Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 206


__ADS_3

15 menit kemudian begitu Ansell menyelesaikan ritualnya dikamar mandi, ia pun keluar dengan jubbah mandinya dan 1 handuk kecil yang masih melekat diatas rambutnya yang basah.


Melihat raut wajah Ahreum yang tengah berseri-seri memandangi layar ponselnya membuat kecurigaan Ansell kembali memenuhi otak negativenya. Ia pun bergegas menuju sisi ranjang Ahreum berniat untuk langsung merampas ponsel yang kini tengah digenggam Ahreum.


Namun dengan cepat Ahreum menyembunyikan ponsel tersebut ke balik tubuhnya lengkap dengan cengiran yang membuat suaminya itu merajuk dan mengepalkan kedua tangannya.


“eeyyy.. Aku hanya melihat foto-fotomu kok.” Ujar Ahreum yang akhirnya mengalah kemudian menunjukan apa yang kini tengah dilihatnya.


“kenapa kau senang sekali menggodaku Ahreum?!” rajuknya seraya menatap sinis ke arah istrinya yang masih menunjukan ponselnya dengan senyum lebar.


“Jadi, kau ingin aku menggoda pria lain?” celetuk Ahreum seraya menarik ponselnya masih dengan cengengesan.


“YAK!!” bentak Ansell yang mampu membuat Ahreum terhentak saking terkejutnya mendengar suara lantang suaminya itu.


“astaga! huhhh..” dengus Ahreum yang kemudian memiringkan tubuhnya ke arah lain sembari memainkan kembali ponselnya.


“kau tak akan mandi?!” lanjut Ansell masih dengan nada yang tidak ramah.


“Iya nanti. Kau mau berangkat kerja?


Oke, hati-hati ya.” Sahut Ahreum datar tanpa menoleh dan tetap fokus pada layar ponselnya.


“Ayo cepat mandi!


Kita sarapan bersama.” Titah Ansell seraya menarik langkah menuju ruangan pribadinya, tempat dimana ia menyimpan pakaian, sepatu, jam tangan dan lain sebagainya.


“Iya nanti aja, aku masih sibuk.” Cetus Ahreum yang membuat Ansell pun memutar tubuhnya dan menatap nakal istrinya yang masih terbaring diranjang dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


Menyadari ada yang tengah memperhatikannya, Ahreum pun mencoba menoleh, dan benar saja suaminya itu kini tengah bersandar diambang pintu yang menghubungkan ke suatu ruangan pribadi Ansell seraya melipat tangan diatas dadanya.


Ansell pun menaikan salah satu sudut bibirnya dengan pandangan penuh artinya ke arah Ahreum.


“apa?” tanya Ahreum yang tak mengerti maksud dari tatapan aneh itu.


“kau.. tidak bisa berjalan ya? Mau ku gendong.” Ujar Ansell yang membuat Ahreum terkejut karena suaminya itu menyadari alasan kenapa dirinya bersikeras untuk tetap berbaring diranjang.


“ti.. tidak.. aku hanya sedang ingin malas-malasan aja.” dalihnya yang kemudian kembali memiringkan tubuhnya ke arah lain, karena ia tak ingin suaminya menangkap rasa gugup yang menguasai dirinya saat ini.


“ciiihhh!!


Kalau begitu bagaimana kalau kita melakukannya lagi?!”


“TIDAK!” tanpa sadar Ahreum langsung merespon penolakannya dengan tegas membuat dirinya tertangkap basah.


“HHahhaaa!!” ejek Ansell yang masih tetap tak ingin meninggalkan tempatnya dan terus memperhatikan istrinya yang tengah bergumul dengan rasa malu.


“yak! Ini juga karena dirimu tahu!” pekik Ahreum yang memberanikan diri kembali memutar tubuhnya ke arah Ansell dan menatapnya tajam.


“aku?” sahut Ansell seraya mengangkat 1 alisnya.


“Iya, karena ti**tit mu besar sekali!!” seru Ahreum yang kemudian bangun dari tidurnya dengan mengapit selimut diantara ketiaknya agar bukit kecilnya itu tidak tereskpos.


“YAK!! AHREUM!!” bentak Ansell disertai membulatnya kedua pupilnya mendengar kalimat frontal yang istrinya lontarkan itu.


Ia pun lantas berjalan kembali menuju tepi ranjang Ahreum dengan tatapan intensnya.


“apa?! Kau yang memancingku duluan.” Balas Ahreum tak kalah garang yang membuat Ansell pun terkekeh gemas.


“ckckck.. dimana? Dimana yang sakitnya coba ku lihat?!” goda Ansell lagi seraya mencoba menarik selimut yang membalut tubuh mungil istrinya.


“si**al..” umpat Ahreum pelan ditengah pertarungan sengit yang terjadi saling tarik menarik selimut.


