
“apa dia juga bilang mau pergi kemana pagi-pagi begini?” tanya Ansell lagi yang semakin mencemaskan kondisi istri mungilnya tersebut.
“amm.. sepertinya kalau tidak salah dengar tadi nona Ahreum mau pergi ke luar kota bersama dengan teman-temannya selama beberapa hari tuan.” Dustanya lagi, ditengah usahanya menyembunyikan senyum jahilnya bi Ijah ingin tetap terlihat tenang agar bisa meyakinkan Ansell jika semua perkataannya adalah benar adanya.
Dan seperti orang bodoh, lagi-lagi Ansell percaya dengan bualan ART nya itu, hingga ia tampak sedikit kesal lalu menghentakan sendoknya ke atas meja lengkap dengan sorot mata tajamnya.
Seolah tidak belajar pada pengalamannya yang sudah sering sekali diisengi oleh bi Ijah, kali ini Ansell tetap percaya dengan apa yang bi Ijah katakan. Layaknya seorang bocah yang mudah sekali dikibulin. Hahahaa!
“Si***alan!! Berani sekali dia berpergian tanpa ijinku.” Gumamnya yang kemudian bangkit dari kursinya padahal baru beberapa kali melahap sarapannya, namun mendengar berita mengenai kepergian istrinya itu membuat dirinya kini kehilangan selera makan seketika.
Ansell pun bergegas kembali ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan dompetnya sebelum hendak menyusul istrinya yang kini entah berada dimana.
Mendengar suara bantingan pintu kamar yang cukup keras, membuat Abi yang tengah asyik menggosok giginya dikamar mandi Ansell pun merasa terusik kemudian ia pun menarik langkah untuk keluar sejenak dan melihat apa yang sedang terjadi.
“yak! yak! kau mau kemana?” seru Abi begitu keluar dari kamar mandi dan mendapati Ansell yang tengah berjalan menuju keberadaan dompet dan juga ponselnya yang ia letakan diatas loker kecil disamping ranjang besarnya.
“kenapa kau memakai kamar mandiku!” bentak Ansell begitu ia memutar tubuh dan melihat Abi yang tengah berdiri diambang pintu dengan mulutnya yang belepotan busa pasta gigi.
“aughh!! Bukannya kau yang bilang untuk membersikah wajah dan gigiku lebih dulu!” sahut Abi yang tak kalah ngegasnya seraya mengacungkan sikat gigi yang dipenuhi busa pasta gigi dan jigongnya.
“yak! kau jorok sekali sih! Lihat! Busa dan jigongmu menetes ke lantai kamarku! Aughhh!! Shi*****! Cepat selesaikan temani aku mencari Ahreum!” perintahnya yang kemudian bergegas pergi meninggalkan Abi.
“astaga!! Lelaki brengsek itu benar-benar membuatku sakit kepala.” Dumel saat Ansell baru saja menutup kembali pintu kamarnya.
“YAK! AKU MENDENGARMU ABIGHAIL!” teriak Ansell dari luar kamar yang membuat Abi terkejut kemudian kembali ngacir masuk ke kamar mandi untuk menyelesaikan urusannya yang tertunda.
Beberapa menit kemudian, dibaseman aparteman Bougenville. Ansell sudah mengisi tempat duduk yang bersebelahan dengan kursi pengemudi. Dengan raut wajah gelisahnya ia terus saja mencoba menghubungi seseorang yang hendak dicarinya saat ini.
Namun tampaknya gadis itu mematikan ponselnya sehingga mau berapa kalipun Ansell mencoba menghubungi gadis tersebut hanyalah suara operator yang akan terdengar.
__ADS_1
Sampai akhirnya Abi pun datang dengan setelan casual kaos berwarna biru muda dan dipadupadankan dengan celana pendek berwarna hitam. Ia pun berlari kecil menuju keberadaan mobil atasannya untuk menghemat waktu.
“yak! kau luluran dulu?! Sudah kubilang untuk cepat kan!” omel Ansell saat Abi baru saja mendudukan bokongnya dikursinya.
Dengan santai ia pun menarik safety belt kemudian menguncinya, sebelum lanjut ke tahap berikutnya menyalakan mesin mobil lalu melajukan mobilnya untuk keluar dari baseman.
“kau mengabaikanku Abi!” pekik Ansell karena merasa diacuhkan oleh Abi.
“aughh!! Aku tidak tuli, bicaranya santai aja dong! Tolong ambilkan tabletku dibelakang kursimu.” Ujar Abi seraya melirik kearah belakang.
“berani sekali kau menyuruhku!” geram Ansell lengkap dengan sorot mata julidnya.
