Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 37


__ADS_3

Keesokan harinya.


Masih dikediaman keluarga Baghaskara dan lebih tepatnya dikamar Ahreum nathania.


“kau sudah bangun?” sapa Ahreum yang terlihat sudah rapi mengenakan setelan casual seperti biasanya, kaos putih oversize dan juga rok pendek berbahan jins warna biru muda. Ia tengah menggenggam sebuah gelas berisikan air mineral dan berjalan perlahan menghampiri sisi ranjang.


“apa rencanamu hari ini?” lanjut Ahreum seraya meneguk beberapa kali air mineralnya dan melirik ke arah karibnya yang masih enggan untuk membukakan matanya lebar-lebar.


“hmm.. aku hanya akan pergi menemui ibuku.” Gumamnya seraya menarik selimutnya kembali dan menggesek-gesekan kepalanya dibantal untuk menemukan posisi ternyamannya.


“akhirnya, setelah bertahun-tahun kau menghilang begitu saja, kini tiba-tiba kau ingin menemui ibumu, kau ingin berubah menjadi anak berbakti ya!” celetuknya yang kembali meneguk minumannya sampai habis kemudian pergi berlalu setalah melakukan percakapan singkat di pagi hari dengan karibnya tersebut.


“yak! Ku beri tahu ya.” Ahreum menghentikan langkahnya saat ia sampai diambang pintu seolah ada hal yang masih mengganjal dan belum tersampaikan pada karibnya tersebut.


“ibumu juga korban dari semua hal yang kau alami Hanna, tak seharusnya kau membenci ibumu seperti ini, atau kau akan menyeselinya.” Tambah Ahreum sebelum benar-benar pergi meninggalkan Hanna yang masih berpura-pura tidur.


“aku juga tak ingin membencinya, mamiku yang malang, tapi jika kau tahu apa yang dilakukan mami saat itu, mungkin kau juga akan sangat membencinya.” Gumam Hanna bersamaan dengan bunyi pintu yang tertutup.


***


Diruang makan.


Tampak keluarga kecil Baghaskara telah berkumpul dimeja makan, selagi beberapa ART nya menyiapkan makanan diatas meja secara bergantian.


“terimakasih ya bi.” Ucap Enzy saat ART nya meletakan 1 per satu berbagai hidangan diatas meja.


Sementara itu Ahreum masih tampak sibuk dengan ponsel yang berada dalam genggamannya sejenak sebelum sarapan paginya benar-benar dimulai.


“bagaimana dengan Rihanna, kau tak membangunkannya?” tanya sang ayah seraya menunggu piringnya diisikan nasi dan lauk pauk oleh sang istri tercinta.

__ADS_1


“dia sudah bangun kok, mungkin sebentar lagi dia akan turun.” Sahut Ahreum yang kemudian menaruh ponselnya di dekat gelas, sebab semua makanan telah tersaji dimeja, kini waktunya ia memulai sarapan pagi bersama keluarga kecilnya.


“aku bisa ambil sendiri kok bu.” Ucap Ahreum kala Enzy hendak beralih mengambil piring milik putrinya tersebut, namun lengan Ahreum dengan sigap menahannya.


“oke.” Sahut ibunya lengkap dengan senyum ramahnya, ia pun beralih pada piring miliknya, begitu selesai putrinya mengambil nasi serta lauk pauknya, barulah Enzy yang mulai mengisi piring miliknya.


“ahh iya, apa ga sebaiknya kita membawa Rihanna ke rumah sakit yah, kurasa Rihanna butuh perawatan yang lebih intensif.” Saran Enzy ditengah sarapan berlangsung, membuat Ahreum juga Seno menghentikan sejenak aktifitas makannya dan berfikir tentang saran yang diajukan Enzy.


“akan ku bicarakan nanti dengannya.” Respon Ahreum.


“oke, kalau kau terlalu sibuk, ibu nanti yang akan menemaninya ke rumah sakit.” Ucap ibunya lagi yang mengajukan diri untuk merawat karib dari putrinya tersebut.


“tidak, sebaiknya ibu dirumah saja, ibu tidak boleh terlalu lelah, biar aku saja yang meemaninya.”


“iya benar apa yang dikatakan Ahreum, kau tidak boleh terlalu lelah mah, kau tak ingat terkahir kali kau kelelahan?


