
Aparteman Bougenville.
Terlihat Ansell masih terbaring disofa ruang tamu dengan posisi tubuh telungkup dan 1 tangannya menjuntai ke bawah hingga mengenai lantai. Sementara itu diatas meja tampak sangat kacau sekali dengan dipenuhi kaleng bir kosong yang posisinya sudah tak karuan, ada yang terguling dan ada juga yang sudah tidak memiliki bentuk akibat remasan ganas tangan Ansell tadi malam.
Ceklek… suara pintu berbunyi dengan disusul kemunculan seseorang yang sudah tak asing lagi bagi Ansell, yaitu teman dan sekaligus asisten Ansell, Abighail Pramudya.
Lengkap dengan sebuah tablet dalam genggamannya Abi berjalan santai menuju ruang tamu, tempat dimana atasannya menghabiskan malam kelamnya.
“pak Ansell, anda harus bangun sekarang, jika tidak, anda akan terlambat.” Ucap Abi yang berdiri disamping sofa sembari memperhatikan tubuh Ansell yang mulai bergerak.
“auggh!!” keluhnya seraya mencoba bangun dari tidurnya kemudian dilanjut dengan sedikit peregangan pada tubuhnya, terutama diarea leher karena semalaman ia tidur telungkup membuat lehernya kini terasa kram.
“tubuhku rasanya sakit semua, tunda rapatnya sampai jam 10:00 aku perlu memulihkan tubuhku.” Perintah Ansell seraya bangkit dari sofa kemudian berjalan melewati Abi, dan hendak ke dapur untuk mengambil air mineral.
“baik pak.” Sahut Abi begitu Ansell selesai mengucapkan perintah padanya.
“dan..” tambah Abi, namun tampaknya ia ragu untuk meneruskannya.
“dan? Apalagi?!” seru Ansell setelah meneguk air mineral yang diambilnya dari lemari pendingin.
“nona Ahreum..”
“berhenti, aku tak ingin mendengar namanya untuk saat ini!” sambar Ansell seraya kembali meneguk air mineralnya sampai habis tak tersisa.
“kurasa nona Ahreum bermalam diatap kemarin malam.” Ucap Abi yang tak mendengarkan perintah atasannya itu, dan malah meneruskan apa yang sedari tadi ditahannya.
“apa?!” timpal Ansell lengkap dengan raut wajah terkejutnya.
***
Kembali ke kediaman Elios gavriel.
Lebih tepatnya diruang makan keluarga yang cukup luas meskipun sebenarnya saat ini hanya tinggal Elios dan putri kecilnya Xena saja. Begitu ketiganya telah sampai diruangan tersebut, Elios pun langsung menarik kursi yang berada tepat disamping kursi yang akan didudukinya nanti.
Dengan senyuman canggung Ahreum pun mendudukan bokongnya dikursi tersebut, bersamaan dengan mendaratnya bokong Xena dikursi yang berada diseberangnya.
“ayoo bundaaa kita sarapan!!” seru Xena lengkap dengan senyum lebar bahagianya yang tak henti ia pancarkan sejak kedatangan Ahreum kekediamannya.
__ADS_1
“bunda?” kaget Ahreum.
“Xenaa.” Panggil Elios, yang memberikan isyarat pada putrinya itu untuk berhenti menggoda Ahreum.
“nanti aku mau dipakaikan baju seragam sama bunda aah.” Celetuk Xena kembali yang tak menghiraukan ayahnya.
“bundaa..” panggil Xena seraya mengangkat piring miliknya ke depan Ahreum, kemudian melirik ke arah nasi dan lauk pauk yang sudah terhidang diatas meja sejak 10 menit yang lalu.
“ahh iya..” sahut Ahreum tergagap namun ia tetap mengerti apa yang tengah diinginkan gadis kecil itu.
“biar ayah aja.” Timpal Elios seraya hendak mengambil kembali piring milik Xena yang sudah berada dalam genggaman Ahreum.
Namun tentu saja hal itu langsung dibalas tatapan tajam oleh putrinya.
“gak apa-apa biar aku aja.” Ucap Ahreum lengkap dengan senyum hangatnya.
“Xena mau makan sama apa? udang, cumi, ayam..”
“aamm, hari ini aku pengen ayam aja.” Sahutnya dengan penuh antusias yang membuat Ahreum ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari gadis kecil itu.
Selang 15 menit kemudian setelah ketiganya menyelesaikan sarapan.
Gadis kecil itu pun menarik lengan Ahreum seperti yang dilakukannya sebelumnya, hingga Ahreum hanya pasrah mengikuti kemauan dari putri Elios.
“Xena.” Panggil ayahnya yang mampu menghentikan langkah keduanya seketika.
Keduanya pun berbalik serempak seraya memandangi ke arah Elios yang tengah berdiri menatap keduanya.
“sudah cukup, tante Ahreum harus pergi sekarang.” Tegas Elios lengkap dengan raut wajah seriusnya yang ia tujukan pada putri kecilnya itu.