“apa?! Kau mengumpatku?” protes Ansell yang mendengar samar umpatan istri mungilnya itu, ia pun lantas menarik lengannya dari selimut kemudian berkacak pinggang dihadapan istrinya.

__ADS_1


“mengumpat? Siapa yang mengumpat? Aku gak bilang apa-apa kok. Sepertinya telingamu perlu dikorek deh.” celetuk Ahreum yang kemudian kembali membaringkan tubuhnya dan bersiap memainkan ponselnya lagi.


Ansell hanya bisa menggeleng kepala dengan raut wajah sebalnya. Kemudian pergi karena sudah tak memiliki banyak waktu, ia harus pergi bekerja.


Namun, saat lengan Ansell hendak menarik handle pintu, ia kembali berbalik dan menatap ke arah istrinya yang tengah memainkan ponselnya.


“apa lagi?” ketus Ahreum yang menyadari jika suaminya itu tengah memperhatikannya.


“apa payu**da**ramu itu berhenti berkembang saat SD?” ejek Ansell yang diakhiri dengan senyum jahilnya ia pun lantas buru-buru menghilang dari pandangan Ahreum dan masuk ke dalam ruangan pribadinya.


“AUGHHHH!! SI**AALLL!!” amuk Ahreum seraya bangun dari tidurnya tanpa mengapit selimutnya hingga kini bukit kembarnya itu terpampang nyata.


***


Ruang tengah lebih tepatnya diruang keluarga.


Saat ini terlihat Abi tengah terduduk di sofa sembari sibuk mengamati layar tablet yang berada dalam genggamannya. Ditemani secangkir kopi hangat yang sebelumnya dibuatkan oleh salah satu pelayan muda anggap saja si C.


Keheningan itu tak berlangsung lama, sampai…


“kak Abi!!” panggil seorang gadis yang baru saja hadir membuatnya sontak melirik ke arah sumber suara tersebut.



Dilihatnya Rihanna dan Nayeon tengah berlarian menuju keberadaannya saat ini, ia pun lantas menaruh sejenak tabletnya diatas meja kemudian berdiri tegap untuk menyambut kedatangan kekasih dan karibnya itu dengan senyum ramahnya.


Tak ingin hanya sekedar senyuman, Rihanna langsung memeluk Abi dengan penuh emosional sehingga pelayan yang bernama C yang tengah membawa nampan berisikan beberapa cemilan pun terkejut hingga menjatuhkan nampannya.


“kenapa dia?” celetuk Hanna lengkap dengan raut wajah herannya, ia pun perlahan melepaskan pelukannya.


Sementara itu disisi lain Nayeon pun ikut kebingungan karena sikap sembrono pelayan muda tersebut.


“nona C kau baik-baik saja?” tanya Abi yang khawatir kemudian mencoba membantu pelayan C memungut cemilan dan ditaruhnya ke atas nampan.


“I.. iya.. saya gak apa-apa tuan. Biar saya aja yang membereskannya tuan.” Ucap si C dengan hati yang remuk padam melihat suasana yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


“Iya nih, dia baik-baik aja kan?” tambah Rihanna.


Abi pun berdiri bersamaan dengan pelayan C yang sudah selesai memunguti cemilannya.


“saya akan membawakan cemilan yang baru tuan.” Pamit pelayan C seraya merendahkan kepalanya kemudian lantas pergi dengan linangan air mata yang menemani perjalanannya menuju area dapur.


Abi pun mengangguk dengan senyuman ramah seperti biasanya untuk menanggapi pamit sang pelayan tanpa tahu kondisi hatinya yang tidak baik-baik saja.


“Iya nona Ahreum baik-baik saja. Kurasa nona Ahreum juga masih tertidur. Nona dan tuan Ansell belum turun.” Jelas Abi yang kemudian kembali meraih tabletnya yang berada diatas meja dan duduk disofa.


“benarkah?


Aku ingin memastikannya ah!” seru Hanna yang berniat menyusul ke kamar karibnya itu.


“Jangan..


Tunggu disini aja, tadi malam kau bermalam dimana?” tanya Abi lembut seraya menarik lengan Hanna kemudian mendudukannya disamping dirinya.


Meski kesal karena jadi obat nyamuk diantara keduanya, Nayeon pun tak memiliki pilihan lain selain duduk disofa berbeda selagi menunggu karibnya turun.


“ahh iya!! Kenapa kau tak menjemputku?


Aku malah berakhir menginap dikantor polisi bersama 2 pasangan aneh itu.” celetuk Hanna seraya melirik ke arah Nayeon yang tengah asyik memainkan ponselnya.


“aissshh!! Dia bukan pacarku!” balas Nayeon dengan nada ketusnya.


“ehehhee..” Hanna cengengesan merespon rajukan Nayeon.

__ADS_1


“Padahal baru 2 hari tapi kenapa aku sangat merindukanmu ya.” Lanjut Hanna seraya mencoba menelusup ke dalam lingkaran tangan Abi yang tengah menggenggam tablet dan menatap layar serius.


