
Di tempat berbeda, yaitu di dalam mobil yang dikendarai oleh Elios gavriel, setelah sebelumnya mengalami kejadian yang begitu menegangkan, akhirnya Elios pun memutuskan untuk mengantarkan gadis yang hampir tertabrak mobil tersebut dengan sedikit paksaan.
Sebab pada awalnya Ahreum masih bersikeras untuk pulang sendiri bahkan setelah insiden tersebut terjadi. Tak membuat dirinya berubah fikiran untuk meminta Elios mengantakannya pulang.
Sebelumnya…
Saat Ahreum masih terdiam diposisinya dengan kedua mata yang membulat, dengan cepat lengan panjang Elios menarik tubuh Ahreum ke dalam dekapannya hingga membuat gerakan memutar untuk menjauhi area berbahaya tersebut.
Detak jantung Ahreum pun semakin berdegup tak karuan, kala wajahnya tampak sangat dekat dengan wajah Elios yang terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya.
Tak sampai disitu, masih dengan nafas yang tak beraturan pria kekar yang sedari tadi hanya menatap lekat gadis mungil dihadapannya tersebut pun kini tiba-tiba saja beralih memeluknya erat.
“apa ini? kenapa aku merasa seperti orang yang sedang jatuh cinta, tidak, ini tidak benar.” Ahreum membatin kemudian mencoba melepas pelukan erat Elios lengkap dengan raut wajah canggungnya, ia kini bahkan tak berani untuk menatap langsung kedua mata Elios.
“aku baik-baik saja ko, terimakasih ya sudah menyelamatkanku.” Ucap Ahreum seraya mengambil 1 langkah ke belakang untuk membuat jarak diantara keduanya.
“aku akan mengantarkanmu pulang.” Tegas Elios seraya menarik lengan Ahreum untuk ikut berjalan bersamanya menuju keberadaan mobilnya yang terparkir di depan resto.
“tidak perlu dokter Elios, aku bisa pulang sendiri, kali ini aku akan lebih berhati-hati, sekali lagi terimakasih ya.” Ucap Ahreum seraya menarik lengannya dari genggaman tangan Elios.
“kenapa kau keras kepala sekali sih!! aku akan mengantarkanmu pulang Ahreum, jika tidak mau naik mobilku, baik! Aku akan ikut denganmu naik bis.” Kekehnya dengan nada suaranya yang meninggi juga tatapan mata tajamnya yang membuat Ahreum kembali merasa tidak nyaman.
“ahh.. kenapa..” respon Ahreum dengan terbata-bata.
“kau ingin naik mobilku atau aku yang akan ikut denganmu naik bis?” potong Elios yang hampir kehilangan kesabaran karena sikap keras kepala Ahreum yang membuatnya tak memiliki pilihan lain selain bersikap tegas pada gadis tersebut.
“oke baiklah, kita naik mobil saja.”
Begitu Ahreum menyelesaikan kalimatnya, Elios pun langsung membalikan badan serta menarik kembali lengan mungil Ahreum, kali ini genggamannya lebih erat dari yang sebelumnya, sampai Ahreum pun hanya bisa pasrah dan tidak berniat untuk berontak kembali.
__ADS_1
***
“maafkan aku..” ucap Elios seraya melirik sesaat ke arah gadis yang sedari tadi hanya menatap ke balik jendela mobil, seolah ia merasa kurang nyaman dengan perlakuan Elios yang memaksanya untuk ikut bersamanya, hingga gadis tersebut lebih memilih untuk menghindari wajah Elios sedari tadi.
“aku tak bermaksud memaksamu, aku hanya.. terbawa suasana tadi.” Lanjutnya yang kembali mengarahkan pandangannya pada jalanan didepannya.
Mendengar pengakuan Elios membuat Ahreum perlahan menolehkan wajahnya dan mencoba menatap bagian samping wajah Elios, seolah ia tengah menunggu kelanjutan dari kalimat yang pria itu katakan.
“sebenarnya aku tak ingin membahas hal ini, karena kurasa saat ini masih terlalu awal untuk aku menceritakannya padamu.” Imbuhnya lagi seraya tersenyum tipis ke arah Ahreum yang masih memandanginya.
“semacam masa lalu?” tebak Ahreum.
“amm, sebenarnya aku sudah menikah..” ungkapnya yang membuat Ahreum sontak membulatkan kedua matanya mendengar pengakuan tersebut.
“tapi istriku sudah meninggal 6 tahun yang lalu, saat itu adalah perayaan 1 tahun pernikahan kita jadi kita berdua memutuskan untuk makan malam bersama ditengah kesibukan yang kita jalani, aku menunggunya diseberang jalan, hanya tinggal beberapa langkah lagi ia sampai padaku, namun takdir berkendak lain, tiba-tiba saja ada mobil yang melaju sangat kencang kemudian menabraknya hingga ia pun terlempar jauh dan.. menghembuskan nafas terakhirnya ditempat.”