“iya Nanaa, sepertinya tante ga bisa menemanimu berganti seragam, tante harus kembali ke kampus sekarang.” Sambung Ahreum seraya melepas genggaman tangannya kemudian berlaih mengusap bagian atas kepala Xena yang masih terdiam memandangi ayahnya.
“AKU TIDAK MAU SEKOLAH!! AKU BENCI AYAH!!” teriak Xena yang kemudian langsung berlari menuju lantai 2 tempat dimana kamarnya berada, dengan diiringi isak tangis yang menggema diseluruh ruangan yang dilaluinya.
“bagaimana ini, apa aku harus menyusulnya?” panik Ahreum yang tidak menduga jika kejadiannya akan menjadi rumit seperti ini.
“tidak apa-apa, Xena akan membaik nanti.” Sahut Elios seraya berjalan mendekati Ahreum.
“tapi..” cemas Ahreum yang terus memperhatikan langkah Xena yang tengah berlarian menaiki anak tangga.
__ADS_1
“jika kau malah mengejarnya, akan semakin berat untuk Xena bisa melupakanmu.” Timpal Elios lagi seraya menyunggingkan senyum tipisnya pada gadis mungil yang berada disampingnya.
“maafkan aku..” gumam Ahreum dengan nada penuh penyesalan.
“kenapa kau meminta maaf, kau tidak bersalah, akulah yang sudah melibatkanmu untuk masuk kedalam keluarga kecilku ini. Sekarang kau mau kemana? Biar aku yang mengantarmu.” Tawarnya.
“ga usah dokter Elios, bukankah dokter akan mengantar Xena ke sekolah.” Tolak Ahreum.
“dilihat dari sikapnya tadi, dia akan mengurung diri lagi seharian ini, hmm..”
“begitu ya, sekali lagi aku minta maaf dokter Elios, sudah waktunya aku pamit, sepertinya Hanna juga sudah menunggu ditoko serba ada.” Pungkas Ahreum yang kemudian langsung menundukan sedikit kepalanya tanda ia hendak undur diri dari hadapan Elios saat ini.
“oke kalau begitu hati-hati ya, jangan terlalu memikirkan Xena, dia akan baik-baik saja.” Ucap Elios kembali yang ingin membuat Ahreum merasa lebih baik seraya mengusap bagian atas kepala Ahreum, seperti yang tadi Ahreum lakukan pada Xena.
Membuat Ahreum sedikit terkejut mendapati perlakuan lembut dari Elios tersebut, hingga dirinya tak bisa berkata-kata dan hanya menatap wajah Elios dengan 2 bola mata yang membulat.
***
KT. Group.
15 menit setelah meeting usai, diruangan Ansell dirgantara, pria berdarah dingin itu tampak seperti tidak puas dengan persentasi yang dilakukan oleh para karyawannya, hingga membuat dirinya memutuskan untuk memanggil semua pemimpin dalam team tersebut dan melampiaskannya ketidakpuasan dirinya pada mereka.
“kalian tahu apa yang membuat saya memanggil kalian kemari!” tukas Ansell begitu 3 pemimpin dalam team itu memasuki ruangannya secara bersamaan lalu berdiri dihadapan meja Ansell.
Karena tak ada 1 pun yang berani menjawab perkataan Ansell, Ansell pun mulai mengetukan bolpoin yang tengah digenggamnya ke atas meja, tuk..tuk..tuk.. yang membuat ketiga pria yang berada dihadapannya itu semakin gugup dan gelisah.
“APA KALIAN TULI!!” bentak Ansell seraya bangkit dari kursi kebesarannya kemudian melemparkan telepon yang berada disudut mejanya ke sembarang arah lengkap dengan emosi yang semakin menggebu-gebu, sebab ketiga bawahannya itu sedari tadi hanya menunduk dan menautkan tangannya didepan tubuhnya.
“ma.. maaf pak Ansell..”
setelah menimbang-nimbang dan mencoba memberanikan diri, akhirnya ada salah satu yang bersuara membuat pandangan Ansell langsung tertuju padanya. Masih dengan perasaan gugup yang menguasai dirinya dan juga keringat dingin yang mulai bercucuran ia tetap mencoba melanjutkan kalimatnya untuk mewakili kedua temannya yang berada disamping kanan dan kirinya.
“maafkan kami semua karena hasil yang kami kerjakan masih jauh dari harapan pak Ansell, dan juga konsep yang kami buat masih terlalu sederhana bagi pak Ansell, konsep klise yang sudah banyak diterapkan oleh perusahaan-perusahaan lain. Tapi kami berjanji akan memperbaikinya kembali agar sesuai dengan standar yang pak Ansell tetapkan.”
“apa kau sedang berkampanye sampai ada janji-janji segala?! Kuberi waktu kalian 3 hari untuk memperbaikinya, jika masih tidak ada kemajuan, kalian tidak perlu datang kemari lagi! MENGERTI!!” sentak Ansell seraya menatap tajam kearah ketiganya dan meninju meja kerjanya dengan 2 kepalan tangannya untuk memberikan tekanan penuh pada bawahannya.
“mengerti pak.” Jawab ketiganya serempak yang kemudian langsung pamit undur diri dari hadapan Ansell.
Bersambung...
__ADS_1
***