“aku sedang bekerja Rihanna.” Ucap Abi lembut seraya menatap kedua manik kekasihnya itu yang juga tengah memandanginya dengan penuh cinta dan berharap jika Rihanna menjauh dari dada bidangnya.


“kau tidak merindukanku?” kata Rihanna seraya mengedip-ngedipkan kedua matanya mencoba bertingkah imut dihadapan kekasihnya.



Abi pun terkekeh, dilanjut dengan Rihanna yang memanyun-manyunkan mulutnya berharap jika Abi akan mendekat dan memberikan kecupan hangatnya.



“Yak! Apa yang kau lakukan dirumahku!” tukas Ansell tajam kala ia menuruni tangga sembari mengaitkan kancing yang berada diarea pergelangan tangannya.


“aisshh!! Mengganggu kebahagiaan orang lain aja.” dengus Hanna yang kemudian menarik tubuhnya, dan kembali duduk dengan benar.


Abi lagi-lagi tekekeh melihat rajukan kekasihnya yang tampak menggemaskan baginya.


“kau sudah sarapan?” tak perduli dengan dengusan Rihanna, Ansell pun beralih pada Abi begitu langkahnya telah sampai di anak tangga terakhir.


“belum, aku menunggumu, dimana nona Ahreum?” tanya Abi yang heran sebab Ahreum tidak turun bersama dengan suaminya saat ini. “apa masih tidur?” lanjut Abi menerka-nerka seraya bangkit dari sofa dan menaruh kembali tabletnya diatas meja.


“Tidak.” Sahut Ansell.


“B.. B!!” panggil Ansell lantang.


“Iyaaa tuan!!” teriak pelayan B tak kalah nyaringnya sembari berlarian dari area dapur untuk segera menghampiri keberadaan tuannya.


“bawakan sarapan untuk istriku ke kamarnya.” Titah Ansell yang kemudian melirik jam yang melingkar dipergelangan tangannya sejenak. “30 menit dari sekarang.” Lanjut Ansell seraya berlalu pergi setelah memberikan perintahnya bahkan tanpa menunggu sahutan dari pelayannya.


“baik tuan.” Sahut B saat Ansell berjalan melewatinya sembari merendahkan kepalanya sebagai tanda hormatnya.


“ahh iya!!


Kalian berdua!! Jangan menganggu Ahreum untuk saat ini!” tambah Ansell seraya memutar tubuhnya dan mengarahkan pandangannya pada Rihanna dan juga Nayeon yang masih terduduk manis disofa, yang tentu saja langsung dibalas dengusan sebal oleh Rihanna sedangkan Nayeon hanya bersikap datar.


Ansell pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju area dapur untuk menyantap sarapan paginya.


“Kau sudah sarapan?” tanya Abi lembut kala Hanna beranjak dari sofa.


“belum.” Jawab Rihanna singkat karena masih kesal.


“bagaimana dengan kau Nay?” tambah Abi seraya mengarahkan pandangannya pada Nayeon kini yang ikut bangkit dari sofanya.


Nayeon pun menggelengkan kepalanya sebagai pengganti kata ‘belum’.


“yaudah lebih baik kita sarapan dulu aja sekarang.” Ucap Abi.


“tapi Ahreum?


Aku masih belum tenang jika belum benar-benar memastikan keadaannya dengan kedua mataku sendiri.” rengek Rihanna sembari melirik ke arah lantai 2 sesaat.


“Iya kak Abi, apa gak boleh kita mengintip sedikit aja kamar Ahreum. Kita benar-benar mengkhawatirkannya.” Sambung Nayeon yang juga memiliki pemikiran yang sama dengan Rihanna.


“Nanti.. nanti setelah Ansell pergi oke. Gak akan lama kok, karena Ansell juga ada meeting pagi ini. Dia akan segera berangkat kerja.” Tutur Abi seraya mengusap bagian atas kepala Hanna dan menatapnya lekat sebelum kembali beralih pada Nayeon yang berdiri tak jauh dibelakang Rihanna.


“hmm..” keluh Hanna pasrah lengkap dengan raut wajah kecewanya.


Melihat hal itu Abi pun lantas memegang kedua pipi gembil Hanna kemudian perlahan mendekatkan bibirnya lalu mengecup kening kekasihnya itu penuh kasih sayang. Tak puas hanya dikecup dikening, Hanna pun kembali memanyunkan bibirnya tanda ia ingin lebih dari kecupan kening.


Melihat situasi yang semakin membuat dirinya gerah , Nayeon pun lantas memilih pergi lebih dahulu meninggalkan keduanya.


Abi kembali terkekeh dan menyerah kali ini, ia pun mengecup lembut bibir kekasihnya yang sangat dikasihinya itu.

__ADS_1


***


Bersambung…


__ADS_2