Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 113


__ADS_3

Dipekarangan belakang panti Cameron. Terlihat para bocil tengah bermain-main dengan riang gembira selagi menunggu para orang dewasa menyiapkan makanan dimeja besar yang memang selalu menjadi tempat makan bersama jika ingin makan diluar rumah.


“kau tak perlu membantu, sebaiknya kau duduk aja disini.” Ucap Ririn seraya menahan tubuh Abi yang tadinya hendak bangkit dari kursi, wanita satu-satunya yang menetap dipanti setelah beberapa teman diantaranya pergi karena diadopsi oleh keluarga baru.


Sedangkan Ririn lebih memilih untuk tinggal dan membantu bunda Anna mengelola panti asuhan dengan Yudha, yang beberapa tahun telah resmi menjadi sepasang suami istri.


Mereka berdua bertekad untuk tetap menemani bunda Anna dan menjaga adik-adik kecilnya yang sudah mereka anggap sebagai putra putri sendiri.


“aku sudah lebih baik kok kak Ririn.” Tolak Abi yang bersikeras untuk membantu membawakan makanan yang telah matang didapur untuk dihidangkan dimeja pekarangan belakang panti.


“hmm.. kau ini, dari dulu memang selalu saja membantah.” Dengus Ririn lengkap dengan gelengan kepalanya seraya menyusul langkah Abi yang sudah lebih dulu pergi.


Beberapa menit kemudian setelah semua siap dimeja makan.


“ayoo anak-anak mari kita makan!” seru Ririn dengan suara lantangnya ia memanggil bocil-bocil yang tengah asyik bermain.


Tanpa menunggu lama, para bocil pun menyerbu area meja makan dengan penuh antusias.


“eeyyy!! Ingat!! Sebelum makan harus apa dulu!” seru Ririn kembali yang melihat para bocil tersebut hendak menarik kursi mereka.


Namun lagi-lagi dengan gerakan serempak, mereka pun berlarian menuju wastafel yang disediakan dipekarangan belakang panti lengkap dengan sorak sorai keceriaan para bocil pada umumnya yang menambah suasana kala itu semakin ramai.


Sementara para bocil tengah sibuk membersihkan tangannya, para orang dewasa telah menempati kursinya masing-masing.


“Abi.” Panggil bunda Anna penuh kelembutan dan tatapan teduhnya.


“iya bunda.” Sahut Abi seraya mengarahkan pandangannya pada bunda Anna yang duduk dikursi seberangnya.


“kau yakin tidak mau menceritakan penyebab sebenarnya luka-luka itu pada bunda.” Lanjutnya lengkap dengan raut wajah khawatir layaknya seorang ibu pada umumnya.


“ini.. Abi kan sudah bilang bunda, Abi berkelahi dengan Ansell hehe.” Dusta Abi, dari sekian alasan hanya itulah yang ada dibenaknya.

__ADS_1


“berkelahi apanya?! Palingan kau hanya pasrah sambil megangin kepalamu aja kan. Kau bahkan tak pernah membalas pukulannya sama sekali. Huhh.” Dengus Ririn seraya mengambil piring bunda Anna untuk mengambilkannya nasi beserta lauk pauk yang disukai bunda Anna.


Sementara Abi cuma bisa nyengir mendengar ocehan Ririn, bunda Anna hanya bisa menggeleng kepala dan menghembuskan nafasnya. Meski dengan tegas Abi menyangkal kekhawatiran bunda Anna, namun tetap saja seorang ibu selalu memiliki firasat lain.


“bunda.. bunda..” seru salah seorang bocil yang telah selesai membersihkan kedua tangannya lalu hendak duduk dikursinya.


Kemudian tak lama pun beberapa bocil lainnya berlarian dan menempati kursinya masing-masing dengan kedua mata berbinar memandangi hidangan lezat yang kini berada dihadapannya.


“iya Leon, ada apa?” sahut bunda Anna seraya memandangi bocil tersebut.


“anak-anak.. anak-anak.. pelan-pelan, bergantian oke. Jangan berebutan seperti itu, tenang aja ga akan kehabisan kok. Kalau masih kurang nanti tante ambilkan lagi.” Seru Ririn kala melihat kekisruhan yang terjadi diarea belakang.


“kenapa sih yang sering datang kesini cuma om Abi aja, tante Bella, tante Vivi dan Om Adi ga pernah mengunjungi kita setelah pergi dari panti. Memangnya mereka ga pernah kangen ya sama kita?” sambungnya lengkap dengan raut wajah masamnya karena merasa sedikit kecewa.


