Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 144


__ADS_3

“Jeno..” panggil Nayeon kala keduanya kembali menginjakan kakinya diaspal setelah berputar-putar diwahana bianglala.



Jeno pun menghentikan langkahnya sejenak dan berbalik menanggapi panggilan Nayeon.



“aku haus, bisa tolong belikan aku air.” Pinta Nayeon yang berusaha mungkin terlihat baik-baik saja di depan Jeno.


“oke. Kau tunggu dibangku itu saja ya. Aku akan segera kembali.” Kata Jeno seraya mengusap bagian atas kepala Nayeon lengkap dengan senyum hangatnya, Nayeon pun mengangguk setuju yang membuat Jeno langsung bergegas mencari toko yang menjual minuman.


Begitu Jeno menghilang dari pandangannya, Nayeon pun memutar tubuhnya dan menarik langkah pergi menjauh dari tempatnya saat ini.


Bukannya menunggu dibangku seperti yang diminta Jeno, Nayeon malah pergi ke tempat lain seakan memang ingin berpisah dari Jeno yang telah meluluhlantakan perasaannya dalam sekejap.


***


Sebelumnya, lebih tepatnya kemarin malam dikediaman Nayeon Crhistine.


“mau apa kau kemari?!” pekik Hanna tajam kala Jeno muncul saat dirinya baru saja keluar dari kamar Nayeon.


“apa yang terjadi? Kenapa wajahmu penuh lebam seperti ini?” cemas Jeno seraya memandangi wajah dan tubuh Hanna yang banyak terdapat luka lebam dan juga goresan.


“ciiiihh!! Mau berpura-pura bego?! sini kemari kau!” geram Hanna seraya menarik kerah baju Jeno kemudian berjalan menjauh dari depan kamar Nayeon karena tak ingin keributan yang terjadi antara mereka berdua sampai terdengar ke dalam.


Sesampainya diruangan kecil tepat disamping kamar Nayeon.


Hanna pun mendorong keras tubuh Jeno ke sofa lengkap dengan tatapan intimidasinya, kemudian ia pun duduk disofa yang lain sebelum mengeluarkan sumpah serapahnya.


“YAK!! BRE****SEK!! BAJI***!! gausah pura-pura bego, aku melihatmu membuntuti kita, bukannya menolong malah kabur gitu aja layaknya seorang pengecut. Kau memang tak pernah berubah ya, bahkan pada kekasihmu sekalipun kau tak bisa melindunginya dengan benar.


Kau itu pria bukan sih!! kau tak malu dengan jenis kel**min mu itu Jeno!! Auugghhh!! Aku benar-benar ingin membunuhmu kau tahu!! Pria tak berguna sepertimu ini hanya ngotor-ngotorin bumi aja tau gak!!” geram Hanna lengkap dengan kedua mata yang berapi-api dan diakhir dengan kepalan tangan yang ingin sekali meninju pria pengecut yang kini berada dihadapannya.


“yak.. kenapa aku harus ikut mempertaruhkan nyawaku yang berharga. Disaat kalian sendiri yang menantang maut?! Aku benci saat seseorang dengan cerobohnya melibatkan diri ke dalam bahaya. Setidaknya kalian juga sudah selamat kan, kenapa meributkan masalah yang sudah terselesaikan!” balas Jeno yang tak kalah ngegas.


“astaga!! bagaimana mungkin sifatmu berbeda sekali dengan kak Winter. Apa kau tak curiga pada kedua orang tuamu Jeno?!” sahut Rihanna seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.

__ADS_1


“apa maksudmu?”


“mungkin kedua orang tuamu itu memungutmu di tempat pembuangan limbah beracun!!” pekik Rihanna yang kemudian bangkit dari tempat duduknya dan menoyor kasar kepala Jeno hingga Jeno tersungkur karena dorongan keras dikepalanya.


“yak!!!” bentak Jeno yang membuat Hanna kembali memutar tubuhnya dan menatapanya.


“APA!!!” bentak Rihanna dengan sorot mata tajamnya yang mampu membuat Jeno merasa terintimidasi dan berhenti menyahut perkataan Rihanna.


Karena nyali Jeno sudah ciut, Rihanna pun kembali menarik langkah untuk pergi meninggalkannya.


Namun siapa sangka begitu Hanna berjalan beberapa langkah, ia mendapati Nayeon yang tengah berdiri dibalik dinding lengkap dengan bulir air mata yang berurai dari pelupuk matanya. Nayeon pun mencoba tersenyum seperti orang bodoh saat kedua mata mereka bertemu.


Rihanna pun mengarahkan pandangannya pada Jeno yang tengah terdiam disofa sebelum kembali menatap Nayeon yang malang.


Nayeon pun meletekan 1 jari telunjuk dimulutnya tanda jika ia tak ingin Hanna memberitahu Jeno kalau sedari tadi dirinya ada disana.


Hanna pun hanya bisa menghela nafasnya selagi memandang penuh simpati pada gadis malang yang tengah bersembunyi itu.


***


Lebih tepatnya disuatu ruangan yang tampak gelap gulita tak ada sedikitpun cahaya yang menerangi tempat tersebut. Iya sebuah tempat yang tepat kala Nayeon ingin menumpahkan tangisan kepedihannya setelah dicampakkan untuk yang kesekian kalinya oleh kekasihnya.


