Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 170


__ADS_3

Setelah insiden yang membuat Ahreum tergelincir ke dalam lintasan bowling, Ansell pun membawa Ahreum yang masih terduduk dilintasan lengkap dengan raut wajah garangnya.


Lelaki berotot itu mendudukan istri mungilnya diatas bangku seraya berlutut dihadapannya ia mencoba memindai kedua lutut Ahreum yang lagi-lagi tampak sedikit lecet karena tergores lintasan bowling.


Bersamaan dengan itu juga para karibnya langsung berkumpul mengelilingi Ansell dan Ahreum.


“kenapa bisa sampai selecet ini, Ahreum?!” seru Hanna seraya merendahkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas beberapa goresan luka yang ada dikedua lutut karibnya tersebut.


“maafin aku yaa..” rengek Nayeon yang merasa dirinyalah penyebab dari kesialan yang menimpa Ahreum, kemudian duduk disamping Ahreum seraya meraih kedua tangan karibnya itu lengkap dengan tatapan sendunya.


“tidak.. tidak.. beberapa luka goresan ini sudah ku dapatkan sebelumnya. Tadi pagi aku menubruk dinding aparteman.” Sanggah Ahreum karena tak ingin Nayeon terus merasa bersalah.


“hmm..” Ansell menghembuskan nafas kasarnya seraya mengangkat wajahnya agar bisa memelototi istrinya itu.


“apa? nubruk dinding aparteman?” sahut Hanna dengan raut wajah bingungnya karena masih belum mengerti dengan yang Ahreum maksud.


“sudah cukup bermain-mainnya. Ayo pergi.” Tegas Ansell yang kemudian bangkit kemudian menarik lengan Ahreum agar bangkit dari bangkunya.


“kau masih bisa berjalan kan?” tambahnya kala Ahreum mulai bangkit.


“tentu, ini hanya luka lecet kecil aja. Dulu bahkan aku pernah mendapat luka yang lebih parah dari ini.” celetuk Ahreum seraya menggenggam erat lengan suaminya ditengah perjalanannya keluar dari area permainan bowling.


Disusul dengan Abi, Hanna dan Nayeon yang berjalan 3 langkah dibelakang mereka.


“kurasa Ansell sangat membenciku.” Gumam Nayeon pelan namun masih cukup terdengar oleh Hanna yang berada disampingnya.


“kenapa kau berfikir begitu?” sahut Hanna seraya merangkul tubuh karibnya sedangakan tangan 1 nya menggenggam erat tangan Abi.


“dia tampak selalu mengabaikanku, bahkan tidak mau berinteraksi denganku. Padahal waktu awal kita bertemu dia masih bisa diajak bicara dan mau menatapku. Semenjak insiden yang terjadi dihutan beberapa waktu lalu saat Ahreum diculik pria cabul. Ansell jadi begitu dingin dan tak pernah menganggapku ada.” Katanya lirih, yang membuat Hanna mengusap-usap bahu Nayeon untuk sekedar memberikannya ketenangan.


“sudahlah jangan diambil hati. Sepertinya sikap kasar dan brengseknya sudah mendarah daging ditubuhnya. Kau tak lihat, setiap kali aku bertemu dengannya kita selalu bersitegang. Dia memang pria…”


“sssttt..” cegah Abi seraya mengusap lembut punggung tangan Hanna dengan ibu jarinya. Abi mencoba menghentikan sumpah serapah atau umpatan kasar yang akan dilontarkan oleh kekasihnya itu.

__ADS_1


“kita lanjut nanti saja menjelekkan Ansellnya, kalau tidak ada kak Abi, oke.” Bisik Hanna, namun masih terdengar oleh telinga Abi meskipun samar-samar.


Abi hanya bisa terkekeh seraya menggeleng kepalanya. Sementara itu Nayeon terlihat mengangguk pelan seakan menyetujui saran yang diajukan Rihanna.


“ahh iyaa. Bisa kau jelaskan kenapa lutut Ahreum bisa lecet seperti itu?” tanya Hanna yang beralih pada kekasihnya.


“kau ingat saat aku bilang, aku bertemu dengan nona Ahreum dilobi.” Sahut Abi sebelum mulai memparkan apa yang terjadi.


“Iya, lalu?” balas Hanna, bersamaan dengan Nayeon yang juga ikut penasaran dan mencoba menunggu Abi kembali bersuara.


“Nona Ahreum memesan koper dan helm secara online, lalu membukanya langsung dilobi bersama dengan pak Rudy. Karena ingin memastikan kokoh atau tidaknya roda koper yang baru saja dibelinya. Saat keluar dari lift, nona Ahreum menduduki kopernya kemudian mendorongnya dengan keras sampai menghantam dinding disudut aparteman. Alhasil sekarang koper yang baru dibelinya pun rusak.” Cerita Abi panjang lebar yang kemudian disambut gelak tawa oleh kedua gadis yang berjalan disampingnya.


“astaga.. hahhahaa. Dasar Freak girl!” ujar Hanna ditengah tawa renyahnya.


