
Suara telepon terdengar. Neta yang sedang menikmati es krim bersama Loveta, mengalihkan pandangan. Dia melihat ponsel. Melihat siapa yang menghubunginya.
“Mama.” Neta memberitahu Loveta siapa gerangan yang menghubunginya. Yang menghubungi adalah Arriel-mama Loveta.
“Cepat Mami angkat.” Loveta meminta Neta untuk segera mengangkat sambungan telepon.
Neta mengangguk. Kemudian meletakkan mangkuk es krim miliknya. Dengan segera dia mengangkat sambungan telepon dan mengarahkan dekat pada Loveta. Dia ingin anaknya menyambut Arriel. Neta juga menghidupkan mode loudspeaker, agar Loveta bisa dengar.
“Mama.” Suara Loveta langsung terdengar ketika sambungan telepon terhubung.
“Sayang.” Arriel menyapa anaknya. “Lolo sedang apa?” Dengan semangat dia bertanya pada anaknya.
“Lolo sedang makan es krim, Ma.” Loveta menjawab kemudian menyendok es krim dan memasukkan ke mulutnya.
“Jangan banyak-banyak makan es krim. Jangan lupa gosok gigi nanti.” Arriel menceritakan apa yang harus dilakukan sang anak.
“Baik, Ma.” Loveta mengerti yang dikatakan sang mama.
“Anak pintar.” Arriel memuji anaknya. “Mana Mami Neta?” Arriel kemudian menanyakan keberadaan Neta. Dia memang menghubungi Neta, berniat untuk menghubungi Neta.
“Aku di sini.” Neta mengarahkan ponsel ke arahnya. Membiarkan sang anak makan es krim.
“Ta, aku dengar kamu hamil.” Arriel yang mendengar kabar tersebut langsung segera menghubungi Neta.
Neta menautkan kedua alisnya. Dia memikirkan dari mana gerangan Arriel tahu jika dirinya hamil. Padahal belum banyak yang tahu. Jika dari suaminya, tentu saja itu tidak mungkin.
“Iya, aku sedang hamil.” Neta membenarkan ucapan Arriel.
__ADS_1
“Selamat untuk kehamilanmu.”
“Terima kasih.” Neta tersenyum senang mendapatkan ucapan selamat. “Tapi, dari mana kamu tahu?” Neta begitu penasaran.
“Tadi aku bertemu Adriel, karena itu aku tahu.” Tadi baru saja Arriel bertemu dengan Adriel. Adriel menawarinya wawancara untuk edisi hari wanita sedunia.
Akhirnya Neta tahu dari mana Arriel tahu. Memang minggu kemarin, Neta bertemu Adriel. Jadi mungkin temannya itu menceritakan pada Arriel.
“Ta, apa kamu mual atau lemas?” Arriel menanyakan keadaan Neta.
“Aku selalu mual setiap pagi. Jadi memang agak kesulitan saat pagi hari.” Neta memang hanya mual di pagi hari. Saat menjelang siang, barulah keadaan mulai baik.
“Jadi karena keadaanmu seperti itu, aku berniat untuk mengantar jemput Lolo. Agar kamu bisa istirahat dan Dathan bisa mengurusmu sebelum berangkat bekerja.” Arriel membayangkan jika Neta pasti sedang kewalahan. Jadi dia sengaja menawarkan diri.
“Senang sekali kamu menawarkan ini, tapi aku harus bilang dulu pada Dathan.” Neta tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Karena itu dia harus membahas dulu dengan suaminya.
“Sekali lagi terima kasih sudah mau menawarkan untuk menjemput Cinta.” Neta begitu senang dengan tawaran Arriel. Bagaimana Arriel menawarkan diri, dia merasa jika ini adalah satu perhatian dari Arriel.
“Sama-sama.” Arriel senang dengan yang dilakukannya. Mengingat jika dia bisa menghabiskan waktu bersama anaknya. “Baiklah, lanjutkan kembali makan es krimnya.” Dia memilih mengakhiri sambungan telepon.
“Baiklah, ini bicaralah dulu dengan Cinta.” Neta mengarahkan ponsel ke arah Loveta. Meminta anaknya bicara.
“Mama.” Loveta yang melihat ponsel didekatkanya, langsung memanggil.
“Lolo, Mama akhir dulu teleponnya. Nanti besok Mama akan mengunjungi kamu. Kamu yang baik. Jaga Mami Neta dan adik bayi.” Arriel memberikan nasihat untuk anaknya.
“Siap, Mama.” Loveta mengiyakan ucapan mamanya.
__ADS_1
“Baiklah, da ... Lolo.”
“Da ... Mama.”
Akhirnya sambungan telepon berakhir. Loveta dan Neta kembali melanjutkan menikmati makan es krim. Mereka berdua sudah seperti kakak-adik yang sedang makan es krim. Terlihat begitu lucu duduk manis menikmati.
...***...
Dathan memberikan segelas susu pada Neta. Sejak istrinya hamil, Dathan adalah orang paling rajin membuatkan susu.
“Terima kasih.” Neta tersenyum menerima susu yang diberikan oleh Dathan. Dengan segera dia meminum susu yang diberikan oleh Dathan. Saat selesai, dia pun memberikan gelas pada sang suami.
Dathan memilih meletakkan gelas di atas meja. Nanti dia akan ke dapur sekaligus mengecek keadaan sang anak.
“Tadi Arriel menghubungi aku.” Neta menatap suaminya. Mengingat Arriel yang menghubunginya tadi siang.
“Kenapa?” Dathan naik ke tempat tidur. Duduk tepat di samping sang istri.
“Dia tahu aku hamil, dan menawarkan diri mengantar dan menjemput Cinta.” Neta menyampaikan niat Arriel. Lagi pula, dia belum bisa memberikan jawaban pada Arriel.
Dathan menimbang tawaran mantan istrinya itu. Di saat seperti ini memang bantuan itu dibutuhkan.
“Untuk pagi hari biar aku yang antar sekaligus berangkat kerja. Siang biarkan dia yang jemput.” Dathan merasa ini lebih efektif, dibandingkan pagi-siang Arriel yang antar-jemput.
“Baiklah, nanti aku akan bilang pada Arriel.”
Neta menghargai keputusan suaminya. Lagi pula, pasti sang suami punya pertimbangan sendiri. Neta juga berharap mualnya ini tak berlangsung lama. Jadi suaminya tidak akan kesusahan.
__ADS_1