Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Kerja Di Rumah


__ADS_3

Jam istirahat sekolah tiba. Guru-guru meminta anak-anak makan bekal yang dibawa. Loveta asyik membawa bekal yang dibawanya. Bekal kali ini bukan maminya yang buat jadi dia sedikit malas ketika hendak makan.


“Kenapa tidak dimakan?” Leo melempar pertanyaan itu pada Loveta.


“Ini bukan mami yang buat.” Loveta menekuk bibirnya. Dia bosan saat asisten rumah tangga yang memasak bekal untuknya.


Leo tidak banyak bicara, dia segera menukar bekal miliknya dengan Loveta. Dia memang sangat irit bicara, tetapi tahu bagaimana memperlakukan temannya seperti apa. Apalagi dia tahu bagaimana Loveta.


Mendapati bekal Leo, Loveta langsung bersemangat sekali. Dia segera memakan bekalnya.


“Mami sedang sakit karena adik bayi. Jadi dia tidak memasak.” Sambil makan dia menceritakan pada Leo.


Leo memilih diam. Mendengarkan Loveta bercerita.


“Adik bayi nakal, di perut mami, buat mami sakit.” Loveta menggerutu.


“Memangnya adik bayi bisa apa di perut?” Leo jadi penasaran ketika Loveta menceritakan hal itu.


“Tidak tahu.” Loveta menaikkan bahunya.


“Kalau tidak tahu jangan asal menuduh.” Leo memberikan peringatan. “Bisa jadi mami sakit karena kamu manja.” Dia menambahkan.


“Lolo tidak manja.” Loveta mengelak.


“Ini apa buktinya. Tidak mau makan bekal.” Leo menunjuk bekal yang dibawa Loveta tadi.


Loveta mencebikkan bibirnya. Merasa kesal karena Leo menuduhnya seperti itu.


“Kamu harus makan apa yang dibuat dari rumah. Nanti mami akan sedih kalau kamu tidak makan.” Leo memberikan pendapatnya.

__ADS_1


“Ya sudah, aku makan.” Loveta hendak mengganti bekal yang dibawanya dengan milik Leo.


“Sudah, makan itu dulu. Besok saja kamu makan bekal milikmu.” Leo sedang asyik makan, tetapi diminta.


“Tadi diminta jangan manja.” Loveta kesal karena Leo baru saja memberitahunya, tetapi sekarang dirinya tidak boleh memakan bekalnya.


“Bekalmu tinggal sedikit, lalu aku makan apa?” Leo menatap kesal pada Loveta.


Loveta hanya tersenyum polos memamerkan deretan giginya. Makanan sudah tinggal sedikit, tetapi dia masih mau makan bekal yang dimakan Leo.


Mereka melanjutkan makan. Leo memakan belak Loveta, sedangkan Loveta memakan bekal Leo yang sisa sedikit lagi. Karena guru meminta mereka fokus makan. Alhasil, mereka menikmati makan tanpa ada yang bicara.


...****************...


Sama dengan di sekolah yang sedang lahap makan bekal, di rumah juga Neta sedang lahap memakan bubur buatan Dathan. Dia sampai tambah satu porsi. Kapan lagi bisa makan dan tidak muntah. Hal itu tentu saja dimanfaatkan Neta untuk makan lahap.


“Tidak, aku akan di rumah hari ini. Aku akan bekerja dari rumah. Kamu bisa istirahat saja. Aku akan menemani.” Dathan sudah di rumah. Jadi tentu saja dia memilih mengerjakan pekerjaan di rumah.


Neta pun mengangguk saja. Tentu saja dia senang ketika ditemani sang suami. Jadi perasaannya sedikit tenang.


“Kalau sudah selesai makan, aku antar ke kamar.” Dathan mengulurkan tangan pada sang istri.


Neta menerima uluran tangan Dathan. Kemudian ikut bersama Dathan ke kamar. Dathan meminta Neta untuk duduk di tempat tidur.


“Aku akan bekerja. Di ruangku. Jadi jika ada apa-apa kamu panggil saja.” Kebetulan ruang kerja milik Dathan berada di sebelah kamar. Jadi tentu saja itu memudahkan Dathan memantau sang istri.


“Iya, aku akan memanggilmu nanti.” Neta mengangguk.


Dathan segera meninggalkan sang istri yang berada di kamar. Kemudian beralih ke ruang kerjanya. Sambil mengerjakan pekerjaan, dia menunggu sang istri.

__ADS_1


Ada Dathan di rumah justru membuat Neta tidak tenang. Biasanya tidak ada Dathan dia bisa menikmati tidurnya. Namun, ini justru dirinya dari tadi tidak bisa tidur. Satu jam Neta berguling-guling di tempat tidur. Namun, tak kunjung mengantuk. Karena itu, dia memutuskan untuk ke ruangan Dathan. Menyusul Dathan yang bekerja.


“Sayang.” Neta memanggil Dathan.


Dathan yang serang fokus pada laptopnya mengalihkan pandangannya. Senyum manisnya menghiasi wajahnya ketika melihat sang istri.


“Ke sinilah.” Dathan melambaikan tangan. Meminta sang istri untuk mendekat.


Neta mengayunkan langkahnya menghampiri Dathan. Tepat saat di dekat suaminya itu, sang suami memintanya duduk di pangkuannya. Neta pun duduk di pangkuan sang suami.


Dathan melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. “Kenapa?” tanya Dathan. Dia pikir sang istri sudah tidur.


“Tidak bisa tidur.” Neta mengeluhkan apa yang terjadi.


“Mau aku temani?” Dathan menatap lekat wajah sang istri yang posisinya jauh lebih tinggi dari pada dirinya.


“Tidak.” Neta menggeleng.


“Lalu?” Dathan jadi bingung apa yang dimau sang istri.


“Apa aku boleh menunggumu di sini?” Neta bosan di kamar. Karena ada Dathan dia justru merasa butuh teman.


“Tentu saja boleh, tapi jangan menggodaku.” Dathan mengedipkan matanya.


“Aku tidak akan menggoda.” Neta tersipu malu.


“Baiklah, aku akan mengambil kursi untukmu.” Dathan meminta Neta untuk turun lebih dulu dari pangkuannya. Kemudian dia mengambil kursi untuk istrinya memintanya duduk manis di kursi.


Neta duduk di kursi yang dibawa oleh Dathan. Dia menunggu Dathan yang asyik bekerja. Dathan sudah terbiasa ketika bekerja ada orang di sampingnya. Karena sejak kecil Loveta pun juga seperti itu. Saat Loveta butuh teman, tetapi Dathan sedang bekerja, dia meminta sang anak duduk manis di sampingnya. Sama persis yang dilakukan sang istri sekarang.

__ADS_1


__ADS_2