Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 178


__ADS_3

“hmm.. aku sudah mencoba yang terbaik yang aku bisa, meski berulang kali aku harus terluka dan tetap mengalah demi mempertahankan hubungan yang ku jalin. Pada akhirnya dia selalu mengambil jalan pintas, seakan yang memiliki perasaan hanya dirinya.


Bukan hanya 1 kali dia meminta pisah dariku, tapi itu terus terjadi saat kita terlibat 1 konflik yang bahkan ku fikir itu hanyalah masalah sepele.


Kau tahu..


Bahkan disaat dia terlibat masalah dengan dosen atau teman kuliahnya, dia selalu melampiaskan kekesalannya padaku. Dan dengan bodohnya, aku hanya menerimanya tanpa protes sedikitpun, kurasa.. cintaku padanya sudah melebihi rasa cintaku pada diriku sendiri.


Hingga aku mampu menahan rasa sakit ini sendirian.”


“kau sudah berusah semampumu Nay, untuk mempertahankan kisah cintamu. Kurasa kau harus berhenti sekarang, karena tanpa kau sadari kurasa rasa cintamu itu bisa berubah menjadi sebuah obsesi. Itu tidak baik.” Respon Franky sembari terus membalik-balikan daging sapi yang tengah dipangganggnya.


“Jadi menurutmu aku tidak benar-benar mencintainya, ini hanyalah sebuah obsesi semata begitu?” protes Nayeon yang sedikit kesal lantaran tanggapan Franky yang melukai hatinya.


“bukan begitu maksudku Nay, tapi..”


“ahhh sudahlah percuma bicara denganmu, memangnya kau tahu apa tentang perjuangan, pengorbanan, kau bahkan belum pernah berkencan.” Potong Nayeon yang merajuk.


“nona Nayeon..”


“sudah ku bilangkan panggil Nayeon saja tidak perlu terlalu formal padaku kak Abi, apa kak Abi masih menganggapku orang asing?” sambar Nayeon yang tak membiarkan Abi mengutarakan isi hatinya terlebih dahulu.


Membuat Abi pun menghembuskan nafasnya sejenak sebelum kembali melanjutkan kalimatnya yang terpotong.


“Iya Nay..


Aku setuju dengan mas Franky, bukankah lebih baik kau mencoba menerima dengan berbesar hati keputusan mas Jeno. Berjuang dan berkorban sendiri itu tidak enak loh, kau harus mulai memperhatikan dirimu sendiri Nay.


Aku mengerti kau sangat mencintai mas Jeno, kau bahkan rela terluka demi mas Jeno. Hanya saja, sampai kapan?


Bukankah dalam suatu hubungan yang sehat, harusnya saling mencintai dan menyayangi ya. Tidak perlu terburu-buru, pelan-pelan saja ku yakin kau pasti bisa melupakannya Nay.” Tutur Abi panjang lebar yang membuat Nayeon malah  emosional dan mulai menderaikan air mata kepedihannya.


“yak.. yak.. Jangan nangis dong! Aduhhh, ini pasti gara-gara kalimat mutiara mas bro. Udah dong jangan nangis Nay!!” panik Franky kala Nayeon mengeluarkan rintihan tangis yang membuatnya bingung harus melakukan apa.


“ehh.. maaf.. aku tidak bermaksud membuatmu menangis Nay..” tambah Abi yang ikut panik sebab tangisan Nayeon semakin nyaring.


“HHUUUUUUU.. HIKKKSSSS.. HUUUUUU.. HIKKSSSS!!”


***


Sementara itu didalam Villa.


Begitu Ansell menginjakan kakinya dianak tangga terakhir, salah satu pintu kamar dilantai bawah pun terbuka, membuat keduanya menoleh pada sosok yang akan muncul dari balik pintu tersebut.


“bisa kau turunkan aku.” Pinta Ahreum kala melihat Hanna yang muncul dari balik pintu kamar.

__ADS_1


“eeyyy!! Aku tahu kalian berdua sudah menikah, tapi haruskan kalian menunjukan kemesraan yang telalu berlebihan seperti itu.” celetuk Hanna yang mulai menarik langkah setelah kembali menutup pintu kamarnya.


