
Kantor KT Group, lebih tepatnya kini berada diruang meeting, sementara sorang karyawan tengah mempresentasikan pekerjaannya, Abi yang duduk dikursi paling belakang selain memperhatikan layar besar didepan, sesekali kedua matanya melirik kearah layar tablet yang tengah menampilkan titik GPS keberadaan istri atasannya tersebut.
Keningnya mengerut kala titik tersebut terus berjalan ke area yang tak asing baginya, iya kompleks elit yang berada tidak jauh dari lokasi kampus Royal collage. Fikiran negativenya pun mulai melayang membuat dirinya tampak gusar dan tidak fokus lagi memperhatikan presentasi didepan.
***
Beberapa waktu lalu, dibaseman aparteman Bougenville.
Flashback ke hari dimana Abi memergoki Elios tengah memeluk Ahreum.
“aku sadar sekali akan posisiku, mas Elios, tapi kurasa aku tak memiliki pilihan lain, aku hanya tak ingin Ansell kembali terluka seperti sebelumnya.” Ucap Abi yang akhirnya mengangkat wajahnya dan memberanikan diri untuk menatap langsung kedua mata Elios yang juga tengah menatapnya.
“apa maksudmu, Abi?” tanya Elios yang masih belum mengerti arah pembicaraan Abi.
“tolong jauhi nona Ahreum..” tegasnya.
Elios pun terkekeh “Abi.. sampai kapan kau akan terus memihak Ansell? Kau sangat tahu apa yang dilakukan Ansell terkadang tidak selalu benar, seharusnya kau bisa menghentikannya, bukan malah terus mendukung apapun yang dia lakukan meskipun itu salah!
Dan tentang Ahreum, karena kau sudah melihatnya saya akan jujur padamu, saya sudah menyukainya, sebelum saya tahu Ahreum adalah gadis yang dijodohkan oleh paman Andrew. Saya bertemu dengannya dirumah sakit beberapa hari sebelum pernikahannya.
Lagipula bukannya Ansell tidak menyukai Ahreum, dia hanya terpaksa menikahi Ahreum karena memang Ilona sudah tiada.
Apa kau fikir hanya Ansell yang memiliki perasaan disini?
Saya paham, kau seperti ini karena kau adalah teman dekat Ansell, tapi Abi.. tidak adil rasanya jika kau hanya melihat kearah Ansell saja, lantas bagaimana dengan saya? Dan Ahreum?”
***
“kenapa kisah cinta mereka begitu rumit.” Abi membatin seraya terus menatap layar tabletnya.
***
__ADS_1
Dikediaman Elios gavriel, lebih tepatnya kini mereka berdua tengah berada diarea dapur.
“kau mau kemana sampai bawa ransel sebesar itu? mau kabur ya?” tebak Elios yang tengah memotong-motong bahan makanan untuk dimasaknya seraya melirik sesaat ke arah ransel yang dibawa Ahreum sebelumnya yang kini diletakan diatas sofa ruang tamu.
“ahh itu, kabur? Hahaha! Yang benar saja, memangnya aku anak ABG yang suka kabur-kaburan.” Sahut Ahreum yang tengah berdiri disamping Elios sembari memperhatikan aktivitas memotong Elios.
“setelah kelas siang nanti, aku ada acara kemping dengan teman-teman kampusku, semacam refreshing sebelum menghadapi UTS minggu depan. Hehehee.” Tambahnya lagi seraya menampilkan deretan giginya yang rapih dan bersih.
“bukannya fokus belajar, kok malah bersenang-senang dulu.” Komen Elios yang sesekali melirik kearah Ahreum.
“entahlah, itu sudah menjadi tradisi dari tahun ke tahun di jurusanku, tapi ku akui hal itu memang sedikit membantu, setidaknya otakku bisa istirahat sejenak, sembari menghirup udara segar dimalam hari, biasanya ada beragam acara juga yang sudah dipersiapkan oleh panitia. Seperti acara stand up comedy gitu, terus ada yang nyanyi dan berdoa bersama untuk kelancaran UTS nanti.” Ceritanya penuh antusias.
“hmmm.. wangiiii..” ucap Ahreum seraya menghirup aroma wangi dari kaldu yang dibuat oleh Elios.
Elios pun tersenyum manis kearah Ahreum untuk sesaat sebelum kembali terfokus pada masakannya.
“selagi menunggu ayamnya matang, kita olesi salep dulu diwajah memarmu itu, ayo.” Kata Elios sembari mengecilkan kompor gas kemudian menarik lengan Ahreum menuju ruang tamu.
