
“Pak.” Neta menyapa Bryan.
“Nikmati pestanya. Jangan terus memotret.” Bryan yang sedari tadi memerhatikan Neta menegur gadis itu.
“Iya, Pak. Setelah ini saya akan menikmati pesta.” Neta tersenyum.
Neta melirik ke arah Dathan. Dia masih kesal dengan sang kekasih yang membohonginya.
“Pak Dathan juga di sini?” Neta sengaja bertanya pada Dathan. Nada bicaranya jelas menyindir kekasihnya itu.
“Kamu sudah mengenalnya?” Bryan cukup terkejut. Dia beberapa kali bertemu Dathan dan dia tahu jika Dathan menghindari wartawan.
“Kebetulan saya baru saja mewawancarai Pak Dathan.” Neta memberitahu Bryan bagaimana dirinya mengenal Dathan.
“Wah ... sepertinya kamu sudah mulai mau tampil.” Bryan menepuk bahu Dathan.
“Sepertinya memang sudah saatnya, Pak.” Dathan tersenyum. Dia merasa senang karena berawal dari wawancara dia mendapatkan pujaan hatinya.
“Bagus itu. Orang harus tahu siapa pemilik IZIO.” Bryan tersenyum.
Dathan mengangguk. Membenarkan yang diucapkan oleh Bryan.
Ketika mereka sedang asyik bicara anak sulung Bryan melintas. Dia segera memanggil anaknya tersebut. “Bian.”
Bian yang mendengar suaranya langsung menoleh. Saat melihat daddy-nya, dia segera menghampiri.
“Kenalkan Neta, ini anak bungsuku.” Bryan dengan bangganya memperkenalkan anaknya.
Bian yang melihat Neta yang cantik langsung mengulurkan tangan. “Hai, aku Bian.” Pria dua puluh tujuh tahun itu mengulurkan tangannya.
“Neta.” Neta menerima uluran tangan dari Bian.
__ADS_1
“Aku rasa aku akan betah di sini jika ada wanita cantik.” Bian tersenyum. Kelakuan Bian memang sebelas dua belas dengan sang papa di waktu muda.
Dathan yang melihat sang kekasih digoda merasa geram. Apalagi pria yang menggoda Neta adalah pria muda.
“Neta, apa kamu pulang dengan kekasihmu nanti?” Dathan pura-pura bertanya.
“Oh ... sudah punya kekasih.” Dengan polosnya Bian bergumam.
Neta melihat kilat kecemburuan di mata Dathan. Hal itu tentu membuatnya merasa lucu. “Iya, nanti aku dijemput.” Dia membenarkan ucapan Dathan.
“Daddy kalau panggil aku saat ada gadis yang belum punya kekasih.” Bian berbisik pada daddy-nya. “Kalau begitu aku permisi dulu.” Bian memilih untuk segera pergi.
“Maaf dia terlalu lama di luar negeri. Jadi seenaknya saja.” Bryan tersenyum pada Neta. “Aku pikir kamu tidak punya kekasih. Tadinya aku mau jodohkan dengan Bian.” Bryan tertawa. Dia kemudian beralih pada Dathan. “Kamu tahu juga dia punya kekasih.” Dia merasa aneh karena Dathan tahu sesuatu.
“Iya, karena saya kekasihnya.” Dengan polosnya Dathan mengakui di depan Bryan.
Bryan menatap dengan wajahnya yang terkejut. “Wah ... akhirnya kamu punya kekasih juga. Semoga undangannya segera datang padaku.” Bryan menepuk bahu Dathan.
“Baiklah, nikmati pestanya.” Bryan pun memilih untuk berpamitan. Dia harus menyambut tamu-tamu yang lain.
Dathan dan Neta mengangguk. Membiarkan
Bryan untuk pergi. Saat Bryan pergi tinggallah Neta berdua dengan Dathan. Neta pun langsung menarik tangan Dathan. Mengajaknya untuk menjauh dari pesta terlebih dahulu. Membawanya ke lorong yang menuju arah toilet.
“Kenapa tidak bilang jika kamu ke sini?” Neta langsung melempar pertanyaan itu.
“Kejutan.” Dathan tersenyum.
Neta semakin kesal. Dia sudah membuang energi untuk khawatir, tetapi ternyata Dathan justru ke pesta yang sama dengannya.
“Jangan marah. Aku hanya ingin membuat kejutan untukmu saja.” Dathan mencoba membujuk Neta.
__ADS_1
Neta mengembuskan napasnya. Lagi pula jika Dathan di pesta, dia harusnya lebih tenang. Jadi paling tidak, dia tidak kepikiran.
“Aku belum memaafkanmu.” Neta menatap malas.
Melihat Neta yang marah membuat Dathan memajukan tubuhnya.
“Neta.”
Baru saja Dathan ingin mendekat ke arah Neta, tetapi suara terdengar memanggil nama Neta. Mereka berdua langsung mengalihkan pandangan pada sumber suara. Alangkah terkejutnya ketika melihat Adriel di sana.
Adriel yang kebetulan keluar dari toilet terkejut melihat Neta. Apalagi, tampak Neta sedang asyik mengobrol. Saat Neta dan pria itu menoleh. Akhirnya Adriel tahu siapa pria itu.
“Selamat malam Pak Dathan.” Adriel langsung menyapa Dathan.
“Anda?” Dathan pura-pura tidak mengenal Adriel.
“Saya Adriel yang waktu itu bertemu di restoran.” Adriel memberitahu siapa dirinya.
“Oh ... pria itu.” Dathan masih pura-pura. Dia tidak mau terlihat sudah mengenal Adriel.
“Apa kamu tamu undangan juga?” Untuk melengkapi sandiwaranya, dia pun bertanya.
“Saya wartawan yang meliput acara ini.” Adriel menjelaskan alasan kedatangannya.
“Jadi dengan Neta juga?” Dari Adriel, Dathan beralih menatap Neta.
“Iya, sata team dengan Neta.”
Dathan mengangguk-anggukkan kepalanya. Membuat Adriel percaya jika dirinya baru tahu semuanya. Padahal dirinya sudah tahu sejak tadi pagi siapa Adriel.
“Neta, kenapa kamu di sini?” Adriel beralih pada Neta.
__ADS_1
Neta yang mendapati pertanyaan dari Adriel bingung harus menjawab apa. Dia belum siap Adriel tahu semuanya sekarang. Paling tidak sampai wawancara Dathan terbit.