Ansell pun menurunkan Ahreum seperti permintaannya.


“kau duluan saja, nanti aku nyusul dengan Hanna. Ahh iya, ponselku.” Tambah Ahreum lagi seraya mengulurkan tangannya pada Ansell.


“kenapa?” tanya Ansell begitu ia menurunkan istri mungil dari gendongannya, kemudian mengeluarkan ponsel Ahreum dari saku celananya.


“aku ingin bicara dulu sebentar dengan Hanna. Ga akan lama kok hanya 30 menit.” Bujuk Ahreum, agar suaminya itu bersedia pergi lebih dulu dan memberikan ponselnya yang masih dalam genggaman Ansell.


“kau tidak akan macam-macam dibelakangku kan?!” pekik Ansell kala hendak memberikan ponsel Ahreum namun ditariknya kembali sebab mendadak rasa curiga perlahan menjalar difikirannya.


“engga kok, sayang.. boleh aku minta ponselku.” Pinta Ahreum lengkap dengan raut wajah yang dibuatnya seimut mungkin, hingga membuat pertahanan Ansell runtuh dan memberikan ponsel yang digenggamnya erat pada Ahreum yang sedari tadi sudah menjulurkan kedua tangannya dihadapan Ansell.


“oke, 20 menit.” Tegas Ansell kemudian berlalu tanpa menunggu persetujuan dari istrinya.


“aissshh!! Sebegitu protectivenya dia terhadapmu. Dan kenapa ponselmu ada ditangannya?


Apa dia tidak memberimu akses penuh pada ponselmu sendiri?” Oceh Hanna begitu Ansell melenggang pergi meninggalkan keduanya.


“bukan begitu, sudah ah jangan bahas itu.


Ada hal yang lebih penting yang ingin ku bicarakan denganmu.” Katanya seraya menarik paksa lengan Hanna kemudian berjalan menuju sebuah kamar.


“ada apa sih sepertinya serius banget.” Ujar Hanna.


“dengar, ada hal penting yang ingin ku ceritakan denganmu.” Ulang Ahreum kembali usai keduanya terduduk ditepi ranjang dengan posisi saling berhadapan.


“iya aku tahu! Tadi kan kau sudah bilang, lantas hal penting apa!! kau ini bertele-tele sekali.”


“sssstttt….” Ahreum membungkam mulut Hanna dengan telapak tangannya lantaran karibnya itu mulai menaikan nada suaranya.


“aduuhh apa sih!!” dumel Hanna seraya melepas paksa lengan Ahreum dari mulutnya.


“kau benar..


Ternyata mereka memang kembar, Ilona dan Aluna.” Papar Ahreum yang sontak saja membuat Hanna membulatkan kedua matanya.


“apa?! kau yakin?” respon Hanna.


“Iya, pagi tadi saat aku membantu membereskan barang-barang Ilona, aku menemukan banyak hal yang kurasa Ansell tidak mengetahuinya.” Lanjut Ahreum.


“apa?” tanya Hanna.


“sebentar..” sahut Ahreum seraya mulai mengutak-atik ponselnya untuk menunjukan sesuatu pada karibnya itu.

__ADS_1


“apa ini?” tanya Hanna seraya mengerutkan dahinya.


“aku memfoto kembali foto-foto yang ada dialbum kecil milik Ilona.” Jelas Ahreum seraya ikut memperhatikan layar ponsel miliknya yang kini tengah diambil alih oleh Rihanna.


“hanya foto-foto Ilona aja, apa yang membuatmu yakin jika mereka ada 2?” kata Hanna seraya menggeser layar ponsel yang menampilkan beberapa foto dalam layar ponsel Ahreum.


“yak, kau benar-benar tak bisa melihat perbedaan dari foto-foto tersebut?


Lihat tempat dimana mereka berfoto, dan juga penampilan mereka. Apa mereka terlihat seperti orang yang sama bagimu. Mungkin ada aja orang yang sering mengubah penampilannya karena merasa bosan. Bisa feminim, tomboy atau glamour, tapi..  mau difikir berapa kali pun mereka sangat jauh berbeda.