Sementara itu didepan Istana hantu, terlihat ke empatnya tengah terdiam sejenak seolah tengah mempertimbangkan sesuatu dalam benaknya. Terlebih lagi melihat Abi yang kini menggigit bibir bagian bawahnya dan terus saja berada dibelakang tubuh Rihanna sedari tadi, kuat dugaan jika Abi enggan sekali masuk ke dalam Istana hantu tersebut.


“ayoo tunggu apa lagi!” seru Rihanna seraya melirik ketiga temannya yang tengah memperhatikan sekitar bangunan menyeramkan tersebut.


“aku akan menunggu dipintu belakang, kalau-kalau Nayeon sudah keluar nanti.” Celetuk Ansell mantap yang kemudian menarik langkah hendak berjalan ke samping bangunan.


“Iya saya juga akan menjaga dipintu belakang bersama dengan pak Ansell. Sebaiknya nona Ahreum dan nona Hanna berhati-hati didalam.” Pamit Abi yang berlari kecil menyusul langkah atasannya.


Namun tentu saja Rihann tak membiarkan hal tersebu terjadi. Ia pun berlari menyusul keduanya dan langsung menarik paksa kerah baju keduanya dengan sekuat tenaga. Kemudian membawanya ke pintu utama gedung.


“yak!! Apa kalian yakin seorang pria?! Bagaimana mungkin kalian meninggalkan kita begitu saja dan hanya menunggu dibelakang!! Aughhhh!! Aku tak percaya bisa bertemu dengan lelaki penakut seperti kalian.” Geramnya seraya memposisikan keduanya tepat didepan pintu masuk.


Sementara itu Ahreum yang berada dipaling belakang hanya bisa menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah laku kedua lelaki penakut tersebut.


“ayo buka pintunya, tunggu apa lagi.” Seru Hanna yang berdiri dibelakang mereka berdua.

__ADS_1


“kau pimpin jalan.” Perintah Ansell pada Abi seraya menyikut lengan Abi.


Karena saking gugupnya Abi sampai berkeringat dingin dan menelan ludahnya sejenak sebelum akhirnya mencoba memberanikan diri mendorong handle pintu tersebut.


Namun tak diduga dari belakang muncul gerombolan anak remaja yang hendak memasuki Istana hantu tersebut yang membuat ke empatnya pun kini terdorong masuk ke dalam Istana tanpa persiapan yang benar-benar matang.


“hhahha!! Eh ayo kita taruhan, siapa yang terakhir keluar nanti dia yang traktir kita makan-makan.” Sahut salah satu remaja dalam gerombolan yang berisikan 5 orang remaja itu.


“boleh juga tuh hahaa!! Ingat ya jangan sampai ada yang ngompol loh, katanya hantu disini sangat seram hihihihii!” godanya lengkap dengan tawa cekikikan yang mirip sekali seperti suara kuntilanak.


Sehingga membuat kedua pria dewasa yang tengah berdiam diri dipojokan pun merasa semakin tertekan hingga lagi-lagi menelan ludahnya.


Meski merasa takut setengah mati namun tetap saja Ansell berusaha mungkin untuk menjaga gengsinya dan mencoba cool didepan istrinya.


“ayo jalan.” Ajak Hanna seraya menggaet lengan Abi sementara Ansell diserahkan kepada Ahreum dibelakangnya.


“selagi tidak ada zombie kurasa aku akan baik-baik saja.” Hanna bergumam seraya mengeratkan tautannya ke tangan Abi yang juga sebenarnya ketakutan.


“jadi kau tidak takut hantu?” tanya Abi yang mencoba keluar dari rasa takutnya dengan memulai percakapan selagi mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari sosok gadis yang tengah bersembunyi.


“eeyyy, mana ada hantu didunia ini. Aku gak percaya yang begituan. Dan disinipun hanya ada manusia yang menyamar untuk menakut-nakuti. Jadi kak Abi tak perlu khawatir, ingat saja mereka juga 1 species dengan kita.”


“species?! Yak! kau kira jaman pithecanthropus erectus pakai species segala.” Sahut Ansell yang berada dibelakangnya.


“sssttt.. aku seperti mendengar suara tangisan.” Timbrung Ahreum seraya mendekatkan 1 jarinya ke mulut.


Sehingga membuat ketiganya pun kini mengarahkan tatapan lekatnya pada Ahreum yang tengah mencoba menangkap suara-suara samar yang berada disekitarnya.


“eeyyy, jangan jahil Ahreum, kau tak lihat, 2 lelaki ini sangat penakut.” Sahut Hanna.


“tidak.. tidak.. aku benar-benar mendengarnya.” Kata Ahreum dengan raut wajah seriusnya yang kemudian menengokan perlahan wajahanya ke arah sumber suara tersebut yang berasal dari lorong sisi kanan tubuhnya.


“hhihihihihihihi!!!!” tawa menyeramkan itu pun semakin nyaring seiring dengan kemunculannya yang tiba-tiba dari lorong gelap tersebut hingga membuat ke empatnya pun terkejut bukan main.


“AAAAaaaaaaaaaaaa..” teriak mereka serempak kemudian lari terbirit-birit dengan pasangan masing-masing ke arah yang berbeda.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2