
Kembali ke rumah sakit Haneul, tepatnya diruangan Ahreum, setelah 1 jam terlelap dalam tidur indahnya bersama dengan istri tercinta. Ansell terbangun, ia tersenyum manis kala melihat wajah cantik istrinya yang masih terlelap dalam dekapannya.
“I Love You Ahreum,” bisik Ansell kemudian mengecup kening istrinya lembut sebelum menarik dirinya dari tubuh Ahreum dan pergi keluar.
Meski masih sangat merindukan istrinya, namun Ansell tetap menghormati perintah kakak iparnya yang belum mengijinkan mereka bersama untuk saat ini.
Ia pun keluar setelah menoleh ke arah Ahreum sejenak lengkap dengan senyum bahagia yang terpancar dari raut wajahnya.
Tepat saat Ansell keluar dari ruangan Ahreum, ia mendapati sosok wanita yang tak asing tengah berdiri didepan pintu kamarnya dengan menjinjing lunch bag ditangan kirinya.
“Mau apa kau kemari?!
Bukankah kita sudah tidak memiliki urusan, aku sudah mengundurkan diri dari proyek xxx, proyek itu sudah diambil alih kembali oleh Presdir Andrew, (alias ayahnya)” ujarnya lengkap dengan tatapan tajam yang jelas menggambarkan ketidaksukaannya terhadap kehadiran Cassandra.
Cassandra hanya tersenyum dan tak ingin memperdulikan emosional Ansell, ia pun mencoba mendekat ke tempat Ansell berdiri.
“tenang aja, aku kemari bukan karena urusan pekerjaan, karena aku pun sudah mundur dari proyek tersebut, ayahku sudah mengambil alih kembali hehe.
Aku kemari ingin mengajakmu makan siang bersama,” paparnya seraya menunjukan lunch bag yang berisikan makan siang lengkap dengan senyum cerahnya.
“kali ini, apa tujuanmu?!” pekik Ansell yang langsung mundur selangkah begitu Cassandra mendekatinya.
“Aku.. amm.. aku tahu, gak seharusnya aku menyalahkanmu atas kematian saudari kembarku, maafkan aku, aku hanya merasa putus asa dan tak tahu harus meminta pertanggung jawaban siapa. Dan kebetulan hanya kau yang berada dilokasi kejadian saat Ilona lebih memilih mengakhiri hidupnya, aku tak memiliki pilihan lain selain menyalahkanmu dan menyudutkanmu atas pilihan ekstrem yang diambil oleh saudari kembarku.
Sampai akhirnya aku sadar, kau mungkin lebih terluka dan trauma dibanding diriku, karena kau harus menyaksikan sendiri bagaimana kekasih yang kau cintai meregang nyawa dihadapanmu. Hal yang mungkin tak pernah kau bayangkan sebelumnya.
Maafkan aku Ansell,” ungkapnya lirih seraya memasang wajah yang sangat mendukung acting sedihnya yang membuat hati Ansell sedikit terenyuh.
“Dan sebagai permintaan maafku, aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu,” sambungnya yang kembali mengembangkan senyum manisnya.
“kesukaanku?” ulang Ansell bingung, darimana Cassandra mengetahui makanan kesukaannya.
“Ahh iya, aku tahu dari Ilona, Ilona selalu bercerita tentang dirimu dulu.
Bagaimana? mau makan siang bareng,” tawar Cassandra lagi masih dengan senyum manis yang tak pernah pudar dari wajah cantiknya.
__ADS_1
“tidak, aku sudah makan,” tegas Ansell yang kemudian menarik langkah mencoba meninggalkan Cassandra.
“Hmm, tunggu,” tahan Cassandra seraya memegang lengan Ansell.
“Jika tidak mau makan bersama, gak apa-apa, tapi…, tolong terima niat baikku ini, ku mohon,” bujuk Cassandra lengkap dengan raut wajahnya yang mendukung hingga membuat pertahanan Ansell runtuh.
Ansell pun menerima lunch bag yang diberikan Cassandra lalu berlalu pergi tanpa sepatah kata.
Sementara sudut bibir Cassandra terangkat kala dirinya berhasil menarik perhatian Ansell, “Kau benar Aluna, Ansell…, sebenarnya adalah lelaki yang berhati lembut, mudah sekali menipunya hihihi,” batin Cassandra yang kemudian pergi setelah Ansell masuk ke dalam ruangannya.
...****************...
“Rihanna, memang bukan adik kandungku, sama seperti Ahreum, kau pasti sudah tahu jika aku hanyalah putra angkat ayah Seno, kita tak memiliki hubungan darah.
Tapi terlepas dari hal itu, aku sudah menganggap Ahreum dan Rihanna sebagai adik perempuanku sendiri, aku melihat mereka tumbuh bersama dari waktu ke waktu membuat diriku memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga dan melindunginya sebagai mana seorang kakak pada umumnya.
Mungkin aku terkenal sebagai pekerja keras, aku selalu mengutamakan pekerjaan dibanding apapun, tapi, jika menyangkut dengan kedua adikku tentu aku tidak tinggal diam, bahkan aku rela melakukan apapun demi melindungi kedua adik perempuanku.
Kau sudah melihatnya bukan, jika bukan karena adikku yang terus memohon mungkin aku sudah melenyapkan temanmu Ansell, aku tak segan-segan menghajar siapapun yang berani menyakiti adikku.
Alih-alih merasa terintimidasi oleh Bennedict, Abi malah menanggapinya dengan senyum ramah sebelum merespon perkataan Bennedict.
