Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 245


__ADS_3

“Ansell, tidak seburuk yang kakak bayangkan kok, adakalanya dia seperti kongi yang imut, menggemaskan dan juga sangat sensitive. Aku sa…,”


“berhenti mengoceh,” ketus Bennedict seraya memeras rambut Ahreum kemudian mengambil handuk dari dalam laci dan melilitkannya dirambut adiknya.


“hmm, kakak…,” rengek Ahreum yang kemudian bangkit dari kursi roda kemudian memeluk kakaknya erat.


“tolong jangan pisahkan aku dengannya, ya.. ya.. kak…,” bujuk Ahreum lagi dengan penuh harapan jika dinding pertahanan kakaknya itu akan mengikis.


“sebesar itukah rasa cintamu untuknya?”


“Iya, dia lelaki pertama yang bisa membuat aku jatuh cinta seperti ini. Kau tahu, sebenarnya kepribadian kakak dengannya tidak jauh berbeda, dia bukan pria romantis dan lemah lembut seperti ayah.


Tapi…, entah kenapa meski harapanku berbanding terbalik dengan realita yang ada, aku tetap mencintainya sepenuh hatiku, aku…,” ungkap Ahreum yang mulai emosional hingga membuat Bennedict pun terdiam sesaat seolah tengah menimbang sesuatu dalam benaknya.


“oke, kakak akan mempertimbangkannya, tergantung effort dari suamimu untuk terus memperjuangkanmu dan menunjukan kesungguhannya.” Bennedict menyerah.


“hikksss…. Hikkksss… terimakasih, terimakasih kak.. hiksss…” bersamaan dengan green light yang kakaknya berikan itu, tangis Ahreum kembali pecah hingga membuat Rihanna dan Enzy berlarian menuju kamar mandi.


“ada apa? ada apa?” panik Rihanna seraya membuka pintu kamar mandi, lantaran takut jika tangisan itu mengartikan suatu hal yang buruk.


“apa yang terjadi Ben?” timbrung Enzy yang juga ikut khawatir.


Dilihatnya Ahreum tengah menangis tersedu-sedu dalam pelukan kakaknya, sedang Bennedict terus mengusap belakang kepala Ahreum dengan derai air mata yang mulai menetes seiring dengan suasana emosional yang terjadi diantara mereka berdua.


“yak ada apa sih?


Kau baik-baik saja Ahreum?” seru Rihanna lagi yang tak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.


Namun alih-alih menjawab rasa penasaran Rihanna dan Enzy, Ahreum malah semakin mengeraskan tangisannya, begitu juga dengan Bennedict yang lebih memilih mengabaikan 2 wanita penasaran yang masih berdiri diambang pintu.


...****************...


Sementara itu diruangan sebelah.


Ansell terduduk disofa dengan pandangan fokus mengarah pada laptop serta sesekali melirik beberapa berkas yang berada di samping laptopnya.


“Halo Ansell,” sapa seseorang dalam layar laptopnya begitu video call tersambung.


“Iya, sebaiknya kita tak perlu banyak basa-basi, mari kita mulai saja,” sahut Ansell seraya meraih berkas dan mencoba menelaahnya sebelum menjelaskannya pada wanita yang menjadi partner bisnisnya itu.


“tunggu, kenapa wajahmu seperti itu, dan kenapa pakaianmu?


Kau dirawat dirumah sakit Ansell?


Kenapa? Apa yang terjadi?!” beragam pertanyaan terus keluar dari mulut wanita itu seakan sudah lupa tujuannya melakukan video call.


“ahh ini, maaf, aku belum membawa pakaian ganti, jika seragam rumah sakit ini membuatku terlihat tidak sopan bagimu, mari kita reschedule meetingnya,” jelas Ansell.


“tidak, tidak, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi Ansell?


Kenapa wajahmu bisa babak belur begitu? Apa kau dipukuli seseorang,” tebak wanita tersebut yang tak lain adalah Cassandra, ia terus saja membahas hal yang tidak ada kaitannya dengan proyek yang tengah mereka jalani.


“bisakah kita kembali pada tujuan awal. Maaf kurasa kau tak perlu tahu mengenai masalah pribadiku,” jawab Ansell dengan nada ketusnya, sebab merasa risih dengan sikap berlebihan wanita yang mirip dengan mendiang kekasihnya.


