Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO

Terpaksa menikah dengan gadis {LUGU} PSYCHO
Episode 66


__ADS_3

“tunggu Nay, aku bisa jelaskan, lebih baik kau duduk dulu disini, oke.” Panik Jeno yang kemudian bangkit dari kursinya seraya menarik kursi yang berada disampingnya agar Nayeon bisa duduk disebelahnya.


“ciih! Memangnya apa lagi yang ingin kau jelaskan?!” ketus Nayeon.


“yak! Bukannya kau bilang sudah ijin pada Nayeon untuk menemuiku?” timbrung Hanna karena tak ingin dirinya ikut disalahkan.


“tutup mulutmu, aku tak ingin mendengar suara cemperengmu itu yang bisa merusak telingaku!” tukas Nayeon lengkap dengan tatapan sinisnya.


“apa?!” sahut Hanna seraya bangkit dari tempat duduknya dan membalas tatapan tajam Nayeon seolah siap untuk mulai bertarung dengan gadis yang tengah emosional dihadapannya.


“yak.. yak.. yak.. tenangkan diri kalian oke, ini tempat umum, kalian tidak malu dilihat banyak orang.” Seru Jeno yang semakin tampak kalang kabut saat keduanya saling melempar tatapan tajam seolah telah siap untuk baku hantam.


“kau fikir, kau bisa merebut kembali Jeno dariku?! Jangan mimpi!” pekik Nayeon seraya mendorong kasar bahu Hanna, membuat Hanna pun akhrirnya terpancing dan mulai emosional.


Hanna tersenyum menyeringai sebelum membalas perkataan Nayeon. “ciih!.. tadinya aku sudah merelakan Jeno untukmu dan tak berniat sama sekali untuk bersaing denganmu, tapi sekarang, karena sikapmu..”


“hahahaa!! Cuihh!! Kau fikir aku akan percaya dengan perkataanmu itu, merelakan dengkulmu!.. kemari kau dasar wanita ja***!!” bentak Nayeon seraya menarik rambut panjang Hanna sampai kepala Hanna ikut tertarik ke belakang.


Tak mau mengalah, Hanna pun ikut menarik rambut Nayeon yang kebetulan saat itu ia tengah mengikatnya ala ekor kuda. Dan kini terjadilah tragedi saling menjambak rambut masing-masing.


“yak.. yak.. yak.. ayolah jangan seperti ini oke, banyak yang melihat.” Seru Jeno seraya mencoba memisahkan mereka berdua.


Namun bukannya meredam amarah keduanya, malah Jeno pun ikut menjadi sasaran empuk dari kedua gadis yang tengah berseteru tersebut, hingga Jeno terdorong dan jatuh tersungkur ke lantai.


Suasana café saat itu memang tidak terlalu ramai, sehingga hanya ada beberapa pasang mata saja yang menonton adegan baku hantam yang terjadi. Namun meskipun begitu tak ada satupun yang berani untuk membantu Jeno memisahkan kedua gadis tersebut, semuanya hanya menonton adegan brutal itu seraya menikmati coffe dan juga makanan ringan yang mereka pesan, layaknya tengah menonton dibioskop.


Sampai beberapa menit kemudian…


“apa yang kalian lakukan?” ucap Ahreum yang baru saja datang lengkap dengan kerutan didahinya, ia masih menatap lekat kearah kedua temannya yang masih saling menjambak satu sama lain, dan tak memperdulikan kehadiran dirinya.


“Hanna berhenti, lepaskan tanganmu.” Perintah Ahreum seraya mencoba meraih tangan Hanna yang tengah menggenggam erat kunciran rambut Nayeon.

__ADS_1


“dia dulu yang memulai! Kenapa harus aku yang mengalah!!” seru Hanna dengan nada tingginya dan tetap tak ingin melepaskan cengkraman kuatnya.


“aku?! Yak!! kau yang kegatelan sampai mengajak bertemu Jeno diam-diam dibelakangku!!” balas Nayeon yang ikut mengencangkan cengkramannya.


“oke kalau begitu, kalian berdua, lepaskan kedua tangan kalian dalam hitungan ketiga, 1..2..3.”


Nyatanya mereka sama sekali tak menggubris perintah Ahreum, malah kini pertikaian tersebut semakin sengit dengan ditambah umpatan-umpatan kotor dan kasar yang keluar saling bersahutan dari mulut keduanya.


“yak! aku sudah menyuruhnya untuk meminta ijin padamu, kenapa kau terus saja menyalahkanku!! Dasar nenek sihir!! Fu***, afgghh***##**!!” umpat Rihanna lengkap dengan sorot mata tajamnya yang tak pernah kendur.


“apa kau bilang?! Augh ******!! Kau BA***, Bre***, affj@@***###***” balas Nayeon yang tak kalah kasarnya.


