Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Pria Yang Lebih Tua


__ADS_3

Neta yang melihat wajah Dathan teringat dengan Bryan Adion yang begitu tampan. “Apa kamu tahu, tadi Bryan Adion begitu tampan walaupun sudah tua.” Neta menjelaskan pada Dathan apa yang dilihatnya.


“Apa aku kurang tampan?” Dathan meraih pinggang Neta dan menariknya mendekat.


“Bukan begitu. Aku hanya bilang saja. Tetap saja kamu yang tampan.” Neta tersenyum malu ketika dia memuji snag kekasih.


“Sepertinya sekarang kamu lebih terpesona dengan pria berumur.” Dathan menggoda Neta.


Neta tertawa. “Sejak mengenalmu aku merasa pria-pria yang umurnya di atasku begitu memesona.”


“Apa yang membuatmu suka pria-pria yang usianya lebih tua dibanding dirimu?” Rasanya Dathan penasaran dengan hal itu.


“Mungkin karena aku merasa pria yang usianya lebih tua dibanding aku lebih melindungi. Aku dapat sosok kakak dan sosok ayah dalam satu orang. Satu hal yang tidak pernah aku dapatkan selama ini.” Neta tersenyum. Mungkin itulah yang menjadi alasannya menyukai pria-pria yang lebih tua.


Dathan sadar, kehadiran sosok orang tua membuat Neta haus akan perlindungan. “Satu hal yang harusnya jadi alasan kamu.” Dathan membelai lembut wajah Neta.


“Apa?” tanya Neta yang penasaran.


“Saat kamu mendapatkan pria yang usianya lebih tua, dia akan menua lebih cepat, dibanding dirimu. Bertambahnya usia, mereka akan berkurang daya penglihatannya, sehingga dia tidak akan melihat wanita lain selain dirimu saat tua nanti.” Dathan tersenyum.


Neta tersenyum. “Jangan cepat menua, karena banyak waktu yang ingin aku habiskan denganmu.” Tangan Neta membelai lembut pipi Dathan.

__ADS_1


Dathan hanya tersenyum. Perlahan dia mengangsur tubuhnya. Mendekatkan wajahnya dan mendaratkan bibirnya di bibir manis milik Neta.


Neta selalu tak bisa menolak pesona seorang Dathan. Dia selalu menikmati ciuman lembut yang diberikan oleh Dathan. Neta memejamkan matanya menikmati setiap sesapan yang terjadi. Tangannya melingkar di leher Dathan dan membuat ciuman lebih dalam. Untuk sesaat mereka menikmati pertukaran saliva yang terjadi.


Perlahan Dathan melepaskan tautan bibirnya. Ibu jarinya mengusap bibir Neta yang basah. Senyum malu tergambar jelas di wajah Neta saat dia menarik tangannya yang melingkar di leher Dathan. Padahal mereka sudah mengurangi untuk saling mencium bibir, tetapi godaan tetap saja membuat mereka tak kuasa menahannya.


“Sepertinya kamu harus istirahat. Nanti malam kamu masih harus bekerja.” Dathan menarik tubuh Neta mendekat padanya.


“Tidurlah.” Dathan memeluk erat tubuh Neta.


Berada di dalam pelukan Dathan tentu saja membuat Neta berdebar-debar. Apalagi aroma maskulin yang tercium begitu dekat, membuat tubuhnya merasa semakin berdebar-debar. Namun, tangan lembut Dathan yang membelai lembut rambutnya, membuatnya terbuai. Hingga perlahan dia memejamkan matanya.


Neta begitu pulas tertidur. Tanpa dia sadari jika ternyata dia tidur selama dua jam lebih. Dia bangun tepat di jam lima sore. Itu pun karena Dathan yang merasa tangannya pegal-menggeser tangannya.


“Tanganku kesemutan.” Dengan polos Dathan tersenyum.


Neta segera menggeser tubuhnya. “Maaf.” Neta merasa tidak enak. Karena terlalu lelap, dia sampai tidak sadar tidur di tangan Dathan.


“Tidak apa-apa.” Dathan tersenyum.


“Jam berapa ini?” Neta menarik tangannya untuk melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. “Sudah jam lima. Aku harus bersiap. Aku harus datang lebih awal.” Neta segera berangsur bangun. Jam enam dia harus segera ke ballroom. Dia harus mendapatkan foto siapa saja yang datang ke acara ini.

__ADS_1


Neta segera turun dari tempat tidur. Dia segera mengambil baju miliknya, dan segera ke kamar mandi.


Dathan hanya bisa melihat Neta yang terburu-buru bangun. Dia hanya pasrah ketika sang kekasih harus bersiap.


“Aku akan bersiap setelah dia pergi.” Dathan tersenyum tipis.


Neta keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaiannya yang rapi. Dia segera duduk di meja rias yang berada di depan tempat tidur. Dengan perlahan dia memoles wajahnya. Sekalipun dia hanya datang untuk meliput, tetapi dia tetap harus rapi.


Dathan yang berada di tempat tidur, menaruh tangannya sebagai bantalan. Dari pantulan cermin dia melihat Neta yang sedang sibuk merias diri.


“Jangan terlalu cantik, aku takut nanti aku akan banyak saingan.” Dathan memberikan peringatan pada kekasihnya itu.


Neta yang berada yang melihat Dathan dari pantulan cermin, tersenyum. “Iya.” Dia menuruti perintah Dathan.


Saat sedang asyik merias diri, tiba-tiba suara pintu terdengar. Neta mengalihkan pandangan ke arah pintu. Kemudian menatap ke arah Dathan. Mereka sama-sama bingung siapa gerangan yang mengetuk pintu.


“Kamu panggil room servis?” tanya Neta.


“Tidak.” Dathan menggeleng.


Saat mendapati gelengan Dathan Neta mulai berpikir, siapa yang datang ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2