“Aku bersungguh-sungguh mas, aku berharap Rihanna akan menjadi cinta pertama dan terakhirku, keluargaku dipanti pun sudah menyukai Rihanna sejak pertama kali bertemu. Bahkan mereka terus menanyakan kapan aku akan membawa Rihanna kembali.”
“Gadis itu memang terlihat kasar, dan blak-blak-an, tapi dibalik sikapnya yang arrogan itu dia memiliki hati yang lembut dan juga bijaksana dalam menyikapi segala sesuatu. Berbeda dengan Ahreum yang lebih banyak menyimpan semuanya dalam hati dan terus mengalah demi menciptakan sebuah kedamaian.
Ahreum tidak pandai mengutarakan isi hatinya dengan baik, dia selalu patuh menuruti perkataan ayahnya sedari dulu, bahkan sampai pernikahannya pun, ia hanya pasrah mematuhi keinginan ayahnya untuk dijodohkan dengan orang yang sama sekali tak dikenalnya.
Hmmm, jadi yang ingin ku katakan padamu adalah, jika kau tidak serius dengan Rihanna sebaiknya kau pergi dari sekarang, sudah cukup temanmu Ansell membuat Ahreum terluka, aku tak ingin hal menyakitkan itu terulang pada Rihanna.” Tegas Bennedict.
“mas Ben tak perlu khawatir, aku janji, aku tidak akan pernah mengecewakan mas dan juga Rihanna. Aku sungguh tulus menyayangi Rihanna, aku bahkan sudah berfikir untuk melamarnya. Jika sudah menemukan waktu yang tepat, aku pasti akan mengutarakan niat baikku pada Rihanna,” tutur Abighail penuh percaya diri.
Benedict pun menepuk-nepuk pundak Abi sebagai tanda jika dirinya akan mempercayai janji dari seorang pria sejati.
“dan mengenai Ansell…,”
__ADS_1
“aku akan memberinya kesempatan 1 kali lagi untuk membuktikan jika dirinya layak bersama dengan adikku, tapi tentu saja itu tidak mudah, kau yakin? temanmu itu bisa melaluinya,” sambar Bennedict sebelum Abighail sempat menuntaskan kalimatnya.
“yakin sangat yakin mas, Ansell bukan lelaki yang mudah menyerah begitu saja, jika sudah memiliki keinginan kuat, dia pasti akan mewujudkannya tak perduli apapun yang terjadi,” sahut Abi penuh keyakinan yang membara hingga membuat Bennedict terkekeh.
“hhahaa! Baik, tak hanya Ansell, aku juga ingin melihat kesungguhanmu pada Rihanna, bukan hanya sekedar berkata manis, tapi pembuktian yang nyata!” tekan Bennedict seraya meremas pundak Abighail lengkap dengan tatapan mengintimidasinya.
“Iya mas,” respon Abi dengan senyum ramah yang tak pernah pudar dari wajah manisnya.
Selang beberapa menit kemudian, akhirnya Rihanna pun muncul dengan 1 kantung keresek berukuran sedang yang berisi 3 botol air mineral dan beberapa makanan ringan lainnya.
“nihh!” kata Rihanna seraya memberikan 1 botol air mineral pada Bennedict dari dalam kantung kresek dengan wajah judesnya.
“sebaiknya kau pulang hari ini, siang nanti akan ada ibu, dan malam kakak yang menjaga Ahreum,” perintah Bennedict saat Rihanna membagikan air mineral pada kekasihnya.
“tidak, masih ada 1 hari lagi, aku sudah bilang pada Nayeon akan pergi selama 3 hari. Lagipula kapan lagi aku bisa bersama dengan Ahreum, sebentar lagi dia akan disibukan dengan kuliahnya, dan juga aku kan sudah mulai bekerja pekan depan, kita pasti jarang bertemu, huuh!” keluh Hanna yang juga mengambil 1 botol air mineral dari kantung kresek, namun pada saat hendak memutar tutup botol, Abi berinisiatif mengambil alih dan membukakannya untuk Rihanna.
“bagus kalau begitu, kakak lebih merasa tenang jika kalian terpisah, entah hal konyol apalagi yang kalian berdua rencanakan, astaga!” dengus Bennedict yang kemudian pergi berlalu meninggalkan keduanya.
Sementara Abi hanya tersenyum mendengar keluhan yang dilontarkan Bennedict, lantaran memang benar adanya, jika kedua gadis itu bersama, selalu aja ada hal konyol yang menyertai keduanya.
“aisshh, berhenti menertawaiku!” pekik Hanna dengan tatapan sinisnya pada Abi yang kini mulai bangkit dari bangku.
“hehheehe,”
“kakak belum menjawab pertanyaanku,” ujar Rihanna.
“pertanyaan yang mana?” tanya Abi bingung.
“kak Abi sudah sarapan?” Rihanna mengulang pertanyaan yang belum sempat Abi jawab sebelumnya karena keburu disuruh beli minum oleh kakaknya.
“ahh itu, belum, aku baru mau sarapan tadi,”
“ayoo!” ajak Hanna seraya menautkan tangannya ke dalam lengan Abi kemudian membawanya melangkah menjauh dari keberadaannya saat ini.
“kemana?” tanya Abi ditengah perjalanannya.
“cari sarapan, katanya kakak belum sarapan, gimana sih!” ketus Hanna yang langsung dibalas tawa renyah oleh Abi.
__ADS_1
***
Bersambung…