Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Pembukaan


__ADS_3

Neta akhirnya sampai di rumah sakit. Dokter kandungan yang sedang bertugas pun segera mengecek keadaan Neta. Ternyata masuk pembukaan satu, dan itu masih jauh sekali. Namun, karena Dathan memilih untuk tetap dipantau oleh dokter dan perawat, akhirnya Neta dipindahkan ke ruang perawatan untuk menunggu pembukaan. Perawat juga sudah menghubungi dr. Lyra dan memberitahu perkembangan dari Neta. Jadi dokter juga bersiap jika terjadi persalinan.


Kini Neta sudah di ruang perawatan. Menunggu proses kontraksi yang terus bertambah. Dathan setia menemani. Reno dan Rifa juga masih berada di sana. Menemani Dathan dan Neta.


“Sepertinya masih lama proses melahirkannya. Jadi aku rasa kalian bisa pulang dulu saja. Kasihan Richa sendiri di rumah.” Dathan memberitahu dua temannya itu.


“Baiklah kalau begitu.” Reno merasa apa yang dikatakan temannya ada benarnya.


“Jika ada apa-apa tolong kabari.” Rifa menatap Dathan dan bergantian menatap Neta.


“Tentu saja.” Dathan mengangguk.


Akhirnya Reno dan Rif memutuskan untuk pulang. Kini tinggallah Neta dan Dathan saja. Dathan terus menggenggam tangan sang istri. Menemani sang istri yang berada di ruang perawatan.


“Apa kamu tidak tidur?” Dathan menatap sang istri.


“Pinggang aku pegal dan terasa panas.” Neta merasa tidak enak sekali di bagian pinggangnya. Tentu saja itu membuatnya tidak bisa tidur.


“Miringlah, aku akan mengusapnya agar jauh lebih enak.”


Neta mengangguk. Dia segera mengubah posisinya miring. Dathan segera mengusap punggung Neta. Berharap itu dapat meredakan sakit yang dirasakan sang istri. Sesekali Neta meringis kesakitan ketika perutnya terasa mulas. Dia berusaha untuk tidur, tetapi tetap tidak bisa.


“Sayang, kamu harus berusaha tidur. Jika tidak, kamu tidak akan punya tenaga untuk melahirkan.” Sambil mengusap punggung sang istri, Dathan memberitahu sang istri.


“Aku akan coba tidur.” Neta sebenarnya sulit tidur. Namun, dia berusaha untuk tetap bisa tidur. Agar punya tenaga untuk nanti jika melahirkan.


Dathan terus mengusap punggung Neta. Berharap jika itu akan membantu sang istri. Beruntung Neta bisa tidur. Jadi paling tidak, dia sedikit lega. Dathan terus mengusap punggung Neta sambil memejamkan matanya. Dia juga sedikit mengantuk, tetapi tetap ingin berjaga. Untuk memastikan sang istri baik-baik saja.

__ADS_1


Sekitar jam dua belas malam, Neta terbangun kembali. Perutnya kali ini lebih sakit dibanding sebelumnya. Dia yang tadinya tidur pun segera bangun. Dia menggeser tubuhnya berbalik. Apa yang dilakukan Neta itu membuat Dathan terkejut.


“Sayang, kamu tidak apa-apa?” tanya Dathan.


“Hanya sedikit sakit dan pegal.” Karena posisinya miring, jadi dia merasakan pegal satu sisi.


Dathan tidak tega dengan yang terjadi pada sang istri. Terlihat sang istri menahan sakitnya. Dathan membelai lembut perut Neta.


“Sayang, cepat keluar. Papi dan mami ingin segera bertemu dengan kalian.” Satu kecupan mendarat di perut Neta.


Dalam keadaan menahan sakit, Neta tersenyum. Suaminya selalu bisa membuatnya merasa begitu senang. Karena begitu diperhatikan sekali.


“Tadi perawat bilang untuk berjalan-jalan. Aku ingin bangun, siapa tahu itu bisa membuat cepat persalinan.” Neta menatap sang suami. Mengingat apa yang dikatakan perawat tadi.


“Baiklah.” Dathan segera membantu Neta untuk bangun. Dengan telaten Dathan menemani sang istri yang berjalan di dalam ruang perawatan. “Apa sakit sekali?” tanya Dathan penasaran.


“Sakitnya benar-benar baru aku rasakan.” Neta tersenyum.


“Lalu aku harus apa? Ikut panik?” Neta makin melebarkan senyum. Namun, senyum itu seketika surut ketika perutnya terasa sakit.


Dathan reflek langsung memegangi perut Neta. Mengusap-ngusap perut sang istri. Berharap akan membuat sang istri lebih baik.


“Kita duduk dulu.” Dathan mengajak Neta untuk duduk di sofa. Dathan menemani sang istri. Mengusap punggung sang istri agar lebih baik.


Neta berusaha menahan sakitnya. Menarik napas dan membuangnya dengan perlahan agar mengurangi rasa sakitnya.


Dathan setia menemani. Tak berhenti memberikan perhatian.

__ADS_1


Di sofa perlahan Neta memejamkan matanya. Bersandar ke sofa. Tangan datang yang menyelip di antara punggung Neta dan sofa pun terus mengusap punggung sang istri. Sesekali tangan satunya mengusap perut Neta.


Tepat jam empat pagi perawat datang. Neta berpindah ke atas tempat tidur. Dr. Lyra datang mengecek pembukaan yang dirasakan oleh Neta. Semalam dia memantau dari rumah.


“Masih pembukaan empat. Jadi masih sedikit lama.” Dr. Lyra pun memberitahu Neta.


Dathan merasa pembukaan sangat lama. Padahal semalam baru satu dan naik ke empat butuh waktu semalam. Benar-benar lama sekali. Hal itu membuat Dathan semakin berdebar-debar.


“Apa semalam kamu tidur nyenyak?” tanya dr. Lyra.


“Tidak, Dok.” Neta menggeleng.


“Kalau begitu sekarang gunakan waktumu untuk istirahat. Kamu butuh tenaga untuk melahirkan nanti.”


“Baik, Dok.”


“Kalau begitu aku permisi dulu.” Dr. Lyra akan pulang dulu karena tadi memang dia sengaja meluangkan waktu pagi untuk mengecek kandungan Neta.


Neta mengangguk. Dathan meminta Neta untuk kembali beristirahat lebih dulu. Neta memanfaatkan waktu yang ada untuk segera beristirahat. Dr. Lyra sudah sangat baik menyempatkan diri untuk datang mengecek sendiri. Jadi dia harus mendengarkan kata dokter.


Di saat Neta tidur, Dathan setia menunggu. Dia tak melepaskan pandangan pada sang istri sama sekali. Tampak Neta pun begitu pulas saat tertidur. Hal itu membuat Dathan sedikit tenang.


Tepat jam tujuh, Neta yang merasa perutnya semakin sakit pun memilih untuk bangun. Namun, dia merasakan aneh pada bajunya yang basah.


“Sayang.” Neta memanggil Dathan yang tertidur di kursi yang berada tepat di sampingnya.


“Kenapa, Sayang?” Dathan baru saja memejamkan matanya. Namun, dikejutkan dengan panggilan sang istri.

__ADS_1


“Sepertinya ketubannya pecah.” Neta memberitahu saat badannya basah.


Dathan segera memanggil perawat. Dia begitu panik sekali. Tidak tahu apa yang akan terjadi di saat-saat seperti ini.


__ADS_2