Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 220


__ADS_3

Terlihat Ansell dan Ahreum yang tengah menuruni tangga beriringan sembari berpegangan tangan layaknya 2 sejoli yang tengah dimabuk asmara.


Sementara kedua orang tuanya sudah berada diarea makan keluarga dan menempati kursinya masing-masing beberapa menit yang lalu.


“Syukurlah akhirnya mereka berdua bisa saling menyukai.” Andrew bergumam seraya memperhatikan langkah putra dan menantunya yang tengah berjalan menuju area makan keluarga.


“he’em..


Meski kurasa tidak mudah bersama dengan pria angkuh dan arogan seperti putramu. Tapi Ahreum sudah berusaha dengan keras meruntuhkan dinding pertahanannya.” celoteh istrinya sembari mengoleskan selai ke atas roti.


“putramu?!


Dia juga putramu Carrisa, kau yang melahirkannya.” Ketus Andrew kesal lantaran hal jelek selalu berasal dari dirinya sedang yang baik-baik istrinyalah yang mewariskannya.


“ciihh! Gitu saja sensi.” Cibir Carrisa lengkap dengan tatapan julidnya.


“Pagi mah pah.” Sapa Ahreum sebelum menarik kursinya kemudian duduk disamping suaminya.


Sedang Ansell hanya langsung duduk tanpa ada sapaan terhadap orang tuanya yang sudah menunggu kehadiran mereka sedari tadi.


“Pagi juga sayang.” Balas Carrisa lengkap dengan senyum bahagianya, sementara Andrew hanya membalasnya dengan senyum hangat dan kembali menatap raut wajah putranya yang tampak mengesalkan baginya.


Melihat Ansell yang hanya ingin langsung menyantap sarapan paginya, Ahreum pun lantas menyikut tangannya memberi tanda jika setidaknya ia mesti menunjukan rasa sopannya pada kedua orang tuanya kini yang tengah memandanginya.


Meski tampak malas ia pun akhirnya membuka suara. “pagi.” ucap Ansell seadanya yang kemudian kembali beralih pada sarapannya.


“hmm..” Andrew hanya bisa menghela nafas kasar dan menggeleng kepalanya mendapat perlakukan kasar dari putra semata wayangnya itu.


“hhehee.. Maaf ya mah pah, sepertinya Ansell sedang sariawan jadi ga bisa banyak bicara.” celetuk Ahreum yang mencoba mencairkan suasana diantara keluarga kecilnya.


“Iya gak apa-apa sayang, sudah biasa. Ayoo kita mulai sarapannya, apa yang ingin kau makan sayang?


Mau sandwich, atau nasi?” tanya Carrisa penuh antuasias ingin melayani menantu kesayangannya.


“ammm.. kalau semua nya boleh?


Aku mau makan nasi dulu habis itu sandwich.” Sahut Ahreum yang tak kalah semangatnya.


Namun tentu saja hal itu malah mengundang banyak pasang mata yang kini menatapnya dengan tatapan aneh, tidak percaya jika gadis sekurus itu bisa makan sebanyak itu.


“tidak boleh, pilih salah satu aja.


Nanti perutmu sakit, jika terlalu banyak makan.” Tegas Ansell seraya melirik sesaat ke arah istrinya.


“aargghhhh.. Aku ingin semuanya, karena semuanya tampak lezat aku ga bisa milih salah satu. Ansellll..” bujuk Ahreum lengkap dengan rengekan manja yang membuat kedua orang tuanya terkekeh gemas melihat tingkah laku manis menantunya.


“tidak boleh..”


“aarggghhhh.. argghhhhh.. sayanggg.. hanya kali ini aja oke. Aku akan mengurangi makan siangku deh ya.. ya..” rengek Ahreum lagi yang tetap konsisten pada rencananya.


"ya bukan begitu juga konsepnya Ahreum!" tegas Ansell yang juga tak mau mengalah.


“sudahlah berikan aja apa yang Ahreum inginkan, lagipula kita tidak kekurangan makanan. Kenapa harus membatasinya.” Timbrung Andrew yang berpihak pada menantu perempuannya itu, sontak saja hal itu langsung membuat Ahreum tersenyum lebar karena merasa dibela.


“tidak boleh! Ya tidak boleh!” tegas Ansell lagi lengkap dengan tatapan tajamnya yang ia arahkan pada istri mungilnya itu, hingga membuat suasana pun kembali dipenuhi kepulan kabut hitam mencekam.


