
Kini tinggal Arriel, Mauren, dan Mama Anggun yang berada di rumah Dathan. Dathan meminta asisten rumah tangga untuk membawa Loveta ke kamar terlebih dahulu. Mengingat mereka ingin membicarakan hal penting.
Suasana dingin ketik Loveta pergi. Tidak ada yang membuka suara. Dathan cenderung sengaja menutup mulutnya.
“Than, aku ke sini ingin mengantarkan mama untuk meminta maaf.” Arriel akhirnya membuka mulutnya. Dia menyenggol snag mama agar mulai berbicara.
Mama Anggun sudah tidak punya alasan untuk mengelak lagi. Kemarin anaknya sudah meminta dirinya minta maaf karena mengingat ada Loveta pada Dathan. Dathan sudah menjaga cucunya dengan baik, tetapi dirinya justru berbuat jahat.
“Than, aku sengaja datang ke sini untuk meminta maaf. Aku sadar jika yang sudah aku lakukan salah.” Mama Anggun pun langsung meminta maaf. Seperti yang anaknya minta.
“Sejujurnya aku kecewa dengan apa yang terjadi. Karena ini berdampak pada banyak orang. Saya harap setelah ini Anda jangan pernah mencampuri kehidupan saya. Apa pun yang berhubungan dengan saya selain tentang Cinta. Jika itu terjadi, saya tidak akan segan-segan melakukan tindakan hukum.” Dathan memberikan peringatan keras. Dia sadar jika memang harus melakukan itu untuk melindungi keluarganya.
Mama Anggun menelan salivanya. Merasa begitu takut sekali. Ternyata Dathan begitu tegas memberikan peringatan padanya. Dia merasa jika Dathan sudah tidak dapat didapatkan untuk anaknya. Jika sudah seperti ini, lebih baik anaknya mencari yang lain saja.
“Aku tidak akan mengulanginya lagi.” Mama Anggun memberikan janjinya.
“Terkait Cinta. Saya harap Anda bisa mengunjunginya atau sekadar menemuinya. Karena dengan begitu Cinta tahu siapa neneknya.”
“Baiklah, aku akan menemuinya.” Setelah tadi melihat Loveta, Mama Anggun memang sudah berniat menemui cucunya lebih sering. Apalagi cucunya begitu cantik.
“Apa Lolo bisa aku bawa, Than?” Arriel menyela pembicaraan mamanya dan Dathan.
“Malam ini aku akan mengajaknya makan malam. Jadi jika kamu ingin mengajaknya ke apartemenmu. Kamu bisa menjemputnya besok pagi.”
__ADS_1
Arriel mengangguk. Dia akan mengambil anaknya besok pagi saja. Dia ingin sang mama bisa dekat dengan anaknya juga. Agar sang mama bisa menyayangi cucunya itu juga.
Arriel menyempatkan mengobrol sebentar perihal majalah. Kali ini Neta yang menjelaskan bagaimana majalah itu akhirnya rilis. Arriel turut bersyukur jika rilisnya majalah Syailen Gosip memberikan dampak baik.
Arriel, Mamanya, dan Mauren pun berpamitan pulang. Arriel merasa lega karena akhirnya sang mama sudah meminta maaf pada Dathan. Dia berharap, setelah ini mamanya tidak aka melakukan hal yang aneh lagi.
“Riel, sepertinya kamu harus cari pria lain.” Mama Anggun melihat putrinya yang duduk di depan.
Arriel menoleh ke arah belakang. “Iya.” Dia menjawab malas ucapan sang mama.
“Cari yang seperti Dathan.” Mama Anggun masih begitu terobsesi dengan Dathan.
“Mana ada seperti itu, Ma.” Arriel tidak habis pikir. Orang diciptakan masing-masing. Lalu bagaimana bisa mencari yang sama.
“Apa Mama sedang menyesali membuat aku melepaskan Dathan?” Arriel melemparkan sindiran. Merasa kesal karena sang mama begitu terobsesi pada Dathan.
“Iya, Mama menyesal membuat kamu melepaskan Dathan. Karena itu, kamu harus cari yang seperti Dathan.”
Arriel mendengkus kesal. “Aku akan cari seperti yang aku mau. Jadi Mama jangan ikut campur lagi.” Arriel memberikan peringatan keras pada sang mama. Merasa jika mamanya sudah terlalu ikut campur urusannya.
...****************...
Neta dan Dathan bersiap untuk makan malam. Neta yang selesai mandi, memilih membantu sang anak dulu untuk bersiap. Barulah Loveta meminta untuk hari ini tampil cantik. Gadis kecil itu ingin mencoba gaun yang dibelikan Mama Arriel untuknya beberapa hari lalu.
__ADS_1
Neta pun senang karena baju yang dipilih sang anak pas warnanya. Sama-sama merah. Sama seperti dirinya yang akan memakai baju gaun merah juga.
“Astaga, kita hanya mau makan malam, kenapa kamu heboh sekali.” Dathan yang melihat Neta sedang sibuk meng-curly rambut Loveta melemparkan sindiran.
“Papa, Lolo mau cantik.” Loveta tersenyum di depan kaca. Melihat pantulan dirinya.
“Tapi, kita hanya makan malam, Cinta.” Dathan masih melemparkan protesnya.
“Sudah seperti mau bertemu dengan pria saja.” Dathan bergumam. Anaknya sudah mengerti arti tampil cantik. Sebentar lagi anaknya akan tahu jika ingin tampil menawan di depan pria. Dathan tidak sanggup jika harus melihat anaknya akan cepat dewasa. Takut di luar sana banyak pria-pria nakal.
Neta yang melihat perdebatan papa dan anak itu hanya tersenyum. “Selesai.” Neta meletakan alat untuk meng-curly rambut Loveta. Kemudian meletakan bando seperti putri di rambut sang anak. Loveta begitu tampak cantik sekali.
Dathan yang melihat hal itu hanya bisa menggeleng heran.
“Mami akan bersiap. Cinta tunggu dengan bibi di ruang keluarga.” Neta memberitahu sang anak.
“Siap, Mami.” Loveta bersemangat berdiri dan keluar dari kamar. Saat melewati sang papa dia tersenyum.
Dathan hanya bisa menggeleng saja. Sepertinya anaknya dewasa sebelum waktunya. Di belakang sang anak, ada sang istri yang berjalan hendak keluar. Sebelum mencapai pintu, Dathan menghentikan sang istri.
“Jangan dandan terlalu cantik.” Dathan tidak mau sampai ada yang menyukai sang istri.
“Iya.” Neta tersenyum dan mendaratkan kecupan di pipi Dathan. Dia segera kembali ke kamarnya untuk bergantian bersiap.
__ADS_1