“ahh, begitu, oke baiklah, maaf ya. Sampai mana tadi?”


“kita bahkan belum memulainya,” jawab Ansell.


“hheeehe, amm, sebenarnya tadi malam aku sudah membaca semua file yang Abighail kirimkan padaku melalui email, hanya saja sepertinya akan lebih baik jika kita membahasnya secara langsung, tidak melalui video call seperti ini.


Urusanku di Inggris sudah selesai, aku juga sudah memesan tiket kembali ke Indonesia, mungkin aku akan sampai nanti malam. Aku akan menemuimu dirumah sakit,” papar Cassandra yang membuat Ansell menaikan 1 alisnya.

__ADS_1


“tidak perlu, kita bahas sekarang saja,” kekeh Ansell.


“sebentar, sebentar…,” sela Cassandra lantaran ada seseorang yang memanggilnya disana, membuat pembicaraan mereka tertunda.


Sementara Cassandra tengah sibuk berbincang dengan seseorang disana, tiba-tiba saja ponsel miliknya bergetar tanda ada notifikasi masuk.


Buru-buru Ansell meraih ponselnya yang ia letakan disamping laptop kemudian mengecek pesan masuk tersebut yang berasal dari karibnya Rihanna.


“Green light!” begitulah isi pesannya, seakan mengerti maksud dari kode yang diberikan Rihanna, sudut bibir Ansell mengembang menandakan kebahagiaannya saat ini.



...****************...


Sore hari, kembali ke ruangan Ahreum.


Bennedict tengah terbaring disofa sembari memainkan ponselnya, sedang Rihanna dan Ahreum tengah asyik menonton siaran televisi diatas ranjang yang sama. Mereka duduk bersebelahan sembari menyemil makanan ringan.


“bagaimana dengan keadaan Nayeon sekarang?” tanya Ahreum ditengah kunyahannya.


“entahlah, tapi kuharap dia baik-baik saja, lagipula sudah ada Franky yang menjaganya sekarang, jadi fikirkan dirimu sendiri aja Ahreum,” sahut Rihanna yang juga ikut menikmati cemilan yang ditaruh diantara mereka berdua.


“tidak, aku hanya kasihan aja padanya, sudah dicampakan Jeno, ehh malah ada konflik baru lagi dengan Raffael, hmm…,” gumam Ahreum yang diakhiri helaan nafas panjangnya.


“amm, apa kau tahu berita tentang Jeno?” imbuh Ahreum seraya melirik sesaat ke arah karibnnya.


“dia dijodohkan, dengan saudara tiriku kan,” sahut Rihanna tanpa menoleh dan terfokus pada siaran televisi yang berlangsung dihadapannya.


“he’em, bagaimana menurutmu?” sambung Ahreum yang mencoba menanyakan pendapat Rihanna mengenai perjodohan antara Jeno dengan saudara tirinya itu.


“no komen, itu bukan urusanku,” jawabnya dingin.


“kau tak ingin bertemu kembali dengan Dady?” tanya Ahreum lagi yang kali ini menyinggung soal ayahnya.


“kau yakin tak merindukannya?” timbrung Bennedict yang kembali mengarahkan pandangannya pada layar ponselnya.


“rindu? Ciiihh!!” dengusnya.


“ahh iya btw, libur semestermu cuma tinggal 2 pekan lagi ya?” tanya Hanna yang membelokan pembahasan.


“Iya, kenapa?” sahut Ahreum.


“gak apa-apa, hanya tanya aja,”


“kau sudah mempersiapkan segala sesuatunya? Bukankah kau bilang pekan depan sudah mulai bekerja di perusahaan Ansell,” Ahreum mengingatkan.


“ahh iya, aku hampir lupa, aku bahkan belum membeli pakaian, tas, sepatu, kurasa make up ku juga banyak yang sudah habis, lipstick, blash on, shadow, mascara…,”



“yak! Kau mau ngelenong?” sembur Bennedict seraya bangkit dari tidurannya dan bersandar disofa sembari memperhatikan kedua adik perempuannya tengah asyik bercerita.


