
“dulu.. aku juga selalu mengira jika Jeno menyukaiku, karena perlakuannya padaku yang perduli dan selalu ada disaaat aku membutuhkannya, tapi kau lihat sendirikan bagaiamana akhirnya, dia malah berkencan dengan temanku sendiri, bahkan hal itu terjadi 2 kali. Perlakuan yang seperti itu tidak selalu menjamin seseorang memiliki perasaan lebih padamu.
Jadi sebelum orang itu benar-benar menyatakan perasaannya, lebih baik jangan berfikir berlebihan, itu prinsipku sekarang.” Paparnya lengkap dengan nada lirihnya hingga membuat Hanna yang mendengarnya pun ikut terbawa suasana.
“hmm.. baiklah.” Sahut Hanna yang mengkhiri sesi pembahasan mengenai kisah asmara Ahreum, karena tak ingin semakin membuat Ahreum merasa terluka.
“lalu bagaimana denganmu? Apa hubunganmu berjalan lancar dengan kak Abi.” Giliran Ahreum yang kini mengajukan pertanyaan.
“entahlah, dia orangnya kaku dan sangat sopan sekali, membuat aku canggung jika sedang bersamanya.” Respon Hanna yang diakhiri dengan helaan nafas diakhir.
“yak! seharusnya kau bersyukur karena kau bertemu dengan pria baik seperti kak Abi, lantas kau ingin lelaki seperti apa, hah?!
Type play boy gitu seperti Jeno, atau fucek boy seperti Ansell?!” seru Ahreum seraya memutar tubuhnya agar bisa menatap tajam karibnya yang berada dibelakangnya.
“ga gitu juga konsepnya! Aughh!! Maksudku.. ahh sudahlah ku jelaskan juga kau tak akan mengerti. Kakimu sudah baikan ayo kita mulai lagi!” seru Hanna seraya bangkit dari duduknya kemudian menatap kearah kaki Ahreum yang tadi terkilir.
“masih sih sedikit.” Sahut Ahreum seraya memijiat pelan bagian tumitnya.
“hmm.. ga bisa kalau begitu, kita hubungi kak Abi aja, karena aku tak mungkin sanggup mengangkatnya sendirian sampai lantai 12.” Ucap Hanna seraya merogoh ponselnya didalam tas kecil yang ia selempangkan.
Ahreum pun mencoba bangkit dari duduknya sambil berpegangan pada pagar tangga, sementara menunggu Hanna mencoba menelfon bala bantuan.
“kenapa?” tanya Ahreum kala Hanna mengerutkan dahinya seraya memandangi layar ponselnya berulang kali karena telfonnya masih belum juga tersambung.
“tidak diangkat..” sahut Hanna seraya menggeleng kepala kemudian menatap Ahreum dengan menaikan kedua bahunya.
“mungkin sedang meeting atau mengemudi.” Timpal Ahreum yang mencoba memikirkan kemungkinan situasi yang tengah dialami oleh Abi.
“huuh..” Hanna menghela nafasnya dalam-dalam sebelum kembali mendekatkan ponselnya ke telinga.
“siapa lagi yang kau telfon?” tanya Ahreum penasaran, apakah Hanna akan mengalihkan telfonnya ke orang lain.
“Jeno.” Ucap Hanna dengan entengnya.
“YAK!” teriak Ahreum, membuat Hanna terkejut dan hampir menjatuhkan ponselnya.
“AUGGHH SIAL, kaget gue, YAK!!” umpat Hanna yang terkejut mendapatkan respon seperti itu dari Ahreum.
“YAK!! APA KAU SUDAH GILA?!!” teriak seseorang yang berasal dari ponsel Hanna, membuat Hanna lagi-lagi terkejut mendapat sambutan yang tak terduga dari orang yang ditelfonnya.
__ADS_1
(ternyata telfonnya sudah tersambung disaat Hanna mengucapkan sumpah serapahnya)
“kalau kau mau ngajak ribut nanti saja, aku sedang sibuk, bye..” ucap Nayeon yang hendak menutup telfonnya.
“tunggu-tunggu!!” sambar Hanna yang membuat Nayeon mengurungkan niatnya untuk sejenak.
“apa sih!!” ketus Nayeon.
“bantu aku mengangkat koper diaper..”
“gak mau tuh!” potong Nayeon.
“oke, kalau gitu aku mau minta bantuan Jeno aja deh!” celetuknya lengkap dengan senyuman nakalnya.
“TUNGGU! AKU KESANA, KIRIMKAN ALAMATNYA!” sambar Nayeon kembali dengan menaikan nada suaranya sampai 4 oktaf hingga membuat Hanna harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.
Beeppp.. telfon pun terputus bersamaan dengan teriakan Nayeon yang menggema diarea tangga darurat tersebut.
“aku ga ngerti, kenapa sih kau senang sekali ngisengin Nayeon.” Celoteh Ahreum begitu Hanna kembali memasukan ponselnya ke dalam tas miliknya, kemudian duduk diatas koper besar Ahreum sejenak untuk menunggu kehadiran Nayeon.
“aku juga ga ngerti, kenapa kau selalu memihak padanya padahal akulah yang pertama berteman denganmu!” balas Hanna lengkap dengan tatapan sinisnya seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.