“hehhehee.. kak Abi yakin tidak sedang mengarang. Setahuku Ahreum bukan gadis yang akan melakukan hal konyol seperti itu.” celetuk Nayeon yang ikut berpendapat.


“ppfffftttttt…” sambar Hanna kala Nayeon melontarkan kalimat tersebut seolah tengah mengejeknya.


***


“kita mau kemana?” tanya Hanna seraya melirik ke arah Abi yang tengah fokus menyetir mobil.


“Iyaa nih, kenapa ada banyak koper dibagasi.” Tambah Nayeon yang duduk dikursi paling belakang seraya memunculkan kepalanya diantara kursi Ansell dan Ahreum.


“kita mau ke villa keluarga Dirgantara hehee. Tapi sebelum kita mampir dulu ke aparteman Rihanna dan kediamanmu untuk mengemas beberapa pakaian dan juga kebutuhan lainnya.” Sahut Ahreum seraya menengok ke arah belakang agar bisa menatap langsung karibnya yang tengah duduk sendiri dikursi yang berada dibelakang kursinya.


Mendengar kata kediaman, Nayeon pun menarik tubuhnya dan kembali bersandar dikursi lengkap dengan wajah murungnya.


“aku belum siap untuk pulang ke rumah.” Ucapnya lirih seraya mengarahkan pandangannya ke balik jendela mobil.


“hmm..” Ahreum hanya bisa menghembuskan nafasnya seraya menatap karibnya tersebut dengan tatapan ibanya.


“tak perlu pulang ke rumah, kau kan sudah belanja pakaian dan lainnya beberapa hari yang lalu.” Timpal Hanna yang kemudian menoleh sesaat ke belakang pada kedua karibnya itu sebelum kembali pada posisinya.

__ADS_1


“ahh.. iyaa.. aku hampir lupa. Hehee.” Celetuk Nayeon yang kembali mencoba ceria dan berusaha baik-baik saja seperti permintaan kedua karibnya.


“apa kita perlu membawa bikini?” tambah Nayeon yang kembali muncul diantara kursi Ahreum dan Ansell.


“memangnya di villa ada pantai?” sahut Hanna yang kembali menoleh ke belakang.


“eeyyy.. kau memakai bikini bukan hanya ke pantai saja kan. Memangnya disana ga ada kolam berenang. Iya nggak Ansell?!” seru Nayeon yang mencoba mencairkan hubungan pertemanan diantara mereka berdua.


“he’em.” Ansell hanya berdeham dengan pandangan yang tak pernah lepas dari layar ponselnya sejak ia mendudukan bokongnya dikursi.


Melihat wajah Nayeon yang tampak terluka karena perlakuan dingin suaminya, Ahreum pun lantas mengusap lembut bagian atas kepala Nayeon lengkap dengan senyum lebarnya. Kemudian mencondongkan mulutnya dan menaruh telapak tangannya disamping pipinya tanda ia ingin membisikan sesuatu pada karibnya itu.


Mengerti dengan kode yang diberikan Ahreum, Nayeon pun menggeser wajahnya mendekat ke arah Ahreum.


“aku juga sudah menyiapkan bikini renda berwarna merah muda dikoper, hadian pernikahan darimu yang baru sempat ku pakai. Hehehee..” bisik Ahreum, namun tampaknya telinga tajam Ansell dapat menangkap samar-samar apa yang Ahreum bisikan pada karibnya itu, hingga membuatnya cengengesan dan berhenti menatap layar ponselnya.


“yak! Ahreum.. Jangan coba-coba memakainya?! Mengerti.” Tukas Ansell seraya memelototi wajah Ahreum lengkap dengan raut wajah seseorang yang tengah berusahan menahan gelak tawanya.


“memakai apa?!” seru Hanna yang kembali memutar tubuhnya ke belakang karena penasaran dengan percakapan yang tengah berlangsung dibelakangnya itu.


“bikini?” tambah Hanna lagi yang membuat Abi mengerutkan dahinya.


“Aughhh!!..” decak Ansell kesal seraya membuang muka ke sisi lain.


“memangnya kenapa kalau aku pakai bikini?


Kau takut matamu akan terkontaminasi oleh tubuhku yang jelek ini.” gerutu Ahreum sebal.


“jelek darimana?


Kau bahkan lebih cantik dari Hanna. Ahreum.” ucap Nayeon yang mencoba membuat suasana karibnya itu merasa lebih baik dengan pujiannya.


“Si**al!!.. Yak!!.. Ahreum, si Ansell melarangmu memakai bikini bukan karena takut matanya terkontaminasi oleh tubuhmu. Melainkan dia ga akan tahan dan akan langsung membawamu ke ranjang untuk…” celetuk Hanna dengan nada ngegasnya, namun belum sempat Hanna menyelesaikan kalimatnya mulutnya langsung dibungkam oleh tangan Abi. Dan juga mendapat sambutan yang tak ramah dari kedua mata tajam Ansell yang seakan menyruhnya untuk berhenti berbicara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2