“kau yang memicu pertikaian ini terjadi, kenapa kau hanya diam saja disitu.” Ujar Ahreum yang mengalihkan perhatiannya pada Jeno yang tengah terduduk dilantai, sebab dirinya sudah sangat lelah, mencoba memisahkan kedua gadis itu memanglah bukanlah hal yang mudah.


“kau tak lihat, wajahku, penuh lebam juga cakaran, setidaknya aku sudah berusaha semaksimal mungkin.” Tuturnya lengkap dengan raut wajah pasrah dan helaan nafas beratnya diakhir kalimat.


Mendengar kalimat pasrah dari Jeno membuat Ahreum ikut menghela nafasnya sejenak, sebelum akhirnya ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling sembari mencari cara untuk membuat pertikaian itu berakhir.


Sampai kedua matanya sampai pada jam dinding yang berada disekitar meja kasir, membuat dirinya kembali teringat akan tujuan utamanya, yaitu membelikan suaminya coffe dan mengantarkannya makan siang.


Sampai akhirnya itu pun membuat keputusan dalam hatinya, ia meninggalkan kedua temannya dan menarik langkah menuju meja kasir.


“yak! kau mau kemana?” tanya Jeno saat Ahreum hendak pergi meninggalkannya.


“aku tak memiliki waktu untuk kalian mengurusi kalian bertiga.” Sahutnya seraya membalikan tubuhnya sejenak kearah Jeno yang masih terduduk dilantai, sebelum kembali melanjutkan langkahnya menuju kasir untuk membeli minuman seperti yang telah direncanakannya.


Beberapa menit kemudian, Ahreum kembali melewati ketiga temannya yang masih dalam posisi pada saat ia tinggalkan, Nayeon dan juga Hanna yang masih saling melempar kata kasar dan menjambak satu sama lain sedangkan Jeno hanya terduduk pasrah dilantai seraya menunggu pertikaian itu berhenti dengan sendirinya.


“yak! Ahreum, apa kau akan meninggalkanku begitu saja?” ucap Jeno saat Ahreum berjalan melewatinya seraya membawa 2 coffe dalam genggamannya.


“berhenti merengek padaku, selesaikan saja semua kekacauan yang sudah kau perbuat sendiri.” Ketus Ahreum seraya terus melangkahkan kakinya menjauh dari ketiga temannya tersebut.

__ADS_1


 


Begitu Ahreum sampai didepan sepedanya yang terparkir diluar caffe, ia pun langsung menaruh 2  coffe yang dibawanya itu ke keranjang sepedanya diatas bekal makan siang suaminya. Lalu merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan ponselnya disusul dengan aktifitas mengetik dilayar ponselnya.


“halo, kantor polisi?!” seru Ahreum begitu telfon itu tersambung.


***


Rumah sakit Haneul Jakarta.


Tepatnya diruangan kedua orang tua Ahreum, terlihat Enzy yang baru saja bangun dari tidur tengah mengucek-ucekan kedua matanya.


“ayah.” Panggil Enzy, pada suaminya yang tengah terbaring disofa.


Mendengar panggilan lembut itu kedua mata Seno reflex terbuka dan langsung menengok kearah istrinya yang tengah memandanginya dari ranjangnya.


“kau sudah bangun, mau makan, tadi makan siang sudah diantarkan.” Ucap Seno seraya bangun dari tidurnya lalu berjalan perlahan menghampiri istrinya yang hendak mendudukan tubuhnya dan bersandar disandaran ranjang tempat tidurnya.


Enzy pun mengangguk lemar seraya terus memandangi suaminya yang hendak mengambil makan siang yang berada dimeja kecil disamping ranjang istrinya,  kemudian dibawanya dan diletakan dipinggiran ranjang disamping tubuh istrinya bersamaan dengan mendaratnya bokong Seno yang ikut duduk ditepi ranjang.


“Ahreum belum kemari lagi ya?” tanya Enzy sembari menunggu Seno membuka plastic rappingan makan siangnya.


“sudah kok, barusan kesini sebentar, melihat kamu masih tidur dia langsung pergi menengok Sammy, lalu pamit pulang.” Paparnya seraya mulai memberi suapan pertama pada istrinya.


“begitu ya, kenapa ayah tak membangunkanku, aku mau bicara dengan Ahreum.” Sahutnya lagi seraya mengunyah makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


“apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Seno, yang membuat percakapan itu semakin berkembang diantara keduanya.


“aku hanya ingin tanya keadaannya aja, apa dia baik-baik saja.” Gumam Enzy seraya menundukan kepalanya, sebab tak berani menatap langsung kedua mata suaminya yang kini tengah memandanginya.


“kau takut Ansell akan menyakiti putri kita.” Respon Seno seraya mengaduk nasi dengan lauknya untuk kembali menyuapi istrinya.

__ADS_1


Bersambung...


***


__ADS_2