
Adriel masih menatap Neta. Menunggu jawaban dari Neta. Sengaja Adriel tadi menunggu Neta yang pulang kerja. Dia ingin melihat apa Neta akan dijemput oleh Dathan atau tidak. Dan benar juga ternyata Neta dijemput sebuah mobil. Saat mengikuti Neta dan mobil berbelok ke restoran, dia melihat Dathan keluar dari mobil bersama Neta.
Adriel pun mencoba memanggil Dathan. Memastikan jika itu adalah Dathan. Saat memanggil dan melihat pria itu menoleh, benar jika itu adalah Dathan.
“Kak Adriel tahu?” Neta memastikan jika Adriel tahu hubungannya dengan Dathan.
“Ta, apa kamu jadian demi wawancara?” Adriel tidak rela jika hal itu terjadi. Dia masih berpikir Neta jadian pasti ada alasannya. Bisa jadi demi mendapatkan wawancara dia menerima ajakan Dathan untuk pacaran. Atau mungkin Dathan mengancam akan memberikan wawancara jika Neta mau jadi kekasihnya.
“Aku tidak jadian karena wawancara, aku benar-benar suka.” Neta mencoba membela diri. Kenyataan memang dia suka dengan Dathan karena perasaan itu datang sendiri. Lagi pula, siapa yang bisa menolak pesona Dathan.
“Ta, jangan korbankan perasaanmu jika memang hanya untuk sebuah wawancara.” Adriel meyakinkan Neta untuk tidak takut mengungkapkan semuanya. Dia tidak mau Neta jadi korban jika memang demi pekerjaan dia menerima Dathan. “Jika kamu bilang padaku jauh-jauh hari, tentu saja aku akan mengerti. Aku tidak akan memecatmu.” Kembali Adriel meyakinkan Neta.
“Kak Adriel ini bicara apa? Aku dan Dathan saling mencintai. Tidak ada yang dikorbankan.” Neta mencoba memberikan pembelaan. Dia benar-benar dengan pikiran Adriel. Padahal jelas-jelas Neta sudah jelaskan semua.
Dathan tersenyum ketika melihat Adriel yang tampak begitu khawatir itu. Dia justru merasa lucu ketika Adriel berpikir yang tidak-tidak. Namun, dia tetap tenang ketika menanggapi akan hal itu. Dia masih ingin mendengar apa yang dikatakan Adriel lagi.
“Apa kamu berada dalam ancaman?” Adriel kembali bertanya. Dia menatap Dathan sejenak.
Dathan bergitu terkejut sekali. Bisa-bisanya Adriel berpikir seperti itu. “Apa kamu melihat wajah Neta yang tertekan hingga mengatakan itu? Bukankah Neta sudah bilang jika dia menyukai aku.” Dathan akhirnya bicara. Dia merasa harus mengatakan sesuatu, sebelum pikiran Adriel ke mana-mana.
Adriel terdiam. Dia memang melihat wajah Neta begitu bahagia belakangan ini. Dia berpikir, mungkin saja karena hubungannya dengan Neta. Namun, tentu saja dia tidak mau percaya dengan mudah.
“Kamu berasal dari panti yang sama dengan Neta ‘kan?” Dathan memastikan pada Adriel. “Aku akan melamar Neta minggu depan. Jadi kamu bisa datang ke panti, karena aku akan melamar Neta secara resmi.” Dathan tanpa basa-basi langsung memberitahu Adriel.
Adriel membulatkan matanya. Dia tidak menyangka jika hubungan Dathan dan Neta sangat serius.
__ADS_1
“Kalian akan menikah?” Adriel memastikan kembali.
“Dathan sudah melamarku, Kak.” Neta menunjukan cincin di jarinya.
Adriel ingat betul jika cincin itu adalah cincin yang dibicarakan oleh Neta dan Maria. Ternyata cincin itu adalah cincin tunangan Neta. Tentu saja itu membuatnya terkejut sekali.
“Kak Adriel tidak perlu khawatir. Dathan tidak mempermainkan aku. Dathan juga tidak mengancamku. Aku memang jatuh cinta saat wawancara. Saat wawancara selesai, barulah kami menjalin hubungan. Aku memang tidak mengatakan pada siapa-siapa karena aku tahu jika aku harus profesional.” Neta mencoba menjelaskan semua pada Adriel.
