
Dathan yang baru saja menidurkan anaknya, memilih ke balkon rumahnya. Tempat yang menjadi kesukaannya untuk bersantai. Lantai vinyl yang didesain untuk balkon rumahnya memberikan kesan adem.
Di lantai dua rumahnya ini terdapat sebuah dapur yang terhubung ke balkon. Tempat ini dipakainya jika sedang mengadakan barbeque dengan teman-temannya. Dathan adalah pria yang suka sekali memasak. Segala hal tentang pernak-pernik rumah adalah hal menarik untuknya. Hal itu yang menjadikannya alasan mendirikan IZIO. Membuat produk untuk mereka orang-orang seperti dirinya. Dathan ingin orang bisa betah di rumah dengan dekorasi rumah dan perabotan rumah tangga.
Dathan membuat kopi sendiri di dapur kecil yang berada di lantai atas. Kemudian membawa cangkir berisi kopi itu ke balkon untuk dinikmati. Sambil duduk menikmati secangkir kopi miliknya, dia mengirim pesan pada mantan istrinya. Menanyakan perihal anaknya.
[Apa besok kamu akan menjemput Cinta ke sini?] Satu pesan dikirim pada sang mantan istri. Hubungannya dengan sang istri memang terbilang baik. Dathan tidak mau merusak kebahagiaan anaknya. Sampai detik ini Loveta hanya tahu jika orang tuanya tinggal terpisah karena sang mama yang sibuk bekerja.
[Than, maaf besok aku harus ke Singapura untuk mengecek toko. Jadi minggu ini aku tidak bisa temani Lolo.]
Membaca pesan dari mantan istrinya itu membuat Dathan hanya menggeleng heran. Sang mantan istri hanya mempunyai waktu di sabtu dan minggu saja dengan anaknya, tetapi ada saja acara sang mantan itu.
Dathan bukan tidak mau mengerti, tetapi anaknya terkadang harus bersabar hanya sekadar ingin bertemu dengan sang mama.
Melihat besok agenda anaknya bersamanya, akhirnya Dathan memilih untuk mengajak Reno dan keluarganya berlibur di hotel. Jika besok Loveta bersenang-senang, tentu saja dia tidak akan kecewa karena sang mama tidak bisa menjemputnya.
Jika menghubungi Reno, Dathan tak mau berlama-lama mengirim pesan. Dia memilih untuk menghubungi langsung.
“Apa kamu tidak punya kerjaan menghubungi aku malam-malam?”
Baru saja menghubungi temannya, Dathan sudah disambut amukan sang teman. “Kamu tahu aku duda. Lalu apa yang bisa aku kerjakan sendiri malam-malam begini.” Dathan dengan tenangnya menjawab hal itu.
“Cepatlah menikah, jadi kamu tidak mengganggu aku setiap malam.”
“Astaga, pelit sekali kamu ini.” Dathan pura-pura kesal.
__ADS_1
“Ada apa kamu menghubungi aku?” Reno di seberang sana langsung bertanya.
“Aku mau mengajakmu menginap di hotel besok.”
“Ada angin apa kamu mengajakku pergi? Apa Ariella tidak menjemput Lolo?” Reno di seberang sana menebak.
“Iya, dia pergi ke luar negeri. Jadi tidak bisa menemani Cinta.”
“Baiklah, aku akan pesankan hotel malam ini. Besok aku akan ke rumahmu pagi.”
“Terima kasih, Ren.” Dathan tahu temannya itu selalu mengerti dirinya sekali.
“Kamu, seperti dengan siapa saja.” Reno terdengar tertawa.
“Aku tahu kamu selalu bisa diandalkan.”
“Richa sudah terlalu besar untuk mendapatkan adik lagi.” Dathan meledek Reno di seberang sana.
“Yang penting buat dulu. Dari pada yang tidak bisa buat.”
“Sial!”
Reno terdengar tertawa. Kemudian mematikan teleponnya. Dathan yang melihat sang teman mematikan teleponnya hanya mendengus kesal saja. Dia segera meletakkan kembali teleponnya.
Dathan meraih cangkir berisi kopi miliknya. Saat ditinggal mengobrol dengan Reno, kopinya sudah mulai dingin. Jadi tentu saja dia harus segera meminumnya.
__ADS_1
Saat menikmati secangkir kopi, Dathan kembali memikirkan Neta. Bagaimana keadaan gadis itu. Apa gadis itu sedang bersedih karena gagal wawancara? Apa gadis itu menunggu telepon darinya? Pikiran Dathan dihiasi dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
Dathan mengembuskan napasnya. Sepertinya dirinyalah yang justru dibuat tersiksa. “Sabar, Than.” Dia menguatkan hatinya. Menahan dirinya. Namun, pandangannya tak teralih dari ponselnya. Menimbang apakah dirinya harus menghubungi Neta atau tidak.
...****************...
Di seberang sana ada Neta yang juga memandangi ponselnya. Dia menunggu telepon dari Dathan. Dia berharap sekali Dathan berubah pikiran dan menghubunginya. Namun, tampaknya tidak ada telepon sama sekali yang masuk ke ponselnya.
Neta memejamkan matanya karena terlalu lama menunggu. Namun, baru saja matanya terpejam suara telepon kembali terdengar. Hal itu membuatnya segera membuka mata dan meraih ponselnya. Dia sudah teramat senang karena dia yakin itu adalah Dathan.
Sayangnya, Neta harus kecewa. Karena itu adalah ibu panti. Dengan segera Neta mengangkat sambungan telepon.
“Halo, Sayang.” Suara lembut terdengar di seberang sana.
“Halo, Ibu.” Neta tersenyum ketika mendengar suara indah yang selalu menenangkan itu.
“Apa kamu sudah tidur? Apa Ibu menganggumu?” Ibu Kania di seberang sana menanyakan hal itu.
“Belum, Bu. Neta belum tidur.” Neta berangsur bangun dari tempat tidur. Bersandar pada headboard tempat tidur. “Ada apa ibu menghubungi malam-malam?” Neta langsung bertanya. Karena dia tahu ibu panti jarang menghubunginya malam-malam.
“Ibu hanya mengabari jika hari minggu akan ada acara di panti. Jadi apa kamu bisa datang?” Ibu Kania menjelaskan alasannya menghubungi.
“Tentu saja bisa, Bu, Neta akan datang ke panti.” Neta memang selalu meluangkan waktunya ke panti. Dia ingin selalu membagi kebahagiaan bersama dengan anak-anak panti. Dia merasa jika mereka berhak untuk merasakan bahagia.
“Bagus kalau kamu bisa. Ibu akan menunggumu datang. Kalau begitu istirahatlah. Ini sudah malam.”
__ADS_1
“Baik, Bu. Selamat malam.” Setelah mendapatkan jawaban dari ibu panti, Neta segera mematikan sambungan telepon. Dia memikirkan jika akhir pekannya ini tidak akan menjadi kelabu karena dia akan banyak kegiatan. Hari sabtu dia ada makan malam, sedangkan minggu dia akan ada jadwal ke panti asuhan. Paling tidak sejenak dia bisa melupakan kegundahannya menunggu Dathan menghubunginya.
Neta meletakkan ponselnya di atas nakas. Segera dia kembali memejamkan mata. Dia pusing memikirkan bagaimana mendapatkan wawancara. Jadi tentu saja, dia lebih memilih untuk tidur saja.