Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 228


__ADS_3

“hmm..


Aku iri padamu, bisakah kita bertukar keluarga?


Aku ingin terlahir dari keluargamu, Ahreum.” Jeno bergumam seraya mengayun-ayunkan kakinya seperti bocah yang tengah ngambek.


“Yak! Bodoh! Kau lupa?


Aku juga dijodohkan!” tukas Ahreum tajam seraya menggeplak bahu Jeno.


“HHAahhahhahhaa!!” terdengar ledakan tawa dari keduanya yang memecah keheningan malam kelam dikala itu, membuat suasana kembali terasa cerah setelah beberapa saat lalu keduanya menumpahkan rasa sedih yang menyelimuti hati mereka.


Setidaknya Jeno merasa sedikit lega karena sudah berbagi cerita dengan teman kecilnya yang selalu ada untuknya, sejak dulu hingga saat ini.


“Apa dia cantik?” tanya Ahreum yang kembali melanjutkan percakapannya.


“Entahlah, dia terus menundukan kepalanya dan tak berani menatapku. Kurasa kepribadiannya kebalikan dari Nayeon.” Tuturnya.


“Ahh iya, btw.. Apa kau tahu, jika Nayeon kini sedang dekat dengan Raffa.” Ujar Ahreum yang berniat memanas-manasi Jeno.


“benarkah?


Baguslah kalau begitu, akhirnya dia mau membuka hati untuk orang lain.” Sahut Jeno, yang membuat Ahreum mengerutkan keningnya karena tak menduga respon Jeno yang begitu santai mendengar mantan kekasihnya sudah menemukan pria lain.


“kau.. tidak merasa cemburu gitu?” timpal Ahreum yang masih penasaran dengan perasaan karibnya itu.


“tidak..


Jika itu yang terbaik untuknya, aku akan mendukungnya.” Lirih Jeno dengan senyum simpul yang tampak sekali dipaksakan.


“uuuhh.. kau sudah dewasa rupanya, hahaha!!” seru Ahreum seraya menepuk-nepuk bokong Jeno lengkap dengan tawa renyahnya.


“yak! berhenti memperlakukanku seperti bocah, aku bahkan lebih tua darimu tahu!” tukas Jeno tajam.


“eeyyyy.. kau hanya lahir 1 minggu lebih dulu dariku tahu. Tua dengkulmu hahhaa!!” balas Ahreum yang masih berusaha menggoda dan juga menghibur karibnya.


***


Sementara itu disisi atap gedung lainnya.



“Apa itu, bukankah itu terlihat seperti Ahreum?!” pekik Ansell seraya menyipitkan kedua matanya yang mengarah ke tempat dimana Ahreum dan Jeno tengah bersantai diatas tembok pembatas.


Melihat keduanya begitu dekat dan sesekali tertawa bersama membuat Ansell meradang hingga mengepalkan kedua tangannya.


“Iya nih, ngapain mereka ada diatas sana?” Abi bergumam sembari ikut menyipitkan pandangannya ke arah yang sama.


“Astaga!!

__ADS_1


Baru beberapa menit lalu aku menyuruhnya untuk tidak macam-macam dan langsung menemuiku, sekarang aku malah melihat gadis itu tengah berduaan dengan pria lain diatas atap. Apa yang sebenarnya dia fikirkan?!


Aughhh!! Lihat saja apa yang akan ku lakukan padanya!!” geram Ansell yang langsung bergegas menarik langkah panjang berniat menghampiri keberadaan istrinya yang masih asyik berbincang dengan karibnya.


“tenanglah Ansell,


Kurasa pria yang disampingnya adalah mas Jeno.” Ujar Abi yang ikut menyusul langkah cepat Ansell.


“Jika dia Jeno, lantas kenapa hah?!


Kau fikir si Jeno itu bukan PRIA?!!” bentak Ansell seraya memasang tatapan menyalaknya pada Abi, sebelum kembali meneruskan langkahnya.


“bukan begitu maksudku, mereka sudah berteman sejak kecil, kau masih cemburu padanya?” terang Abi kembali.



“yak! Kau percaya ada pertemanan antara pria dan wanita?!


Aughhh!! Kau naïf sekali Abighail.” Celetuk Ansell yang terus memacu langkahnya mencoba menerobos kerumunan para tamu diruang tengah yang kini tengah menikmati acara dansa.


Singkat cerita sesampainya Ansell dan Abi di depan pintu yang terhubung ke atap.


“tunggu!!” cegah Abi seraya menahan lengan Ansell yang hendak menarik pintu.


“Apa lagi sih!!” ketus Ansell seraya mendorong menyungkirkan tangan Abi yang menempel lekat diatas punggung tangannya.


“kau tak ingat nona Ahreum mudah terkejut, Ansell?” lanjut Abi kembali yang tetap kekeh untuk mencoba meredam amarah Ansell yang tengah meluap-luap.