“itulah yang membuatku tak bisa mengontrol emosiku tadi, karena aku takut hal mengerikan yang pernah ku alami di masa lalu akan terulang kembali, tanpa aku bisa melakukan apapun untuk mengubahnya.
Aku.. benar-benar sangat takut, Ahreum.” Ucapnya dengan nada getir juga bulir air mata yang perlahan menetes membasahi pipi Elios.
Tiba-tiba saja ia merasa sedikit kecewa dalam hatinya saat mendengar jika pria yang berada disampingnya kini sudah menikah, namun dirinya yang lain menepisnya dengan keras, mencoba untuk menyadarkan dirinya yang saat ini hampir melewati batas.
Bagaimana mungkin ia memiliki perasaan pada pria tersebut sedangkan hanya tinggal 1 hari lagi tenggat waktu pernikahannya dengan pria yang sudah dijodohkan kedua orang tuanya.
Tidak boleh, aku tidak boleh begini, aku harus menjauhinya jika tidak, mungkin perasaanku akan goyah’ batin Ahreum seraya menundukan kepalanya sejenak kemudian kembali mengarahkan pandangannya ke balik jendela.
Alih-alih merespon cerita Elios, Ahreum memutuskan untuk kembali terdiam dan menghindari tatapannya seperti sebelumnya. Membuat Elios tampak salah paham dengan sikap yang diberikan oleh gadis tersebut.
Karena Elios fikir jika Ahreum masih merasa kesal dengan perlakuan kasar dirinya sebelumnya. Padahal yang sebenarnya terjadi tidak seperti itu, Ahreum terdiam karena ia mulai merasa ada yang salah dengan perasaannya hingga ia memutuskan untuk berdiam diri dan menghindar dari tatapan Elios yang telah membuatnya jatuh hati.
***
__ADS_1
Sesampainya dikediaman keluarga Seno baghaskara.
Mendengar suara mesin mobil yang berderu dari pekarangan miliknya, Seno sang ayah pun langsung bergegas menarik langkah dari ruangan yang tidak terlalu jauh dari pintu utama.
Begitu ia membuka pintu dilihatnya seorang pria tengah berjalan menuju sisi mobil lainnya untuk membukakan pintu mobil, layaknya seorang lelaki pada umumnya yang ingin memberikan perlakukan khusus pada wanitanya.
Seno pun perlahan berjalan menuju keduanya dengan tatapan menyelidik, sebab baru pertama kali ia melihat pria asing tersebut.
“ayah..” ucap Ahreum saat melihat ayahnya berjalan menghampirinya.
Mendengar kata ayah, Elios pun langsung membalikan tubuhnya dan menyapa Seno lengkap dengan senyum ramahnya.
“malam om, maaf sepertinya sudah terlalu malam saya mengantarkan Ahreum.” Ucap Elios seraya sedikit membungkukan tubuhnya.
“ah iya tidak apa-apa, bahkan Ahreum bisa pulang lebih larut dari ini biasanya, hehe.” Balas Seno yang juga tersenyum lebar pada Elios.
“saya Elios, om.” Lanjut Elios seraya mengulurkan tangannya pada Seno dengan sedikit membungkukan kembali tubuhnya, kemudian dengan senang hati Seno pun menyabut jabatan tangannya lengkap dengan senyum hangatnya, yang bahkan tak pernah sekalipun ia beriknan pada calon menantunya.
“Seno, ayah gadis cantik ini, hehe.” Ucap Seno seraya melirik ke arah gadisnya yang berjalan ke sebelahnya.
“hahaaa, iya benar sekali, sesuai dengan namanya Ahreum.” Sahut Elios yang juga ikut melirik ke arah Ahreum yang tampak sedikit canggung dipuji seperti itu.
“kau mau mampir?” tanya Seno setelah mengkhiri jabat tangannya dengan Elios.
“amm, sepertinya tidak om, sudah terlalu malam, akan lebih baik jika Ahreum langsung beristirahat, saya akan mampir lain waktu.” tolak Elios dengan nada ramah seperti biasanya.
“baiklah kalau begitu.” Sahut Seno seraya merangkul bahu putrinya dan menyunggingkan senyum pada Elios yang hendak pulang.
“saya pamit ya, om, dan Ahreum terimakasih untuk waktunya ya.” Pungkas Elios yang kemudian berjalan menuju kursi kemudi.
Elios pun kembali tersenyum begitu ia menyalakan mesin mobilnya, sebagai tanda perpisahannya di malam ini, lalu memutar stir ke arah lain untuk memulai perjalanannya keluar dari pekarangan kediaman keluarga Baghaskara.
__ADS_1
***
bersambung...