
“ciih.. dia memang pantas mendapatkannya kalau begitu.” Gumam Ansell yang kemudian kembali menyantap makanannya yang sedari tadi dianggurin karena saking antengnya mendengarkan cerita masa kecil istrinya.
“pantas? Apanya yang pantas.” Sahut Ahreum yang ternyata mendengar gumaman kecil Ansell.
“ahh, tidak.
Apa hal itu juga yang membuatmu mendorong Jeno hingga terjatuh dan mendapat luka jahitan dikepala?” kata Ansell seraya kembali menyuapi mulutnya dengan lauk pauk.
Mendengar hal itu membuat Ahreum mengangkat 1 alisnya karena tidak menduga jika Ansell mengetahui perbuatan kejamnya dimasa lalu terhadap Jeno.
“dia terjatuh sebab terpeleset dari tangga, karena terlalu banyak menertawaiku sampai perutnya sakit kemudian tubuhnya goyang dan hilang keseimbangan lalu terjatuh.
Mungkin dia melihat tanganku yang hendak meraih tubuhnya dari atas hingga dia berfikir kalau aku yang mendorongnya.” Bela Ahreum lengkap dengan raut wajah mendukungnya membuat Ansell yang kini terdiam seraya mengangkat 1 alisnya.
“ahh, begitu rupanya.” Sahut Ansell yang kemudian membereskan alat makan dan hendak bangkit dari kursinya tanda sarapan paginya telah usai.
“ayo cepat, udah siang tuh.” Seru Ansell saat ia melangkahkan kakinya menuju wastafel untuk menyimpan piring dan alat makan yang kotor.
Sementara itu Ahreum tampaknya masih asyik menikmati sarapan paginya dan tak terpengaruh sama sekali oleh dumelan suaminya.
Selagi menunggu Ahreum menghabiskan makanannya Ansell pun memutuskan untuk mencuci piring dan alat makannya terlebih dahulu, ya setidaknya hal kecil seperti itulah yang membuatnya bisa meringankan beban pekerjaan asisten rumah tangganya.
Beberapa menit kemudian begitu selesai mencuci piring, ia pun mengelap kedua lengannya yang basah dengan lap yang tergantung tidak jauh dimana wastafel berada. Sebelum kembali memeriksa situasi di meja makan.
“astaga..” dengus Ansell seraya menggeleng kepalanya kala melihat Ahreum masih belum membereskan sarapan paginya.
“kau sedang sarapan atau makan siang sih!” celetuk Ansell yang kembali berjalan menghampiri meja makan.
“oke.. okee.. satu suap lagi..” gumam Ahreum yang tengah mencoba mempercepat kunyahannya seraya menyiapkan suapan terakhirnya.
__ADS_1
Melihat kelakuan istri mungilnya tersebut membuat Ansell pun terkekeh, dan mencoba mengisenginya dengan menahan sendok yang berisikan 1 suapan terakhir Ahreum itu.
“ahhhh..” rengek Ahreum yang juga tak mau kalah ingin tetap mempertahankan suapan terakhinya,tak kehilangan akal alih-alih menarik sendok untuk masuk ke dalam mulutnya, ia memutuskan untuk mendekatkan mulutnya saja agar bisa melahap suapan terakhirnya.
Dan akhirnya pertarungan sengit itu pun dimenangkan oleh Ahreum yang membuat Ansell benar-benar terhibur hingga tanpa sadar kembali tertawa kemudian mencubit salah satu pipi Ahreum karena saking gemasnya.
“ekhem.. ayo cepat, mandi dan ganti bajumu.” Ujar Ansell dengan nada sedikit canggung setelah melepas jemarinya dari pipi Ahreum yang masih mencoba mengunyah makanannya.
“oke.” Sahut Ahreum setelah meneguk air mineral kemudian bangkit dari tempat duduknya, sedangkan Ansell pergi lebih dulu menuju kamarnya.
“kalau dia bisa menyenangkan seperti itu, kenapa juga dia harus berlaku kasar padaku? Mungkinkah itu konsep menjadi fucek buoy.” Gumam Ahreum ditengah aktifitasnya mencuci piring kotor.
“aduuhh nona, biarkan aja nanri bibi yang bersihkan.” Seru bi Ijah yang telah kembali dari membuang sampah, melihat Ahreum tengah mencuci piring lantas ia pun bergegas menghampiri Ahreum dengan raut wajah cemasnya.
“gak apa-apa kok bi, tadi juga Ansell mencuci piringnya sendiri. Kalau cuma hal kecil kayak gini mah gampang hehee.”
Criinggg.. karena pandangannya yang tidak fokus pada piring yang tengah dipegangnya membuat piring tersebut terlepas dari genggamannya karena licin, dan serpihan piring yang menghantam wastafel pun mengenai telapak tangan Ahreum.