Adriel diam seribu bahasa. Dugaanya ternyata salah. “Maafkan aku, aku pikir kamu menerima Pak Dathan hanya demi wawancara.” Dia merasa bersalah karena sudah berpikir terlalu jauh.
“Tidak apa-apa, tapi lain kali tanyakan dulu sebelum menuduh. Jika bukan aku yang kamu ajak bicara, mungkin kamu sudah dapat bogem mentah.” Dathan tersenyum tipis. Mungkin jika orang lain, pasti sudah naik pitam. Bagaimana bisa dituduh tanpa diberikan kesempatan untuk menjelaskan.
“Sekali lagi aku minta maaf.” Adriel menatap Dathan dan Neta bergantian.
Tepat saat itu makanan mereka datang. Mereka menikmati makan bersama. Dathan tampak santai sekali. Adriel yang melihat sikap Adriel cukup kagum sekali. Ternyata Dathan adalah orang yang begitu tenang dan dewasa sekali. Dia merasa Dathan adalah orang yang diperlukan oleh Dathan.
“Apa saat kita bertemu di kafe pertama kali itu kamu menjemput Neta?” Adriel melemparkan pertanyaan itu di tengah-tengah makannya.
“Iya, dan di pertemuan kedua aku sudah tahu siapa kamu.” Dathan langsung menjelaskan jika dia sudah tahu tentang Adriel.
“Kamu menceritakan aku mantan kekasihmu?” Adriel menatap Neta ketika mendengar ucapan Dathan. Memastikan pada Neta.
“Iya, aku tidak mau sampai ada salah paham.” Neta membenarkan ucapan Adriel.
“Lalu, kamu membuat aku salah paham?” Adriel merasa tidak terima ketika jadi orang ke sekian yang tahu.
__ADS_1
Neta hanya tersenyum saja.
“Aku lega jika kalian jadian bukan karena alasan wawancara. Aku juga ikut senang ketika ternyata kalian serius menjalani ini semua.” Adriel merasa tidak perlu ada yang ditakutkan. Dathan dan Neta sudah sangat serius sekali. Jadi dia tenang karena Neta berada pada orang yang tepat.
“Jadilah saksi di pernikahan kami.” Dathan secara langsung meminta Adriel. Dia tahu pria di depannya adalah bagian dari hidup Neta.
Neta langsung menatap Dathan. Merasa jika yang dikatakan Dathan tak pernah dipikirkannya.
Adriel tidak menyangka jika ternyata Dathan memintanya secara langsung. “Aku akan menjadi saksi untuk adikku menikah.” Adriel melihat Neta dengan lekat. Tatapan yang tulus dari dalam hatinya.
Neta senang melihat dua pria dalam hidupnya baik-baik saja. Dia juga yakin jika hubungan keduanya akan baik-baik saja.
Selama makan malam, mereka lebih banyak menceritakan tentang majalah. Tidak lagi membahas masalah hubungan Neta dan Dathan. Suasana benar-benar tampak hangat. Tidak penuh ketenggangan seperti sebelumnya.
Seusai makan, mereka berpisah. Adriel langsung pulang, sedangkan Dathan mengantarkan Neta terlebih dahulu.
“Aku pikir kamu akan marah ketika Kak Adriel menuduhmu.” Saat perjalanan pulang, Neta menjelaskan apa yang dipikirkannya.
“Kamu pikir aku anak kecil yang pakai emosi. Lagi pula, menurutku itu masih hal wajar.” Dathan bisa menempatkan diri di saat-saat tertentu.
“Jika kamu dewasa seperti itu, aku makin cinta.” Neta bergelayut manja di lengan Dathan.
Dathan mengusap rambut Neta dan mendaratkan kecupan singkat di puncak Rambut Neta. “Jika dia tidak menyentuhmu, aku tidak akan marah. Jika dia sampai menyentuhmu. Aku akan benar-benar membuat perhitungan dengannya.” Dathan tidak akan melepaskan orang yang berani menyentuh Neta seujung kuku pun.
Neta semakin mengeratkan tangannya yang memegang lengan Neta. Jujur Neta benar-benar semakin cinta. Dathan melebihi harapannya. Dia seolah dapat pelindung. Berharap pernikahannya kelak berjalan dengan lancar.
__ADS_1