
Arriel mengembuskan napasnya. Dia tidak menyangka jika mengurus Loveta sepagi ini dirinya sudah tidak bisa mengurus dirinya sendiri.
“Melihatmu seperti ini, aku salut dengan Dathan yang begitu hebat merawat Lolo.” Mauren benar-benar tidak menyangka jika ternyata ini adalah sesuatu hal yang begitu luar biasa.
Arriel sedari tadi sudah memikirkan akan hal itu. Dia juga mengagumi Dathan yang hebat membagi waktunya. Hal yang tidak bisa Arriel lakukan. Itulah alasan Arriel tidak mau hamil dulu, karena tidak bisa membagi waktunya. Dari pada anaknya terlantar, dia memilih untuk tetap dengan pendiriannya.
Sayangnya, Tuhan berkata lain. Dia hamil dan tidak ada pilihan. Niatnya menggugurkan membuat Dathan akhirnya memintanya mempertahankan. Dia pun menuruti Dathan, dan memberikan anaknya pada Dathan.
Kini, Arriel berada dalam sebuah penyesalan karena sudah kehilangan waktu dengan anaknya. Walaupun, tidak sepenuhnya dia menyesali. Karena jika dulu dia fokus dengan anaknya, tentu saja usahanya tidak akan sampai di titik ini.
“Iya, Dathan sungguh luar biasa.” Arriel memuji mantan suaminya itu.
“Apa kamu tidak menyesal melepaskan pria sebaik dan sehebat itu?” Mauren menatap Arriel. Dia ingin tahu isi hati temannya itu lebih dalam.
“Apa maksudmu?” Arriel menatap bingung.
“Ya, Dathan memang sudah punya kekasih, tetapi bukannya sebelum janur kuning melengkung masih sah-sah saja.” Mauren tersenyum menggoda.
“Sembarangan kamu. Kamu mau aku merebut Dathan?” Arriel menatap temannya itu kesal.
Mauren tertawa. “Belum menikah, masih sah-sah saja. Dari pada kamu harus cari pria yang tidak jelas.” Mauren memberikan pendapatnya.
“Jangan mencoba membuatku jadi jahat, aku tidak akan melakukannya.” Arriel menatap temannya malas.
“Joker dulu juga orang baik, karena keadaan tidak berpihak padanya, dia berubah.”
“Sudah-sudah. Jika kamu mau jadi iblis sebaiknya kamu keluar.” Arriel menatap malas pada temannya itu.
Mauren hanya tersenyum saja. Dia senang sekali menggoda temannya itu. Dia pun segera keluar. Membiarkan temannya di ruangannya sendiri.
Arriel hanya menatap temannya malas. Entah kenapa dia merasa kesal. Lebih tepatnya kesal dengan dirinya sendiri. Dia takut dirinya goyah. Arriel tidak mau jadi orang yang merusak kebahagiaan orang lain.
__ADS_1
...****************...
Sore ini Arriel pulang. Tadi Arriel mengajak Loveta ke kantornya setelah menjemput. Di kantor, Loveta bermain dengannya. Kebetulan memang tidak banyak pekerjaan, jadi dia bisa menemani. Sambil menggambar perhiasan.
Arriel tidak sempat masak. Dia memutuskan untuk membeli makanan. Saat sampai di rumah, dia disibukkan membersihkan tubuh sang anak. Barulah, setelah anaknya bersih, dia pergi menyiapkan makan. Menghangatkan masakan untuk dimakan bersama sang anak.
“Mama, Lolo mau pulang.” Tiba-tiba Loveta mengatakan hal itu di tengah-tengah makan.
Arriel yang sedang mengunyah, langsung mengalihkan pandangan pada anaknya. Dia merasa bingung karena anaknya meminta pulang. “Sayang, ini rumah kamu, kenapa minta pulang?” Arriel mencoba menjelaskan.
“Bukan ke rumah ini, tapi rumah papa.” Loveta tidak bisa jauh dari papanya. Dia merasa ada yang kurang.
Arriel paham betul jika Loveta pasti merindukan papanya. Karena itu dia meminta untuk pulang.
“Bagaimana jika kita nanti hubungi papa setelah ini.” Arriel membujuk sang anak.
Loveta terdiam. Dia menginginkan untuk pulang, tetapi mamanya menawari untuk menelepon saja. Tentu saja itu membuatnya kecewa.
Arriel tersenyum. Dia merasa senang karena sang anak mengerti dengan yang dikatakannya. Jika sudah begini, pastinya akan lebih mudah untuknya mempertahankan Loveta tetap tinggal.
Mereka menikmati makan bersama. Loveta sudah tidak berselera, dia tidak menghabiskan makannya. Arriel tidak memaksa. Karena dia takut anaknya justru minta pulang jika dipaksa.
Usai merapikan bekas makan, Arriel memutuskan untuk menghubungi Dathan. Berharap Dathan bisa memberikan pengertian pada Loveta.
“Papa.” Loveta langsung memanggil sang papa ketika mendapati sang papa dari sambungan video.
“Halo, Cinta.” Dathan di seberang sana menyapa anaknya. “Cinta sedang apa?”
“Lolo baru saja makan malam.” Loveta tersenyum pada papanya.
“Wah ... anak papa makan apa?” Di seberang sana Dathan bertanya.
__ADS_1
“Makan buah, nasi, daging ....” Dia menatap sang mama. Tatapannya mengisyaratkan jika dia bertanya apa saja menu tadi.
“Sayur.” Arriel menjelaskan.
Suara Arriel itu terdengar oleh Dathan. “Pasti Cinta makannya banyak.” Dathan menebak.
Loveta menatap sang mama. “Tadi Loveta kenyang, jadi makannya tidak banyak.” Dia menjelaskan apa adanya. Dia memang tidak makan banyak.
Arriel tidak masalah anaknya mengatakan itu. Artinya anaknya tidak berbohong.
“Loveta tanya mau pulang, hanya saja aku bilang jika ini juga rumahnya.” Arriel menceritakan pada Dathan. Berharap Dathan mau menjelaskan pada anaknya.
“Cinta, di rumah mama sama seperti di rumah papa. Jadi Cinta tinggal di sana dulu. Mama masih rindu dengan Cinta. Kasihan jika ditinggal.” Dathan mencoba menjelaskan.
“Baik, Pa.” Loveta menurut. Tak mau mengecewakan.
“Baiklah, kalau begitu Lolo cepat istirahat. Agar bisa bangun tepat waktu besok.” Dathan tersenyum menasihati anaknya.
“Iya, Pa.” Loveta mengangguk. “Da ... Papa.” Loveta melambaikan tangan.
“Da ... Cinta.” Dathan melambaikan tangan juga.
Sambungan telepon berakhir. Loveta memberikan ponsel pada mamanya. Arriel menerima dengan senang hati.
“Lolo mau gambar dulu sambil tunggu mama mandi?” Arriel memilih untuk meninggalkan sebentar sang anak. Dia tahu hobi gambarnya, menurun pada anaknya.
“Iya, Ma.” Loveta mengangguk.
Arriel segera mengajak Loveta ke kamar. Mengambilkan kertas gambar dan juga pensil. Dia meminta anaknya menggambar. Kemudian meninggalkannya untuk manis sebentar.
Loveta pun menggambar. Dia menggambar sang papa karena rindu dengan sang papa. Tak hanya menggambar sang papa. Dia juga menggambar Neta. Dia juga merindukan Neta.
__ADS_1