“ciiihh!!


Kau kan lelaki, mana tahu kebutuhan wanita huhhh!” sinis Rihanna lengkap dengan tatapan julidnya.


“istriku juga wanita, tapi dia tidak pernah memakai riasan yang berlebihan sepertimu,” celoteh Bennedict.



“aughhh!!

__ADS_1


Itu karena istrimu sudah cantik alami, tidak semua wanita terlahir cantik alami sepertinya kau tahu! Ada segelintir wanita yang mesti memiliki effort lebih untuk membuat dirinya terlihat cantik dan menarik bagi kaum pria.


Aiiisshhh!! Kakakmu menyebalkan sekali,” dumel Rihanan seraya menyikut Ahreum.


Sedangkan Ahreum hanya tertawa tipis mendengar ocehan karibnya itu yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya sendiri.


Tak lama kemudian.


Pintu kamar terbuka, disusul dengan kemunculan Enzy, Seno dan Sammy dari balik pintu.


“Sammmyyyyy!!!” seru Hanna yang langsung bangkit dan menyambut kedatangan Sammy yang tampan tiada tara.


Rihanna pun mengambil alih Sammy dari gendongan Enzy kemudian dibawanya ke atas ranjang Ahreum.


“halooooo Sammmyyy, kakak kangen banget dehh, muaachhh, muacchhhh,” seru Ahreum bahagia seraya menciumi pipi gembil adik lelakinya yang baru saja didudukan didepannya oleh Rihanna.



Meski belum bisa berbicara, namun Sammy kecil terlihat sangat bahagia, terlihat dari tawanya yang menggemaskan nan nyaring hingga memeriahkan seisi ruangan dengan tawa khas balita pada umumnya.


“kau masih disini Ben?” tanya ayahnya seraya mendudukan bokongnya disamping putra sulungnya, sementara istrinya duduk dikursi kecil disamping ranjang Ahreum.


“Iya yah,” jawab Bennedict.


“cuti?” tanya ayahnya lagi untuk mengembangkan percakapan diantara putra dan bapak.


“Iya,” lagi-lagi Bennedict hanya menjawab alakadarnya.


“tumben sekali, biasanya apapun yang terjadi kau selalu mengutamakan pekerjaan,” imbuh ayahnya.


Kini bahkan tak ada 1 kata pun yang terucap dari mulut Bennedict, ia hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan ayahnya.


Ceklek…,


Pintu kamar Ahreum kembali terbuka, “halo semuanya!” sapa Jeno penuh antusias, ia pun masuk dengan membawa parcel buah dalam dekapannya.



“waaahhh ada bro Sammyyy!!” lanjut Jeno yang kemudian meletakan parcel buahnya diatas meja sejenak lalu kembali menghampiri Sammy yang sedang bermain-main dengan Ahreum dan Rihanna diatas ranjang.


“eeyy yooo what’s up broo!!” sapa Jeno seraya menjulurkan kepalan tangannya ke hadapan Sammy, Sammy yang masih bocah tentu saja tak mengerti dengan salam yang hendak dilakukan Jeno terhadapnya.


Sampai akhirnya Ahreum yang menerima salam Jeno dengan menjulurkan kepalan tangannya lalu melakukan tos kepalan tangan dengan Jeno.


“bukannya kau bilang mau kemari pagi-pagi,” kata Rihanna seraya menatap sinis kehadiran Jeno.


“aku sibuk, yang pentingkan sekarang aku datang, huhh! Iya ngga Sammyy, ughhh lucunya, kau mirip siapa sih Samm,” oceh Jeno seraya menguyel-uyel pipi gembil Sammy yang menggemaskan.


“tentu mirip ayahku,” sahut Ahreum seraya melirik sesaat ke arah ayahnya yang tengah memperhatikannya sedari tadi.



Refleks Jeno pun melirik Seno dengan raut wajah julidnya hingga membuat Seno mengerutkan dahinya.


“Apa?!” ketus Seno yang tak suka dengan pandangan aneh Jeno terhadapnya.


Jeno hanya bisa tertawa renyah melihat ayah karibnya itu cemberut layaknya bocah yang tengah diejek oleh temannya.


“hhhaahhaa…,”


***

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2