“Jika dia terkejut bukan tidak mungkin secara refleks dia akan menjatuhkan dirinya sendiri ke bawah, mengingat dirinya kini tengah duduk ditepi atap. Jadi tolong kendalikan emosimu, kau tak ingin istrimu terjun bebas kan?” papar Abi kembali yang mampu membuat Ansell akhirnya menurunkan egonya.


“Aughhh sial!!” dengus Ansell kesal.


“tunggu, biar aku yang memanggilnya.” Ucap Abi yang kemudian menarik handle pintu perlahan seiring dengan langkahnya yang kini telah memasuki area atap.



“nona Ahreum..” panggil Abi selembut mungkin agar gadis yang tengah bercanda riang dengan karibnya itu tidak terlalu terkejut mendapati kehadiran Abi.


“ahh.. kak Abi.. hehee.


Kok bisa ada disini.” Sahut Ahreum seraya memutar tubuhnya ke arah Abi, diikuti dengan Jeno yang juga memutar tubuhnya kemudian menyapa Abi dengan menundukan kepalanya sedikit pada Abi.


“Malam mas Jeno.”  Sapa Abi seraya membungkukan tubuhnya sedikit.



“Iya malam juga kak Abi.” Respon Jeno seraya meloncat turun dari tembok, sedang Ahreum masih tampak enggan turun dari tembok dan hanya menatap kedua pria yang berada dibawah itu secara bergantian.


“nona Ahreum, tidak turun?” bujuk Abi selembut mungkin yang melihat Ahreum malah menengokan wajahnya ke arah langit malam sembari menikmati angin sejuk yang merasuk ke dalam pori-pori kulitnya.

__ADS_1


“Iya nih, kenapa kau tidak turun, kau bisa masuk angin tahu.” Tambah Jeno seraya mengulurkan tangannya untuk membantu karibnya itu turun.


“hmmm..” Ahreum pun menghela nafasnya sejenak sebelum menerima uluran tangan Jeno kemudian meloncat turun.



“dimana Ansell, kak Abi?


Dia pasti marah sekali ya padaku? Maaf ya aku sudah berusaha mencarinya kesana-kemari tapi..”


“tapi apa?!” ketus Ansell tajam yang akhirnya keluar dari persembunyiannya setelah mendapati istrinya itu sudah berada ditempat yang aman.


“hehhee.. kau ada disini rupanya.” Cengir Ahreum yang kemudian bersembunyi dibalik tubuh Abi.


“Aku pergi ya.” Pamit Jeno seraya menepuk bahu Ahreum dan memberikan senyum hangatnya sebelum undur diri.


“Siapa yang mengijinkanmu pergi?!” pekik Ansell lengkap dengan tatapan tajamnya yang mengarah pada Jeno seakan hendak ingin memukulinya.


Buru-buru Abi pun bergegas menghampiri Ansell, kalau-kalau ia langsung mengamuk dan memukuli Jeno.


“eyyy.. eeyyy.. kau cemburu padanya?


Dia tidak apa-apanya dibanding dirimu sayang.” Rayu Ahreum yang langsung mengambil langkah cepat menghampiri suaminya kemudian menautkan tangannya ke dalam siku Ansell dan menggiringnya pergi menjauh dari situasi menegangkan itu.


“ciihh!!” dengus Ansell, meski masih merasa kesal namun tetap saja mendengar rayuan atau pujian dari istrinya seketika hatinya langsung luluh dan mengalah untuk tidak mempermasalahkannya lagi.


Mereka berdua pun pergi lebih dulu.


“Astaga..


Kenapa dia selalu berfikir aku adalah saingannya?!” gerutu Jeno seraya menarik langkah pergi begitu Ahreum dan Ansell telah menghilang dari pandangannya.


“Maaf atas perlakukan kasar pak Ansell ya mas Jeno, saya harap mas Jeno bisa mengerti.” Ucap Abi seraya ikut menarik langkah menyusul Jeno.


“Aughh!!


Aku tak mengerti, bagaimana kak Abi bisa bertahan dengan sikapnya yang angkuh dan arrogan. Pasti sulit sekali kan?


Hmm.. semangat ya kak Abi.” Timpal Jeno yang kemudian menghentikan langkahnya sejenak dan menatap manik Abi lalu mengusap bahu lebarnya untuk memberikan dukungan moril padanya.


Ia pun lantas kembali melanjutkan perjalanannya setelah mendapat balasan senyum ramah dari Abi.


“ahh iya..” sambung Jeno yang kembali berbalik seakan ada hal yang terlupakan.


“kudengar kak Abi berkencan dengan Rihanna?


Sepertinya kita akan menjadi saudara, hahaa. Karena aku dijodohkan dengan Valleria Dwyne, saudari tiri Rihanna.” Lanjut Jano sebelum kembali meneruskan perjalanannya dan meninggalkan Abi yang masih termangu mendengar berita yang cukup membuatnya terkejut.


“bagaimana mungkin?” Abi bergumam masih memandangi punggung Jeno yang menjauh dari pandangannya.

__ADS_1


***


Bersambung..


__ADS_2