Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Menghapusnya


__ADS_3

Perlahan Neta dan Dathan melepaskan tautan bibir mereka. Saat wajah mereka saling menjauh, terlihat mereka dapat melihat wajah masing-masing. Walaupun bukan ciuman pertama, tetapi tetap saja membuat Neta malu.


“Aku mencintaimu.” Satu kalimat yang keluar dari mulut Dathan. Tangannya membelai wajah Neta yang begitu cantik. Rasa cintanya benar-benar sudah membuatnya tak berdaya.


“Aku juga mencintaimu.” Malu-malu Neta menjawab ucapan Dathan.


Dathan tersenyum mendapati jawaban dari Neta. Tangannya menyelipkan rambut Neta ke belakang telinga. Membuat wajah Neta terlihat tanpa ada yang menghalangi sama sekali.


“Ada apa sebenarnya terjadi?” Neta merasa jika memang ada sesuatu. Apalagi Dathan datang malam-malam ke sini.


“Apa aku bisa jelaskan sambil duduk.” Dathan tersenyum tipis. Mereka sejak tadi berdiri, dan mulai merasa pegal.


“Ayo.” Neta tersenyum mendengar permintaan Dathan.


Mereka berdua menuju ke sofa. Duduk bersebelahan karena kali ini pembicaraan akan tampak serius. Dathan Menggenggam tangan Neta. Tak melepaskan sedikit pun. Seolah dia tidak mau kehilangan sama sekali.


“Jadi apa yang terjadi.” Neta yang duduk sedikit miring, dapat melihat wajah Dathan dengan jelas.


“Sejak kemarin aku sudah memerhatikan Arriel. Aku mencoba menghindar saat dia selalu datang ke rumah. Saat hari ini dia menginap, aku sengaja bergabung dengan Cinta dan Arriel. Awalnya, aku melihat dia sedang memerhatikan aku. Aku mencoba menepis jika dia memiliki rasa cinta lagi padaku, tetapi tadi dia benar-benar mengatakan jika dia masih mencintaiku.” Dathan menceritakan apa adanya.


Neta yang mendengar cerita itu tampak tenang. Dia merasa memang sejak pertama kali melihat Arriel, cara pandang Arriel berbeda. Akan tetapi, dia tidak yakin jika mantan suami Dathan itu masih menaruh hati. Namun, sekarang akhirnya dia dapat jawaban atas itu semua.


“Jadi dia mengatakan cinta padamu?” Neta memastikan.


“Iya, dia mengatakan cinta dan aku mencoba menjelaskan jika aku tidak mencintainya.” Dathan kembali menjelaskan seperti apa tadi terjadi.

__ADS_1


“Lalu apa tanggapan dia?” Neta begitu penasaran.


“Dia justru mencium aku.” Dathan tidak mau berbohong. Karena takut berdampak buruk untuk hubungannya.


Neta membulatkan matanya. Tidak menyangka jika baru saja kekasihnya berciuman dengan mantan istrinya.


“Sayang, jalan salah paham dulu. Aku tidak membalas ciumannya. Aku segera mendorongnya.” Dathan segera menjelaskan pada sang kekasih. Agar dia tidak salah paham.


Neta mengembuskan napasnya. Mau marah juga percuma karena Arriel yang mencium lebih dulu. Jika dapat serangan tiba-tiba, tentu saja Dathan tidak bisa mengelak. Masih beruntung Dathan tidak menikmati ciuman itu.


“Jadi kamu ke sini dan tiba-tiba menciumku karena baru saja Arriel menciummu?” Neta memastikan kembali pada Dathan.


“Aku sudah mencoba menghapus dengan membasuh air, tetapi aku rasa itu tidak cukup, karena itu aku memilih untuk menghapusnya dengan bibirmu.” Dathan menarik senyum tipis di sudut bibirnya.


Neta tersenyum. Di situasi seperti ini kepala Dathan masih bisa membuatnya sedikit tersenyum.


Neta tersenyum. Dia percaya sekalipun ada yang mencium Dathan, dia yakin kekasihnya itu tidak akan membalas sama sekali. Neta langsung memeluk Dathan. Meluapkan rasa bahagianya karena Dathan menjaga dirinya di saat ada wanita lain menggodanya.


Dathan mengeratkan pelukannya. Pilihannya datang pada Neta tidaklah salah. Ini adalah tempat di mana dia akan menjadi sandaran saat ada masalah.


“Bolehkah aku menginap di sini?” Dathan malas untuk pulang. Dia belum siap untuk bertemu dengan Arriel di rumahnya. Apalagi setelah kejadian tadi.


Neta melepaskan pelukannya. Kemudian menatap Dathan sambil mengangguk. Dia tentu saja akan mengizinkan kekasihnya itu menginap. Mengingat ada Arriel di rumah Dathan. Neta juga takut jika sampai Arriel melakukan hal gila lagi nanti.


Dathan senang ketika Neta mengizinkannya. “Aku akan tidur di sofa.” Dathan melihat ke arah sofa yang sedang didudukinya.

__ADS_1


“Apa sofa ini akan muat?” Neta merasa jika sofanya tidak cukup panjang menampung tubuh Dathan yang tinggi.


“Jika sofa ini tidak muat, apa kamu akan menawarkan aku tidur di tempat tidur bersamamu?” Dathan menyeringai.


Pipi Neta langsung merona. Tidak mungkin mereka akan tidur bersama. Apalagi mereka belum resmi menikah.


Dathan tertawa. Senang sekali menggoda kekasihnya. Dathan yang gemas langsung mendaratkan kecupan di pipi Neta.


“Aku akan ambilkan selimut.” Neta segera berdiri setelah mendapatkan kecupan dari sang kekasih. Dia membuka lemari dan mengambil selimut yang berada di dalam lemari. Tak hanya itu, dia juga mengambil bantal untuk Dathan. “Ini.” Dia yang kembali pada Dathan segera memberikan selimut dan bantal yang dibawanya.


“Terima kasih.” Dathan tersenyum.


Neta segera kembali ke tempat tidur. Merebahkan tubuhnya menghadap ke arah Dathan. Dathan sendiri segera menata bantal dan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sudah jam sepuluh, dan tentu mereka sudah mengantuk.


“Apa yang akan kamu lakukan besok?” Sambil memandangi Dathan, Neta melemparkan pertanyaannya.


“Aku akan mengatakan pada Cinta semuanya. Aku berharap dia mengerti.” Dathan merasa jika tidak bisa lagi ditunda-tunda. Semakin lama dirinya menunda, yang ada nanti akan membuat Arriel melakukan hal yang tak terduga.


“Aku berharap Cinta mengerti.” Neta sendiri berharap yang terbaik.


“Sudah sekarang tidurlah.” Dathan tersenyum ketika menatap Neta. Pasti kekasihnya itu sudah mengantuk.


“Selamat malam.” Neta tersenyum.


“Malam, Sayang.” Dathan membalas senyuman sang kekasih.

__ADS_1


Mereka berdua menikmati malam bersama dalam satu kamar. Walaupun harus tidur terpisah.


__ADS_2