
Sudah seminggu Neta di rumah. Kegiatan baru sebagai ibu rumah tangga begitu mengasyikkan sekali, hingga membuatnya terkadang terbuai. Di rumah Neta sedang senangnya. Dia sibuk memasak dan membuat kue di rumah. Berbekal resep yang dibacanya dari buku resep dia mempraktekkannya.
Loveta juga tak kalah senang. Setiap sore dia punya kegiatan membuat kue. Jadi dia selalu semangat ketika pulang sekolah.
Loveta juga begitu senang karena kini dia tidak perlu ikut papanya ke kantor. Bisa bermain di rumah dengan leluasa. Hal itu tentu membuat Loveta begitu senang sebagai anak-anak. Apalagi dia sudah mulai bosan di kantor sang papa. Karena hanya di dalam ruangan dan tidak melakukan hal menarik.
Seperti biasa, sore ini Neta dan Loveta membuat kue. Mereka membuat rainbow cake. Loveta senang melihat warna-warna dalam kue. Dia begitu bersemangat sekali.
“Lihat ini Mami, seperti pelangi.” Loveta tersenyum melihat kue buatannya.
“Iya.” Neta tersenyum membenarkan apa yang diucapkan oleh sang anak.
Aroma kue yang begitu manis tercium sampai ke depan. Dathan yang baru pulang sudah disuguhi dengan aroma manis tersebut. Sungguh hal ini membuat Dathan tak sabar untuk melihat apa yang dibuat oleh sang anak dan istrinya.
“Papa.” Loveta yang melihat Dathan langsung berlari ke arah sang papanya. Memeluk erat papanya.
“Kalian buat apa lagi?” Dathan membelai lembut rambut sang anak.
“Kita buat kue pelangi.” Dengan semangat Loveta menjelaskan pada sang papa.
“Wah … pasti ini enak.” Dathan tak sabar untuk mencicip kue yang dibuat anak dan istrinya. Dia kemudian mendekat pada sang istri sambil menggendong anaknya. “Papa mau coba.”
__ADS_1
Neta yang mencium aroma tubuh Dathan tiba-tiba merasa mual. “Sayang, bisakah kamu mandi dulu?” Neta merasa tidak enak mencium aroma tubuh sang suami.
Dathan langsung mencium bajunya. Memastikan apakah tubuhnya bau. Sayangnya, dia merasa jika tidak mencium bau aneh. Aroma tubuhnya adalah parfum yang biasa dipakainya.
“Apa aku bau?” tanyanya memastikan.
“Entahlah, tetapi aku tidak suka aroma tubuhmu. Sepertinya aroma perfummu berubah.” Neta merasa ada aroma lain selain aroma parfum Dathan.
Dathan merasa aneh. Dia hanya memakai parfum di rumah, dan belum pernah berganti atau memakai parfum lain. Namun, karena tidak mau membuat sang istri tidak nyaman, terpaksa dia pun memilih untuk mandi.
“Sayang, Papa mandi dulu.” Dathan perlahan menurunkan tubuh anaknya.
“Iya, Pa.” Loveta mengangguk.
Sekitar lima belas menit Dathan mandi, saat keluar dia melihat sang istri yang di sana. Menyiapkan pakaian untuknya. Dathan yang melihat hal itu segera menghampiri. Memeluk sang istri dari belakang.
“Apa sekarang aku masih bau?” Pertanyaan itu meluncur bersamaan dengan sebuah kecupan di pipi sang istrinya.
Neta tersenyum. Kemudian berbalik. Neta menghirup aroma tubuh sang suami. Aroma yang diberikan adalah aroma segar dari sabun yang memang sering dipakai sang suami.
“Ini aromanya lebih enak.” Neta yang mengendus tubuh sang suami mendapati jika tubuh sang suami lebih enak dari tadi.
__ADS_1
Dathan yang merasakan embusan lembut dari sang istri merasakan gelenyar aneh yang membuat gairahnya tiba-tiba terasa. Dia sedikit menundukkan pandangan. Mendaratkan kecupan di leher sang istri.
“Jangan macam-macam.” Neta yang merasakan embusan napas sang suami terasa di telinganya pun segera menjauhkan tubuhnya dari sang suami.
“Kenapa?” Dathan seperti anak kecil yang baru saja disuruh berhenti main.
“Masih sore. Nanti jika Cinta masuk bagaimana?” Neta merajuk. Sang suami seolah tidak tahu waktu.
“Kalau begitu nanti malam saja.” Dathan menyeringai.
Pipi Neta selalu saja merona ketika Dathan mengatakan itu. Walaupun sudah sering, tetapi ajakan itu selalu membuatnya malu-malu.
“Sudah cepat keluar. Kita makan kue.” Neta tersenyum dan memberikan baju yang tadi diambilkannya untuk Dathan.
“Iya, tetapi janji dulu.” Dathan tidak mau melepaskan sang istri begitu saja.
“Iya.” Neta malu-malu menjawab. Dia segera keluar dari kamar. Menyusul anaknya yang sedang bermain di ruang keluarga.
Senyum Dathan begitu lebar sekali. Nanti malam dia menunggu sang istri.
Neta yang keluar bersamaan dengan bel yang terdengar. Neta melihat ke arah jam dinding yang berada di ruang keluarga. Waktu menunjukan jam setengah tujuh, dia memikirkan siapa gerangan yang datang ke rumahnya. Untuk mengetahuinya, dia pun segera membuka pintu rumahnya.
__ADS_1
Saat membuka pintu, tiba-tiba aroma tidak sedap tercium. Neta yang mencium aroma itu, seketika mual dan hendak mau muntah. Karena tidak mau muntah sembarangan, Neta bergegas masuk sambil menutup mulutnya. Menahan agar tidak muntah di lantai rumah.