Sebenarnya bukan hanya album, aku menemukan sebuah kotak kecil didalam lemari Ilona hanya saja kotak itu terkunci, aku masih belum bisa membukanya jadi ku sembunyikan dulu aja dilemariku.


Dan juga 1 hal lagi yang membuat aku yakin jika mereka adalah 2 orang, aku tak tahu dia Ilona atau Aluna, dia berfoto didepan sebuah panti asuhan yang bernama Cinta kasih.” Papar Ahreum penuh percaya diri.


“Cinta kasih, sepertinya aku pernah mendengarnya.” sahut Hanna seraya menurunkan ponsel Ahreum dan beralih untuk fokus bicara dengan Ahreum.


“Iya, panti asuhan itu berada dikampung halaman Mamaku. Aku harus kesana dan mencari tahu kebenarannya. Tapi sebelum itu, aku mesti ke tempat temanku dulu, aku ingin membuka beberapa file yang terkunci diponsel ini, kurasa sebelumnya ponsel ini milik gadis itu.


Ahhh iyaa aku baru ingat, ada banyak percakapan yang mencurigakan juga disini, tapi aku belum sempat memeriksa semuanya.” lanjutnya lagi yang kemudian mengambil alih ponselnya dan mengutak-atiknya sebelum kembali menunjukannya pada Rihanna.


“kau harus hati-hati Ahreum, kurasa gadis ini bukan gadis biasa, dia seperti memiliki aura yang benar-benar menyeramkan. Seperti aura yang dipancarkan oleh gadis yang diculik bersama dengan kita digedung beberapa waktu lalu.” Ujarnya seraya menatap lekat ke arah manik Ahreum yang tengah sibuk mencari sesuatu didalam ponselnya.


“dia tidak diculik, dialah penjahat sebenarnya. Dia mengubah namanya menjadi Cassandra.” Ungkap Ahreum yang membuat Hanna lagi-lagi tercengang dengan informaasi  yang diberikan oleh karibnya itu.


“apa?!


Lantas apa tujuan sebenarnya dia melakukan hal se ekstrim itu. Kau bahkan hampir terbunuh oleh penembak runduk. Jika dugaanmu benar, sebaiknya kau berhenti mengusiknya Ahreum, aku takut itu hanya akan menjadi boomerang bagimu.” Pinta Hanna seraya memegang erat kedua bahu Ahreum lengkap dengan tatapannya yang dalam.


“kau tahu diriku yang sebenarnya bukan?” respon Ahreum seraya menepis pelan kedua tangan Hanna dari bahunya. “aku bahkan bisa lebih menyeramkan darinya, Hanna.” Imbuh Ahreum dengan sorot mata tajamnya sebagai tanda jika dirinya bersungguh-sungguh ingin mengorek identitas gadis misterius tersebut.


“tapi Ahreum..”


Tookkkk!! Tookkk!! “apa yang kalian lakukan didalam, hah?! Ahreum buka pintunya!!”


Mereka berdua pun hanya bisa menghela nafas pasrahnya kala suara ketukan pintu nyaring terdengar dari balik pintu, tanda percakapan mereka mau tak mau harus berakhir sampai disini.


“aughhh!! Pria itu benar-benar menyebalkan.” Gerutu Hanna seraya melirik ke arah pintu kamarnya.


“aku akan tetap pada rencana, begitu Ansell berangkat ke Amerika, aku juga akan pergi ke kota xxx.” Teguh Ahreum yang kemudian bangkit dari tepi ranjang dan mulai menarik langkah mendekat ke arah pintu.


“aku ikut..” seru Hanna seraya menahan sejenak lengan Ahreum hingga membuat keduanya saling melempar tatapan sesaat.


“aku tak akan mungkin membiarkanmu mengatasinya sendirian.” Sambung Hanna lagi mantap seraya menyunggingkan senyum tulusnya.


“YAK!! APA KALIAN TULI!! CEPAT BUKA PINTUNYA!! APA YANG KALIAN RENCANAKAN DIDALAM!!” teriak Ansell yang semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2