“dokter Elios ga kesepian memangnya, setiap akhir pekan sendirian dirumah sebesar ini, memangnya kenapa para ART harus libur juga diakhir pekan?” tanya Ahreum seraya mendudukan bokongnya diatas sofa, sementara Elios pergi ke arah kamarnya untuk mengambil kotak P3K.
“mereka juga butuh liburan, lagipula rumah tidak akan berantakan kan selagi ditinggal hanya 2 hari.” Sahut Elios ditengah perjalanannya menuju kamar besarnya.
“selagi Xena liburan bersama dengan kakek neneknya, dan para ART pergi, apa yang dokter lakukan dirumah sebesar ini sendirian?” tanya Ahreum kembali saat Elios muncul dari balik pintu kamarnya dengan membawa kotak P3K dalam genggamannya.
“amm.. setelah pulang dari rumah sakit paling aku biasanya tidur karena sudah pasti lelah seharian bekerja, kalau kebetulan aku libur juga, ya aku biasanya membaca buku, atau bersih-bersih kamarku dan kamar Xena.” Papar Elios seraya mendudukan bokongnya diatas sofa tepat dihadapan Ahreum, kemudian meletakan kotak P3K disampingnya dan membukanya untuk mengambil salep yang bisa meredakan memar diwajah mungil Ahreum.
__ADS_1
Mendengar jawaban Elios tersebut Ahreum hanya mengangguk-anggukan kepalanya seraya menunggu Elios mengoleskan salep ke wajahnya.
“sebaiknya kau jujur padaku, bagaimana kau bisa mendapatkan luka memar ini? apa kau ditampar seseorang?” Elios kembali bertanya mengenai luka memar diwajah Ahreum, karena semakin dilihatnya, dirinya semakin penasaran sebenarnya apa yang terjadi pada gadis mungil tersebut.
“amm.. sebenarnya aku berkelahi dengan temanku hehee.” Dusta Ahreum dengan diiringi tawa renyahnya yang membuat Elios menghela nafasnya ditengah aktivitas mengolesi salep diwajah Ahreum.
“kau yakin benar-benar berkelahi? Bukan dirimu yang dibully oleh temanmu itu, siapa memangnya yang berani melukaimu sampai seperti ini, katakan padaku!” tegas Elios seraya menutup kembali salep tersebut kemudian mengembalikannya ke tempat semula.
“kalau ku katakan memangnya dokter mau apa? mau melabraknya? Hahaha!!” sahut Ahreum seraya mengambil bantal kursi yang berada dibelakangnya kemudian memeluknya dengan pandangan yang masih mengarah ke wajah tampan Elios.
“bukan begitu, aku hanya akan menasehatinya sedikit.” Ucap Elios lengkap dengan senyum merekahnya.
“hahahaa, ahh iya, btw, dokter pernah kemping ga?” tanya Ahreum sehingga percakapan mereka berdua pun semakin berkembang.
“pernah, waktu SMA dulu, aku masuk club pecinta alam, tapi hanya 1 bulan sih karena kedua orang tuaku melarangnya, mereka ga mengijinkanku untuk hidup dialam bebas seperti itu. karena dulu banyak sekali kasus yang memberitakan siswa pencinta alam menghilang atau meninggal terbawa arus sungai, ya semacam itulah bahkan ada cerita-cerita mistis juga.” Cerita Elios panjang lebar sementara itu Ahreum hanya mengangguk-angguk menanggapinya.
“ahh iya, temanku juga pernah hampir menghilang dulu, sampai kita semua sibuk mencarinya seharian.” timpal Ahreum.
“lalu?” sahut Elios seraya menunjukan raut wajah seriusnya.
“iya, pada saat kita hampir menyerah dan berniat untuk menghubungi bala bantuan dan kedua orang tuanya, ehh, dia datang dong dari arah sungai, sambil mengucek-ucekan matanya kayak orang baru bangun tidur gitu, taunya dia ketiduran ditepi sungai coba, dia bilang airnya adem ngebuat dia jadi ngantuk. Augghhh!! Kesel banget kan.” Geram Ahreum lengkap dengan raut wajah julidnya yang mendukung pergibahannya.
“hahahaa, kok bisa tiduran ditepi sungai gitu, ada-ada aja.” Komen Elios lengkap dengan tawa renyahnya.
“terus yaa…”
Belum sempat Ahreum melanjutkan kalimatnya, Elios keburu mengarahkan pandangannya ke area dapur. “ayamnya udah matang, makan dulu yu nanti dilanjut lagi ceritanya.” Ajak Elios seraya bangkit dari sofa kemudian menarik lembut lengan Ahreum dan berjalan menuju dapur.
Bersambung…
__ADS_1
***