“Iyaa deh.” patuh Ahreum yang kemudian memulai sarapannya dengan nasi dan beberapa lauk pauk.


“kau ini, tega sekali Ansell. Bagaimana kau bisa memperlakukan istrimu seperti itu!” protes Carrisa ditengah menikmati sarapan paginya, ia pun angkat suara kala melihat wajah Ahreum yang merenggut setelah dilarang makan banyak oleh suaminya.

__ADS_1


“Aku melakukan itu untuk dirinya sendiri. Nafsu makannya banyak tetapi perutnya tidak memadai, dan selalu berakhir sakit perut.” Sahut Ansell seakan sudah sangat mengenal istri mungilnya itu membuat kedua orang tuanya pun berhenti protes dan hanya menatap Ahreum iba.


Setelah sarapan pagi berakhir.


Ansell sudah lebih dulu meninggalkan ruang makan keluarga begitu selesai tanpa menunggu semuanya menyelesaikan sarapan paginya.


Begitupun kedua orang tuanya yang kini sudah meninggalkan area makan keluarga, mereka berdua pergi bersamaan menuju 1 ruangan yang diyakini adalah ruangan kerja Andrew.


Sementara itu Ahreum malah ikut membereskan alat makan bersama dengan para pelayan.


“Aduuhh jangan nona, nanti kalau ketahuan nyonya dan tuan besar, saya juga yang kena.” Kata salah satu pelayan sembari mengambil alih beberapa piring kotor yang dibawa oleh Ahreum.


“hmmm.. baiklah.” Ucap Ahreum pasrah namun masih tetap mengikuti para pelayan menuju area dapur.


“ada apa nona, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya lagi karena merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik Ahreum.


“ahh engga.. hehehe.” Respon Ahreum dengan senyum yang tampak sekali dipaksakan sembari melirik ke arah beberapa sandwich yang dibawa oleh salah satu pelayan dari ruang makan keluarga.


“nona mau sandwich?” tebaknya seraya melirik ke arah sandwich yang dibawa oleh rekan pelayannya yang lain.


Ahreum pun mengangguk antusias lengkap dengan senyum merekahnya.


“baik, tapi 1 aja ya. Karena tuan muda tadi sudah melarang nona makan banyak kan.” katanya lagi seraya mencoba mengambil alih piring yang dibawa oleh rekannya kemudian disodorkannya pada Ahreum agar gadis cantik itu bisa memilih sendiri varian sandwich yang diinginkannya.


“hehheee. Makasih ya. Kakak cantik deh.” puji Ahreum usai mengambil sandwichnya ia pun pergi dengan raut wajah bahagianya meninggalkan area dapur.


Mendengar pujian tersebut lantas sang pelayan pun merasa melambung tinggi sampai tak sadar sudah menyunggingkan senyum pada gadis yang kini telah menghilang dari pandangannya.


Sampai rekannya menyikut untuk menyadarkan lamunannya.


“yak, jika ketahuan kau yang memberi nona Ahreum sandwich kau akan dimarahi tahu oleh tuan muda. Kau ini berani sekali.” celetuk rekannya panggil saja si C.


…..


“dimana istriku?” tanya Ansell pada salah satu pelayan yang berseliweran dihadapannya, dengan pandangan yang sibuk menyapu area sekitar seraya menuruni tangga.


“nona Ahreum,


Saya melihat nona ke dapur tadi tuan.” Katanya seraya membungkukan tubuhnya karena tak berani menatap langsung wajah putra majikannya.


“ada apa Ansell?” tanya mamanya yang tengah berjalan beriringan dengan suaminya disamping anak tangga.


“tidak.” Respon Ansell dingin yang kemudian berjalan melewati kedua orang tuanya menuju dapur.


“hmm.. anak itu semakin hari semakin diluar batas. Kurasa kita perlu memberitahu kebenarannya.” Gumam Andrew kala melihat putranya itu melongos pergi begitu saja melewati dirinya.


“yak! Ahreum!


Siapa yang memberimu sandwich?!” pekik Ansell kala melihat Ahreum muncul dari area dapur dengan kedua pipi yang terisi penuh sandwich.


Karena takut Ansell akan merebut sisa sandwich yang masih berada digenggamannya, ia pun lantas berlari sekuat tenaga menuju area pekarangan belakang.