“kau ingin menemukan istrimu tidak? Kau tak lihat aku sedang mengemudi.” Balas Abi.
“augh si**al!!” umpat Ansell yang kemudian memutar tubuhnya untuk mengambil tables Abi yang berada disarung kursi yang tengah didudukinya.
“dekatkan layarnya ke wajahku.” Pinta Abi lagi yang membuat Ansell kembali mendengus kesal karena disuruh-suruh oleh asistennya sendiri.
Sementara itu ditempat lain.
Rumah abu (tempat pemakaman/tempat sebuah guci yang berisikan abu disimpan).
Tampak Ahreum dan juga Rihanna yang tengah berdiri disebuah lemari kaca yang berisikan guci tempat dimana abu seseorang yang sudah meninggal disimpan.
“kau benar, mereka terlihat sangat mirip sekali. Aku sampai tak bisa membedakannya. Mungkinkah seseorang yang tak memiliki hubungan darah bisa seidentik ini, kurasa itu adalah hal yang benar-benar jarang terjadi.” Oceh Hanna yang ikut memandangi beberapa foto yang berada disamping guci tersebut.
“atau mereka berdua memang kembar.” Respon Ahreum yang tak kalah seriusnya memandangi wajah gadis yang telah tiada itu.
“maksudmu? Mereka adik kakak seperti itu?” respon Hanna seraya mengarahkan pandangannya pada Ahreum.
__ADS_1
“hanya dugaanku saja. Itu sebabnya aku ingin memastikannya, karena kurasa..” belum sempat Ahreum menyelesaikan kalimatnya, kedua mata tajamnya keburu melihat seseorang dari pantulan cermin lemari kaca. Seorang wanita yang terlihat tengah memandanginya dari jauh dengan sebuah bucket bunga dalam genggamannya.
Ia pun lantas memutar tubuhnya untuk melihat dengan jelas rupa wanita mencurigakan tersebut.
“ada apa?” tanya Hanna yang kebingungan dengan sikap Ahreum.
Saat mata Ahreum dan wanita itu bertemu, wanita itu pun tampak terkejut sekali layaknya seseorang yang tertangkap basah tengah melakukan kesalahan. Ia pun memutar tubuhnya lalu mengambil seribu langkah dari keberadaannya saat ini.
Tak tinggal diam begitu saja Ahreum pun bergegas mengejarnya karena penasaran dengan wanita yang tampak mencurigakan baginya.
Meski Hanna tidak tahu apa-apa, ia pun lantas ikut berlari menyusul karibnya setelah menggeleng kepalanya terlebih dahulu karena merasa tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.
“yak! tunggu, berhenti!” panggil Ahreum pada wanita aneh itu yang terus saja memacu langkahnya hingga Ahreum hampir kewalahan dibuatnya.
“auggh, sial!! Cepat sekali sih larinya.” Gerutu Ahreum yang sudah hampir kehabisan nafas untuk mengejar wanita tersebut.
“yak! ada apa sih? kenapa kau mengejarnya?” ujar Hanna yang ikut berlari disampingnya.
“kurasa wanita itu mengenal Ilona, cepat tangkap dia!” seru Ahreum seraya mendorong tubuh Rihanna agar lebih mempercepat laju larinya.
“aughhh!! Shi***t!!” umpat Rihanna, meski sebenarnya ia merasa kesal karena harus terlibat dalam aksi kejar-kejaran ini, namun apa boleh buat jika dibandingkan dengan Ahreum, kemampuan berlarinya lebih baik sehingga ia pun berusaha untuk mempercepat laju larinya.
Mereka terus berlarian hingga sampai disuatu area yang tengah mengadakan wisata kuliner dipagi hari. Bukan hanya kuliner sih, semacam pasar dadakan begitu. Cuma ya mayoritas area tersebut dipenuhi oleh pedagang makanan dibanding barang-barang seperti pakaian, sepatu dan tas.
“dimana?” tanya Ahreum saat Hanna menghentikan langkahnya tepat didepan gerbang masuk menuju pasar dadakan lengkap dengan nafasnya yang masih tersenggal-senggal.
“dia masuk ke dalam. Kau yakin akan terus mencarinya, kurasa akan sulit.” Ujar Rihanna seraya mengamati keadaan sekitar yang dipenuhi oleh orang-orang yang tengah berdesakan mencari barang-barang kebutuhannya masing-masing.
“uhh, dia pintar sekali, masuk ke area ramai seperti ini. Ayoo!” seru Ahreum yang kembali menarik langkah dan masuk ke area pasat dadakan tersebut lebih dulu.
__ADS_1
“aughh! Shi***ttt!!” umpatnya kesal namun tetap menuruti perintah karibnya itu yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Bersambung...