
Hari pernikahan.
Selagi semua para tamu undangan tengah menunggu diaula seraya saling mengobrol dengan tamu lainnya, Ahreum sang pengantin wanita masih berada diruang tunggu lengkap dengan perasaan gelisah juga tak menentu, membuat Hanna yang kala itu tengah menemaninya pun ikut cemas akan perubahan sikap karibnya tersebut sejak gaun pengantin membalut tubuhnya yang mungil.
“apa ada yang salah, Ahreum?” cemas Hanna yang tengah duduk disampingnya.
“tidak, aku.. aku hanya merasa sangat gugup.” Ungkapnya seraya menatap kedua mata Hanna dan menggigit bibit bagian bawahnya kedua kakinya pun tiba-tiba ikut gemetar tanpa bisa ia kendalikan.
“gugup? Amm.. aku.. aku punya obat penenang kau mau minum?” katanya seraya bangkit dari sofa kemudian berlari kecil menuju meja rias tempat tas nya berada untuk mengambil obat yang dibicarakannya tadi.
Setelah mengambil 1 pil obat dalam tas kecilnya ia pun langsung beralih pada air mineral yang tak jauh dari keberadaan tas kecilnya tersebut, lalu kembali berjalan menghampiri Ahreum yang tengah menunggu dirinya.
Namun ketika obat telah berpindah ke tangan Ahreum dan ia pun hendak menelan pil tersebut dalam 1 tegukan, tiba-tiba saja pintu ruangan terbuka yang membuat keduanya menoleh untuk melihat siapa yang datang.
“apa yang hendak kau makan?” tanya Nayeon begitu ia membuka pintu ia langsung disuguhkan pemandangan karibnya yang hendak memasukan sesuatu yang mencurigakan baginya.
Baik Ahreum maaupun Hanna hanya terdiam untuk sejenak saat Nayeon berjalan menghampiri keduanya dengan pandangan lurus mengarah ke lengan Ahreum yang tengah memengang sebuah pil kecil.
“obat apa ini?!” tanya Nayeon lagi seraya mengambil pil kecil itu secara paksa dari tangan Ahreum membuat dirinya hanya bisa pasrah sebab ia fikir itu satu-satunya cara untuk meredam rasa panik dan gugupnya saat ini.
“obat itu bisa menenangkan Ahreum, dan kenapa juga kau datang kesini?!” timpal Hanna yang langsung menampakan raut wajah tak bersahabatnya pada Nayeon, lalu meletakan botol air mineral yang masih dipegangnya tadi ke sudut sofa yang diduduki Ahreum.
“benarkah? Coba aku ingin lihat botolnya!” balas Nayeon sinis.
“ciiihh!! Apa kau meragukanku, kau kira aku akan meracuni sahabatku sendiri!!” gerutu Hanna yang kemudian berjalan menuju meja rias untuk mengambil botol obat seperti yang diinginkan Nayeon, lalu memberikannya pada Nayeon yang sudah mengulurkan tangannya sebab sudah tak sabar ingin membaca keterangan yang tertera pada botol tersebut.
“apa kau tak membaca efek sampingnya?! Rihanna!” bentak Nayeon lengkap dengan kedua mata yang membulat begitu selesai membaca keterangan yang ada pada botol tersebut.
__ADS_1
“efek samping..” gumam Hanna yang masih tampak kebingungan kemudian melirik ke arah Ahreum sesaat sebelum kembali terfokus pada Nayeon yang masih memandanginya.
“Ahreum akan mengantuk kalau minum obat ini, bagaimana jika saat pembacaan sumpah Ahreum malah tertidur, kau mau bertanggung jawab atas hancurnya pernikahan Ahreum?! Kau sebut dirimu sahabat, ciihh!!” ujar Nayeon seraya memalingkan wajahnya dari Hanna seolah ia tak sudi memandang wajah gadis sembrono itu dan melipat kedua tangan diatas dadanya.
“yak! Jaga bicaramu Nayeon!! Kau fikir dirimu lebih baik dariku hah?!
Aku melakukan itu karena tidak sengaja, sedangkan kau, kau malah hampir mau membunuhnya!!” balas Hanna tak kalah sinisnya.