Kau sampai dirawat berhari-hari dirumah sakit.” Timpal sang suami seraya memandangi wajah istrinya tersebut.


Melihat hal itu Ahreum hanya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum tipis.


***


Aparteman Bougenville.


Tempat dimana Ansell bermalam kemarin, masih dengan piyama tidurnya ia berjalan menuju dapur seraya mengarahkan pandangannya pada lemari pendingin. Begitu menarik pegangan lemari pendingin tersebut ia pun mengeluarkan 1 botol air mineral untuk mengaliri kerongkongannya yang terasa mongering setelah tertidur cukup lama.


Tiba-tiba saja ia tertawa renyah kala ingatan malam kemarin kembali muncul, serta wajah mungil Ahreum seolah berputar-putar didepan matanya. Meski ia merasa kesal namun gemas juga secara bersamaan, perasaan yang bercampur aduk tersebutlah yang membuat dirinya tertawa sendiri saat ini seperti layaknya orang yang tengah jatuh cinta tanpa disadari.


Dan ketika ia tersadar, ia pun langsung menampar pipinya cukup keras untuk membuatnya kembali waras.

__ADS_1


“astaga, sepertinya aku sudah gila.” Ocehnya seraya menutup lemari pendingin kemudian menaruh botol air mineral yang tinggal setengah di meja makan, ia pun langsung bergegas kembali ke kamarnya.


***


“Hanna!” panggil Ahreum seraya mendorong pintu kamarnya, dilihatnya Rihanna tengah terduduk di depan meja rias seraya mengikat rambut panjangnya.


“apa?” sahut Rihanna begitu menyelesaikan ikatan terakhir dirambutnya kemudian menoleh ke arah Ahreum yang masih berdiri diambang pintu.


“amm, sebelum kau menemui ibumu, kau yakin tak mau pergi ke rumah sakit dulu untuk mengecek kondisimu?” ucap Ahreum kemudian berjalan menghampiri karibnya tersebut lalu berhenti tepat disamping kursi yang tengah diduduki Hanna.


“tidak perlu, aku baik-baik saja, lelaki brengsek itu hanya membuat sedikit luka diwajahku, tidak perlu sampai ke rumah sakit segala.” Sahutnya seraya mendekatkan bagian samping wajahnya yang terluka ke cermin untuk mengecek seberapa parah luka yang dimilikinya.


“kau yakin? Kau tak perlu perawatan secara psikis atau semacamnya gitu?” lanjut Ahreum yang masih khawatir pada kondisi karibnya seraya melipat kedua lengan diatas dadanya.


“tidak, aku baik-baik saja, oke. Berhenti mengkhawatirkan yang tidak perlu, ahh iya, sampaikan terimakasihku untuk asisten calon suamimu itu ya. Kalau bukan karena dia mungkin aku sudah, keeuttt!!” Celetuknya seraya menunjukan gerakan tangan yang hendak memotong lehernya.


“hmm, mau ku temani?” tawar Ahreum seraya melangkahkan kakinya melewati Hanna kemudian duduk ditepi ranjang masih dengan tatapan yang mengarah ke cermin yang memantulkan wajah karibnya tersebut.


“kemana?” tanya Hanna lengkap dengan kerutan dikeningnya ia pun menoleh ke belakang.


“menemui ibumu, kemana lagi memangnya.” Sahut Ahreum sedikit ngegas.


“tidak perlu, bukannya kau mau menjemput Nayeon dirumah sakit, hari ini dia sudah bisa pulang kan. Lagian ada-ada aja kelakuannya, sampai nabrakin diri segala ke tiang huhh, apa dia sudah gila.” Ocehnya seraya kembali pada posisinya diawal, lalu mengambil salah satu lip tint milik Ahreum dan mengaplikasikannya pada bibirnya.


“jangan begitu, kau pun sama gilanya dengan Nayeon, tau!” ketus Ahreum kemudian pergi berlalu meninggalkan karibnya yang masih asyik mengoles lip tint dibibirnya yang cukup tebal.


“ciihhh!!” sontak Hanna pun mendengus kesal seraya memandangi kepergian Ahreum dengan kedua sorot mata sinisnya lewat pantulan cermin dihadapannya.


“dia bahkan tidak menyadari, jika dirinya lebih gila lagi.” Gumam Hanna kala Ahreum sudah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


***


__ADS_2