“hmm..” sementara itu Ahreum hanya bisa menghela nafasnya seraya memandangi lekat karibnya itu yang tengah merajuk padanya.
***
Dilain tempat, dibaseman KT. Group.
Terlihat Ansell dan Abi tengah berjalan santai menuju keberadaan mobil dengan posisi Abi 1 langkah dibelakang Ansell. Seperti pada umumnya seorang asisten ia harus melayani tuannya salah satunya dengan membukakan pintu mobil dan menaruh lengannya tepat diatas kepala Ansell untuk menghindari benturan antara kepala Ansell dengan atap pintu mobil.
Begitu Ansell sudah menemukan posisi ternyamannya dikursi penumpang, Abi pun langsung menutup pintu dengan hati-hati, dan hendak berjalan ke sisi lainnya untuk menempati posisi dibelakangan kursi kemudi.
Tepat saat Abi hendak menyalakan mesin mobil, tiba-tiba ponsel yang berada dalam saku jas nya berdering, membuat aktivitasnya terhenti sejenak untuk merogoh ponsel miliknya dan mengecek panggilan masuk tersebut.
Dilihatnya sebuah nama yang tak asing, ‘pak Seno bagaskhara’batinnya berbunyi, tak ingin membuat mertua atasannya itu menunggu lama, ia pun lantas menerima panggilan tersebut seraya menengok kearah Ansell dan mengisyaratkan nama sang penelfon dengan gerakan mulut yang tak bersuara.
Ansell pun menggangguk mengerti. “iya pak Seno, ada yang bisa saya bantu pak?” sapa Abi begitu telfon sudah tersambung.
“oh begitu, baik pak sebentar.” Ucap Abi yang kemudian memberikan ponselnya pada Ansell, dengan raut wajah malasnya ia pun terpaksa menerima ponsel tersebut.
__ADS_1
“iya om Seno.” Ucap Ansell yang ingin memberitahukan jika kini sang penerima telah beralih pada dirinya.
“hmm.. iya baik.” Pungkas Ansell, tanda berakhirnya percakapan singkat ditelfon antara Ansell dan Seno.
“ke rumah sakit.” Perintah Ansell seraya mengembalikan ponsel milik Abi.
“rumah sakit Haneul, kenapa?” tanya Abi yang tidak mengerti kenapa kini tujuannya tiba-tiba berganti.
“om Seno ingin menemuiku.” Sahutnya seraya mengarahkan pandangannya kearah lain.
“oke.” Seru Abi yang kemudian langsung menyalakan mesin mobil dan menancap gas keluar dari area baseman.
***
Kembali ke area tangga darurat yang berada diaparteman Bougenville.
“YAK! DISINI! Kau lama sekali sih.” seru Hanna saat melihat kemunculan Nayeon dari balik pintu tangga darurat.
“AUGGHH!! Kau cerewet sekali sih.” timpal Nayeon yang langsung menaiki tangga dan bergabung dengan kedua temannya yang sedari tadi sudah menunggu dirinya.
“kau kenapa?” tanya Nayeon seraya menatap salah satu kaki Ahreum yang tidak menapak serta 1 tangannya yang terlihat berpegangan erat pada pagar tangga, membuat dirinya bertanya-tanya.
“itulah sebabnya aku menelfonmu tadi, Ahreum tidak bisa mengangkat koper karena kakinya terkilir dan tangannya yang sekarang semakin bengkak karena semalam..”
“liftnya masih dalam perbaikan, akan memakan waktu lama jika harus menunggu, jadi kau bisa menggantikan aku mengangkat koper bersama dengan Hanna kan, tolong ya.” Sela Ahreum yang tidak mengijinkan Hanna menyelesaikan kalimatnya.
“ahh begitu, oke, amm.. bagaimana kalau kau diam aja dulu disini, nanti setelah aku membawa kopermu, aku akan menggendongmu.” Ucap Nayeon seraya memandangi Ahreum dengan tatapan penuh kasih sayang layaknya seorang kakak yang mengasihi adiknya.
“astaga, yak, omong kosong macam apa itu, kau bahkan belum tahu seberapa berat koper ini, malah sok sok an mau menggendong Ahreum.” Celetuk Hanna yang membuyarkan suasana penuh kasih antara Ahreum dan Nayeon.
“ciiihh!!..” Nayeon mendengus lengkap dengan tatapan sinisnya, ia pun kembali berjalan menuju keberadaan koper besar tersebut lalu mulai mengangkatnya bersamaan dengan itu juga Hanna lantas membantu mengangkat bagian bawah koper seakan mengerti apa yang harus ia lakukan meski tanpa aba-aba.
“makasih teman-teman.” Ucap Ahreum kala kedua karibnya itu mulai menaiki anak tangga 1 per satu dengan koper besar yang berada dalam kendali keduanya.
Meski tubuh Nayeon sama kurusnya dengan Hanna namun tidak dengan kekuatan/tenaga yang dimilikinya, tenaganya jauh lebih besar baik dari Hanna apalagi Ahreum. Terbukti sekarang pun yang lebih berperan dalam pengangkatan koper besar itu adalah Nayeon, jika dibandingkan dalam persentase mungkin seperti ini hasilnya 80:20 (80% Nayeon dan sisanya Rihanna 20%).
Bersambung...
***
__ADS_1