“astaga nona Ahreum!!..” panik bi Ijah lengkap dengan kedua matanya yang membulat, ia pun menarik lengan Ahreum untuk mencoba mengeluarkan serpihan beling yang terlihat masih bersarang ditepi telapak tangan mungil Ahreum.
“sudah bibi bilang kan biar bibi aja, pokoknya nona gak boleh melakukan pekerjaan kasar seperti ini lagi.” Dumel bi Ijah setelah berhasil mengeluarkan serpihan kecil dari telapak tangan Ahreum kemudian meletakannya di pinggiran wastafel untuk dibuangnya nanti bersamaan dengan serpihan yang masih berserakan didalam wastafel.
“aku gak apa-apa bi, ini hanya luka kecil. Bibi ga perlu khawatir, oke.” Ucap Ahreum yang mencoba menenangkan bi Ijah dengan mengusap lembut bahu bi Ijah menggunakan tangannya yang lain serta senyuman manis yang tak pernah hilang dari wajah mungilnya.
“tidak, bibi tidak bisa tenang nona, meski luka kecil sekalipun. Nona duduk dulu ya bibi ambilkan kotak P3Knya dikamar.” Kata bi Ijah seraya menggiring tubuh Ahreum dan mencoba mendudukannya dikursi.
“tapi biii.. ini udah siang banget, aku juga belum mandi. Lukanya tinggal aku plasterin aja kok, bibi gausah khawatir aku baik-baik aja, oke.” Kekeuh Ahreum yang kembali bangkit dari kursinya kemudian berjalan mendahului bi Ijah yang hendak memasuki kamarnya.
“hmm..” bi Ijah hanya bisa menghela nafas pasrah serta menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Selang beberapa menit setelah Ahreum memasuki kamarnya, Ansell pun muncul dari balik pintu kamar dengan setelan casual kaos oversize berwarna hitam dipadupadankan dengan celana pendek cargo berwarna coklat muda, tak ketinggalan juga accesoris pelengkap seperti topi dan waist bag yang menunjang penampilannya hari ini.
“dimana Ahreum bi? Masih belum keluar dari kamarnya.” Tanya Ansell seraya berjalan mendekati bi Ijah yang tengah membersihkan pecahan beling didalam wastafel.
“mungkin sebentar lagi tuan, amm.. tadi sebenarnya ada kecelakaan kecil..” Paparnya, yang membuat 1 alis Ansell terangkat karena masih belum mengerti apa yang sebenarnya bi Ijah maksud.
“kecelakaan apa?” tanya Ansell yang kemudian tak sengaja mengarahkan pandangannya ke wastafel hingga tampak pecahan beling yang tengah bi Ijah kumpulkan.
“ahh itu, gak apa-apa bi, masih banyak perabotan lain kan. Hanya 1 piring yang pecah, bibi gak kenapa-napa kan?” sambung Ansell yang baru menyadari akan kecelakaan yang dimaksud bi Ijah.
Ia berfikir jika bi Ijah lah yang memecahkan piring tersebut hingga membuat bi Ijah tampak merasa bersalah karena tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik.
“tidak tuan..” ucap bi Ijah, yang langsung dibalas anggukan oleh Ansell kemudian membalikan tubuhnya untuk mengakhiri percakapannya dengan bi Ijah.
“bukan bibi yang kena, tapi nona Ahreum.” Tambah bi Ijah yang membuat langkah Ansell langsung terhenti kemudian kembali memutar tubuhnya mengarah pada bi Ijah.
“saat bibi kembali, bibi melihat nona Ahreum sedang mencuci piring, bibi sudah menghentikannya tapi nona Ahreum bersikeras untuk melanjutkan karena sudah tanggung. Dan ga sengaja piring yang dipegang nona terlepas dari genggamannya lalu terjatuh dan serpihan belingnya mengenai tangan nona Ahreum.” Jelas bi Ijah panjang lebar.
Tanpa berkata-kata lagi Ansell pun lantas menarik langkah menuju kamar istri mungilnya tersebut untuk mengecek keadaannya setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari bi Ijah.
Brrrruukkk!! Suara hantaman pintu kamar Ahreum begitu nyaring terdengar.
Ahreum yang baru saja keluar dari kamar mandi masih dengan jubbah mandi pun sampai terkejut hingga refleks memegangi bagian dadanya karena jantungnya yang tiba-tiba saja berdegup kencang.
“augghh si***… kau suka sekali membuat orang jantungan, Ansell?! bagaimana jika jantungku berhenti bekerja.” Pekiknya lengkap dengan tatapan sinis yang mengarah pada Ansell yang masih berdiri diambang pintu.
“tanganmu terluka?” tanya Ansell seraya melangkahkan kakinya dengan cepat menuju keberadaan Ahreum.
***
__ADS_1
Bersambung...