
Loveta diantar oleh Mama Arriel dan Papa Adriel untuk ke rumah sakit. Loveta begitu bersemangat sekali ketika hendak bertemu dengan adiknya.
“Mami, Papi.” Loveta langsung berlari ketika pintu ruang perawatan dibuka oleh Adriel.
Dathan yang melihat anaknya begitu senang. Dia langsung merentangkan tangannya. Menyambut kedatangan sang anak. Dathan begitu rindu. Padahal baru kemarin tidak bertemu. Dia menggendong sang anak dan mendaratkan kecupan di pipi sang anak.
Neta yang sedang menggendong satu anaknya tersenyum melihat Loveta. Di ruangan perawatan, tidak hanya Neta dan Dathan yang ada, tapi ada Reno dan Rifa di sana. Rifa menggendong bayi laki-laki, anak dari Neta.
Arriel dan Adriel menghampiri Dathan. Mereka mengulurkan tangan untuk memberikan ucapan selamat.
“Selamat untuk kelahiran anak kalian.” Adriel lebih dulu memberikan ucapan selamat pada Dathan.
“Terima kasih.” Dathan tersenyum.
“Selamat, Than. Akhirnya anakmu lahir.” Arriel juga ikut mengulurkan tangan.
“Terima kasih.” Dathan memang sudah berdamai dengan Arriel. Walaupun tetap hubungan mereka hanya sebatas saja.
Adriel segera menghampiri Reno. Menjabat
tangan pria itu. Begitu juga dengan Arriel, dia segera menghampiri Neta untuk melihat anak Neta.
“Selamat atas kelahiran anakmu.” Arriel tersenyum pada Neta.
“Terima kasih.” Neta senang Arriel mau datang.
“Lolo mau lihat adik bayi.” Loveta langsung turun dari gendongan sang daddy. Dia begitu penasaran sekali.
__ADS_1
“Lihatlah cantik sekali.” Arriel melihat wajah anak perempuan Neta yang berada dalam gendongan Neta.
“Lolo mau lihat adik.” Loveta begitu heboh sekali. Sampai-sampai Arriel harus mundur untuk memberikan ruang pada Loveta.
Dathan yang melihat anaknya begitu heboh pun memilih mengangkat tubuh anaknya naik ke atas ranjang. Dia tahu anaknya mau melihat adiknya.
Akhirnya Loveta duduk di samping Neta. Dia melihat adiknya yang sedang tidur. “Adik bayi cantik sekali.” Loveta begitu gemas melihat adiknya. “Ini siapa namanya.”
“Danessia Tassanee.” Neta menatap Loveta.
“Namanya sama dengan Lolo.” Loveta berbinar. Nama depan sama dengan Loveta.
Arriel tersenyum ketika mendengar nama itu. Nama Danessia Loveta dipilih Dathan kala itu. Dia yang tidak peduli dengan Loveta memilih menyerahkan apa saja nama yang diberikan oleh Dathan.
“Lolo panggilnya apa?” Loveta bingung ketika hendak memanggil adiknya.
Lolo tampak berpikir nama yang pas untuk memanggil adiknya. “Lolo mau panggil Nessia saja.” Dia memilih nama yang menurutnya pas untuk adiknya.
“Nessia bagus. Neta-Nessia. Sama-sama berawalan N.” Arriel menimpali.
“Baiklah, kita panggil Nessia.” Neta mendaratkan kecupan di pipi Loveta. Senang karena anaknya memilih nama panggilan adiknya.
“Nessia.” Loveta mendaratkan kecupan di pipi bayi kecil itu. Gemas dengan adiknya yang cantik. Dia kemudian beralih pada adiknya satu lagi. “Lolo mau lihat satu adik lagi.” Lolo hendak turun dari tempat tidur.
“Aunty saja yang ke sana, Sayang.” Rifa memilih mendekat pada Loveta agar Loveta dapat melihat adiknya.
“Adik Lolo.” Loveta mendaratkan kecupan di pipi adiknya. “Ini namanya siapa?” Loveta menatap maminya lagi.
__ADS_1
“Danish Morgan. Kakak Lolo bisa panggil Danish.” Neta memberitahu anaknya.
“Danish.” Loveta memanggil anaknya.
“Danish-Nessia, serasa memanggil Dathan-Neta.” Reno menggoda temannya.
Dathan tersenyum. Mungkin akan lebih mudah mengingat jika seperti itu.
Suasana ruang rawat ramai. Mereka merasakan kebahagiaan kehadiran bayi kembar Dathan dan Neta. Apalagi dua bayi itu sangat menggemaskan sekali.
“Arriel, kamu sudah berapa bulan?” tanya Rifa.
“Sudah tujuh bulan, Kak.” Perut Arriel juga sudah besar. Jadi tinggal sebentar lagi dia melahirkan.
“Wah ... sebentar lagi akan melahirkan. Sepertinya kita akan punya banyak keponakan baru.” Rifa begitu girang sekali. Dia menatap suaminya senang.
“Jika ingin lebih senang. Kita bisa tambah lagi. Jadi anak kita akan seumuran dengan anak mereka nanti.” Reno menggoda istrinya.
“Tidak-tidak. Aku tidak mau. Cukup satu anak saja.” Rifa tidak mau dibuat pusing. Apalagi jarak anaknya terlalu jauh. Yang ada akan repot nanti.
Semua tertawa melihat Rifa yang tak mau punya anak. Semua larut dalam kebahagiaan yang ada. Para pria melanjutkan obrolan sambil duduk. Para wanita sibuk melihat bayi kembar. Arriel juga ikut menggendong anak Neta. Dia menggendong Danish. Karena sudah ada Loveta, dia memang berharap anaknya laki-laki.
“Apa sudah USG?” tanya Neta menatap Arriel.
“Sudah, tapi aku tidak mau tahu. Aku mau jadi kejutan.” Arriel dan Adriel memang sepakat. Tidak akan mau melihat jenis kelamin anaknya. Mau menjadikan itu hadiah indah untuk mereka.
“Apa pun jenis kelaminnya. Yang penting sehat.” Neta memberikan semangat. Keputusan untuk tidak melihat jenis kelamin adalah keputusan masing-masing orang tua. Asal menjadi kesepakatan bersama bukan menjadi masalah besar.
__ADS_1