Tak ingin membiarkannya begitu saja Ansell pun langsung mengejarnya, sehingga terjadilah aksi kejar-kejaran dipagi hari antara sepasang suami istri muda tersebut yang membuat para pelayan dan kedua orang tua Ansell terkekeh seraya menggeleng kepalanya.


Sungguh pemandangan yang langka sekali bisa melihat Ansell bermain kejar-kejaran layaknya bocah yang tengah memperebutkan sebuah mainan.


Meski tampak kesal lantaran sikap keras kepala istri mungilnya itu, namun tak bisa dipungkiri dirinya kini merasa terhibur dengan tingkah random Ahreum hingga membuatnya sesekali tertawa kecil dalam pengejarannya untuk menangkap Ahreum yang masih tetap berusaha menghabiskan 1 potong sandwich.


“yak! Awas aja kalau tertangkap, aku tak akan mengampunimu Ahreum!” ancam Ansell yang kewalahan, karana Ahreum terus saja berlindung dibalik meja bundar yang membuat Ansell kesulitan menjangkaunya.

__ADS_1


“uuhhuukk.. uhhuukkk..” begitu Ahreum melahap suapan terakhirnya, mendadak Ahreum terbatuk dan memukul-mukul dadanya sebab merasa ada yang menghambat aliran pernafasannya.


“PELAYAN!!!” panggil Ansell selantang mungkin sampai urat-urat lehernya nampak.


Ia pun bergegas berlari menghampiri Ahreum yang kini tengah berjongkok sembari masih memukul-mukul dadanya.


“Iyaaa tuan muda!”


“Ambilkan minum!!” perintah Ansell seraya mencoba mengusap punggung Ahreum pelan untuk membuatnya lebih baik.


“baik tuan!!” serunya yang kemudian kembali berlari ke dalam untuk membawakan air mineral yang diperintahkan Ansell.



“Kenapa mesti lari-lari segala sih!” amuk Ansell yang masih menepuk punggung Ahreum.


“Karena.. kau.. yang mengejarku!! Uuhukkk!!” balas Ahreum ditengah air matanya yang mulai berlinang lantaran rasa sesak yang semakin menyiksanya.


“Oke.. oke.. maafkan aku.”


“Ini tuan minumnya.” Ucap sang pelayan yang lalu memberikan 1 gelas penuh pada Ansell.


“lama sekali sih!” ketus Ansell seraya mengambil gelas dan meminumkannya pada Ahreum.


“Iya maaf tuan.” Respon sang pelayan seraya membungkuk selagi menunggu perintah Ansell selanjutnya, kalau-kalau majikannya itu butuh sesuatu lagi.


Sementara Ahreum tengah menikmati segarnya air yang mengaliri kerongkongannya membuat makanannya kini bisa tercerna dengan baik.


“huuuuufftt.. Kenapa kau memarahinya, aku yang salah kok.” Bela Ahreum yang kemudian mengembalikan gelas yang sudah kosong pada pelayan tersebut.


“kau bisa berdiri?” tanya Ansell khawatir seraya mencoba membantu Ahreum bangkit.


“tidak.. sepertinya kakiku kram..” rengek Ahreum seraya memasang raut manjanya yang berhasil membuat hati Ansell lagi-lagi meleleh.


“hmmm..”


Ansell menggeleng kepala sejenak, kemudian merendahkan tubuhnya dan memasukan kedua tangannya diantara ketiak Ahreum, dan diangkatnya tubuh mungil Ahreum ke dalam pangkuannya.


“makasih ya kak minumnya.” Seru Ahreum kala ia pergi lebih dulu meninggalkan sang pelayan dibelakang.


***


“kau tau kan kenapa aku melarangmu untuk tidak makan banyak, Ahreum.” ujar Ansell dalam perjalanannya masuk ke dalam.



“aku akan mengeluh sakit perut.” Respon Ahreum lirih.


“lantas kenapa kau masih memaksakannya?” balas Ansell lagi.


“karena aku suka sandwich, dan juga..” seru Ahreum seraya menarik tubuhnya dan mencoba menatap wajah suaminya.


“apa?” tanya Ansell dingin.



“kau.. hahahaa!! Muach.” Sambungnya lagi lengkap dengan tawa bahagia yang membahana memeriahkan suasana hening kala itu.


“ciihh..” dengus Ansell yang sebisa mungkin menahan tawa bahagianya dengan bersikap sok cool, agar terlihat keren oleh istrinya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2