“setidaknya kalau mendengarkan cerita itu harus sampai akhir, apa kau tahu siapa yang akhirnya terluka?! ITU AKU, KAU TAHU!!” bentak Nayeon yang kembali menajamkan kedua matanya pada Hanna seraya mendorong kasar bahu Hanna hingga gadis itu mundur selangkah dari posisi awalnya berdiri.
“aughh sial kalian benar-benar tak membantu sama sekali, ini malah membuatku semakin gugup.” Gumam Ahreum selagi kedua sahabat karibnya itu beradu mulut dihadapannya.
“ooekk.. rasanya aku juga ingin muntah, apa ini efek mabuk semalam.” Ahreum kembali bergumam, dan kali ini gumamannya lebih kerasa dari yang sebelumnya hingga Nayeon bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja Ahreum katakan.
“APA!! Kau sudah gila ya?!
Bagaimana mungkin kau minum dimalam sebelum pernikahanmu, Nathania!” Seru Nayeon seraya mengarahkan pandangannya pada Ahreum yang kini tengah memegangi perutnya lengkap dengan raut wajah yang tampak kesakitan.
“YAK! Aku sudah melarangnya untuk minum tapi dia tetap memaksa, mau bagaimana lagi sebagai teman yang baik aku hanya menuruti apapun keinginannya!!” Hanna menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi dimalam itu pada Nayeon yang terus saja menarik rambutnya hingga rasanya ada beberapa helai yang sudah tercabut dari akarnya.
“AKU TAK PERCAYA PADAMU!!” bentak Nayeon yang semakin menjadi-jadi.
Selang beberapa menit kemudian, pintu ruangan pun kembali terbuka, sontak ketiganya pun langsung mengarahkan pandangannya pada seseorang yang hendak masuk ke dalam ruangan tersebut.
Namun masih dalam posisi yang sama, Hanna dan Nayeon yang saling menjambak sementara Ahreum yang tengah meringis kesakitan sembari memegangi bagian perutnya yang sakit.
“ayah..” gumam Ahreum pelan lengkap dengan kedua matanya yang berbinar seolah ia telah terbebas dari kekacuan yang dibuat oleh kedua temannya tersebut.
“om Seno..” gumam keduanya serempak.
__ADS_1
“apa yang kalian lakukan?” tanya Seno seraya berjalan menghampiri ketiganya yang masih kekeh tidak mau melepaskan genggaman erat dirambut masing-masing.
“ayah.. sepertinya rasa gugup membuatku mual, aku merasa tidak enak badan.” Keluh Ahreum seraya mencoba bangkit dari sofa masih dengan memegangi bagian perutnya yang sakit.
“kalian tak mau saling melepaskan?” ucap Seno pada kedua karib putrinya tersebut.
“kau lebih dulu!” perintah Nayeon.
“tidak mau!!” balas Hanna yang malah sama-sama tidak mau mengalah.
“oke, lepaskan pada hitungan ketiga, jika tidak, om tidak akan mengijinkan kalian masuk ke aula pernikahan! 1.. 2..” belum sampai hitungan terakhir mereka berdua pun kompak saling melepaskan satu sama lain pada hitungan kedua karena ancaman Seno.
Kini Seno pun beralih pada putrinya yang tadi mengeluhkan sakit diperutnya.
“kenapa kau bisa sembrono sekali Ahreum, ini hari pernikahanmu, kau malah minum-minum tadi malam.”
“maafkan aku ayah.” Lirihnya seraya menundukan kepalanya.
“kau mau ayah buatkan teh hangat?” ucap Seno lembut seraya mengusap wajah putri kecilnya tersebut.
“hmm..” Ahreum mengangguk lengkap dengan raut wajah penyesalannya.
“baiklah tunggu sebentar ya,
Dan kalian berdua, jika ingin tetap disini bersama Ahreum, sebaiknya kalian berjauhan, Hanna disudut sana dan Nayeon disudut yang lain, mengerti!” tegas Seno pada kedua gadis yang tampak kacau sebab rambut yang tadinya sudah ditata rapih kini malah hancur berantakan.
Alih-alih menjawab dengan perkataan keduanya kompak meresponnya dengan anggukan pasrah.
***
__ADS_1
bersambung...