah panci.
“sebelumnya nona Ahreum pernah memasak?” tanya bi Ijah seraya memperhatikan Ahreum dari pinggir sebab takut jika sesuatu yang buruk terjadi, saat Ahreum mulai mengambil alih tempatnya.
“aku belajar baru-baru ini hhehe, ibuku selalu memasak untuk makan siang ayah dan mengantarkannya ke kantor, karena aku selalu memperhatikannya memasak, ibuku akhirnya mengajarkanku caranya memasak dan membagikanku resep rahasianya. Hehee.” Ceritanya seraya masih mengaduk masakannya.
“begitu ya, kenapa ngga dari dulu belajarnya?” tanya bi Ijah kembali sembari mencoba mencari bumbu lainnya untuk dicampurkan ke dalam masakannya.
“karena mamaku tidak pernah mengijinkanku untuk memasak, jangankan memasak, untuk menginjakan kaki didapur pun tidak boleh, kalau aku memerlukan sesuatu aku hanya tinggal bilang pada bibi aja.
“iya boleh non.” Respon bi Ijah.
Begitu mendapat ijin dari bi Ijah, Ahreum pun langsung menyiduk sedikit kuah dari masakannya kemudian meniupnya sebentar sebelum ia teteskan ke telapak tangannya untuk ia sesap.
“mmmh.. enak bi, seger rasanya kaya ada pedes pedesnya gitu hehee.” Seru Ahreum lengkap dengan raut wajah senangnya.
“bibi mau coba?” lanjut Ahreum sembari kembali menyidukan spatula ke dalam kuah masakannya kemudian meniupnya sejenak sebelum ia meletakannya ke telapak tangan bi Ijah yang sudah siap untuk menerima tetesan kuah yang akan diberikan oleh gadis yang penuh antusias itu.
“iyaa sudah pas non bumbunya, biar bibi matikan kompornya.” Ujar bi Ijah setelah menyesap tetesan kuah yang berada ditelapak tangannya, kemudian langsung mematikan kompor tanda masakan telah siap disajikan.
Karena bi Ijah yang akan menuangkan masakannya ke dalam mangkuk kaca yang sudah diletakan diatas meja sebelumnya, Ahreum pun menyingkir dari tempatnya untuk memberikan ruang gerak pada bi Ijah.
__ADS_1
“waaah, sudah banyak yang bibi masak?” seru Ahreum saat ia baru menyadari sudah ada beberapa hidangan yang tersaji diatas meja, kedua matanya pun membulat seraya berjalan menghampiri bi Ijah yang hendak menuangkan masakannya diatas mangkuk kaca.
“sebaiknya nona mandi sekarang, setelah itu baru sarapan.” Kata bi Ijah yang terdengar seperti perintah dari seorang ibu yang menyuruh putrinya untuk membersihkan tubuhnya dahulu sebelum memulai menyantap makanannya.
“hehee, baiklah, aku mau mandi dulu.” Sahut Ahreum lengkap dengan senyuman merekahnya kemudian mulai melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Namun..
“ahh iya, bi, Ansell berangkat jam berapa tadi pagi? apa dia juga sudah sarapan?” tambah Ahreum yang kembali berbalik untuk menanyakan seputar kegiatan suaminya pagi tadi.
“tuan Ansell berangkat jam 08:00 nona, dan tuan Ansell hanya sarapan roti isi selai saja dengan susu pisang.” Sahut bi Ijah. “kenapa? nona Ahreum mau mencoba mengantarkan makan siang juga untuk tuan Ansell?” imbuh bi Ijah dengan diakhiri senyum untuk menggoda Ahreum.
“hhehe, boleh juga tuh.” Timpal Ahreum seraya berjalan mundur sesaat lengkap dengan balasan senyum malu-malunya, sebelum kembali memutar tubuhnya dan berlari kecil menuju kamarnya.
Melihat tingkah menggemaskan Ahreum, membuat bi Ijah hanya menggeleng kepala seraya kembali melanjutkan aktifitasnya merapihkan makanan dimeja.
“bukankah pernikahan mereka berdua berlandaskan perjodohan, tapi kelihatannya nona Ahreum begitu tulus menyayangi tuan muda. Mudah-mudahan saja keduanya bisa benar-benar saling mencintai pada akhirnya, hmm, gadis yang benar-benar manis dan menggemaskan.” Gumam bi Ijah seraya menatap pintu kamar yang baru saja tertutup.
***
Didalam kamar Ahreum.
Saat dirinya hendak masuk ke dalam kamar mandi, tak sengaja jari kelingking kakinya bertubrukan dengan sudut dinding, membuatnya langsung reflex merasakan sakit yang luar biasa, hingga ia pun terduduk sembari terus mengusap jari kelingkingnya yang malang.
“AUHHGGH, SIAL, AN***, FU**, BRE**, KAMPRET, @@FGJJHHH***” berbagai macam umpatan dan kata-kata kasar pun saling berlomba untuk keluar lebih dulu dari mulut mungilnya, membuat dirinya tidak lagi tampak seperti gadis manis dan menggemaskan seperti yang difikirkan oleh bi Ijah.
Bersambung...
__ADS_1
***