“jadi Leon ga suka nih kalau cuma om Abi yang datang?” timpal Abi disela kunyahan pertamanya.


“bukan gitu om Abi.. Leon cuma merindukannya aja. Apa jika kita pergi dari panti itu artinya kita benar-benar meninggalkan semua kenangan disini kemudian melupakannya begitu aja?” celetuk Leon yang tampak tak berselera untuk makan, ditengah kesibukan teman-temannya memenuhi piring dengan lauk pauk yang ada.


“mungkin aja mereka sedang sibuk, nanti juga pasti kemari kok.” Oceh salah satu temannya disela mengunyah makanan yang berada dimulutnya.


“Leon, gak semua orang dewasa memiliki kesibukan yang sama. Mungkin tante Bella, tante Vivi dan om Adi benar-benar belum sempat datang kemari tahun ini. Tapi setidaknya mereka selalu mengirimkan hadiah untuk kalian semua kan setiap 1 bulan sekali. Ahh iya, tahun lalu juga tante Vivi dan om Adi datang kemari kan dihari ulang tahun bunda.” Timbrung Ririn yang mencoba menghibur Leon yang mendadak mellow.


“lalu bagaimana dengan tante Bella? Tante Bella bahkan belum pernah sekalipun mengunjungi kita sejak kepergiannya beberapa tahun lalu.” Katanya lagi lengkap dengan wajah sendunya.


“sudah-sudah, lebih baik Leon makan dulu ya. Nanti bunda akan coba menghubungi tante Bella, tante Vivi dan om Adi.”


“iya bunda.” Sahut Leon lirih yang kemudian membalikan piringnya dan mulai mengambil nasi serta lauk pauk untuk memulai makan siangnya.


“kapan Yudha akan kembali Rin?” tanya bunda Anna seraya mengarahkan pandangannya pada Ririn yang hendak menyuapi mulutnya makanan.


“amm.. kurasa mungkin setelah mas Yudha mendapat tangkapan ikan yang banyak hehee.” Responnya dengan diakhiri tawa kecilnya.

__ADS_1


***


Kembali ke aparteman Rihanna.


Suasana kala itu cukup tenang karena mereka tampak memiliki kesibukannya masing-masing. Nayeon dan Jeno yang tengah mengelap peralatan dapur seraya menyusunnya sementara disamping tubuhnya untuk diletakannya nanti.


Sementara disisi lain ada Ahreum dan Ansell yang tengah mengatur beberapa buku agar tersusun rapih dirak yang berada diruangan kecil disamping kamar.


Dan terakhir Rihanna yang tengah mencoba mengatur beberapa alat makan yang sudah bersih dilap oleh Nayeon sebelumnya.


“Ansell!! bisa kau bantu aku.” Seru Hanna dengan suara yang cukup lantang agar terdengar oleh telinga Ansell yang tengah fokus mengamati sebuah buku disela aktifitasnya menyusunnya ke dalam rak.


Lantas Ansell pun memberikan tatapan mautnya kala panggilan tersebut diterima baik oleh kedua telinga tajam Ansell.


“bantu aku dong, pasangkan tabung gas.” Sambung Hanna setelah mendapat lirikan maut tersebut.


“kenapa harus aku?” celetuk Ansell seraya menutup buku komik yang tengah dipegangnya dan mengarahkan tubuhnya pada Hanna yang mulai berjalan menghampiri keberadaannya.


“ayolah, hanya pasangkan tabung gas aja masa ga mau.” Ocehnya seraya melipat kedua tangan diatas dadanya.


Tanpa membalasnya dengan perkataan sorot mata Ansell pun langsung mengarah pada lelaki yang tengah terduduk dilantai sembari menikmati tugasnya mengelap-elap perabotan.


“eyyy ayolah! Aku tak mungkin mempercayakan tugas itu pada anak mami seperti dia.” Sindir Hanna dengan lirikan sesaatnya pada sepasang kekasih tersebut.


“kalau begitu kau aja sendiri yang lakukan!” ketus Ansell seraya menaruk buku komik pada rak kemudian pergi dari situasi penuh tekanan itu.


“yak! kalau aku yang pasang, nanti meledak bagaimana?!” seru Hanna yang kehabisan kata-kata untuk menghadapi lelaki beradarah dingin seperti Ansell.


Sementara Ahreum hanya bisa menghela nafas dan tetap meneruskan tugasnya ditengah keributan terkait perkara tabung gas. Haha.


“Lantas lo fikir kalau gua yang pasang, dan meledak. Gua gak akan mati gitu?!” balas Ansell tak kalah ngegasnya.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2