
“Dari Syailend Bisnis?” Bryan menatap Neta yang baru datang.
“Iya, Pak.” Neta mengangguk.
“Ayo, masuk.” Bryan mempersilakan Neta untuk masuk. Dia yang baru saja keluar dari kamar pun berjalan ke sofa. Mendudukkan tubuhnya di sofa berbahan latex yang berada di hotel milik kakak iparnya itu.
Neta berjalan ke sofa beriringan dengan Shea yang juga ikut duduk. Dia duduk di depan Bryan, sedangkan Shea duduk di samping suaminya. Neta jelas melihat jika pasangan suami istri itu begitu serasi. Tampan dan cantik.
“Saya Marsya Kineta, Pak. Dari Syailend Bisnis. Terima kasih sudah berkenan untuk diwawancara.” Neta tersenyum. Merasa senang ketika bisa mewawancarai pengusaha sukses seperti Bryan Adion.
“Senang bisa wawancara dengan majalah kalian. Aku sudah beberapa kali wawancara dengan majalah kalian, hanya saja biasanya yang datang adalah seorang pria.” Bryan tersenyum menatap sang istri.
“Bisa saja kamu kalau lihat gadis cantik.” Shea menggoda sang suami.
“Secantik-cantiknya Nona Marsya Kineta, tetap saja lebih cantik Olivia Shea.” Bryan menatap penuh damba pada sang istri.
Shea tersipu malu. Suaminya selalu saja bisa menggodanya. Padahal ada orang lain di sini.
Melihat pemandangan itu Neta ikut tersipu malu. Mungkin bukan Neta yang dipuji, tetapi dia yang malu-malu. Entah kenapa dia begitu kagum dengan pasangan di depannya itu.
“Lihatlah, Neta pasti malu melihat kelakuanmu.” Shea tersenyum.
Neta hanya tersenyum saja. Dia membenarkan jika memang yang dikatakan Shea ada benarnya.
Bryan mengalihkan pandangannya. Senyumnya menghiasi wajahnya yang kini dihiasi guratan tipis. “Maklum, semakin tua, semakin jadi. Begitulah kami.” Dia tertawa. Menertawakan dirinya sendiri.
__ADS_1
Neta ikut tertawa. “Saya jadi kagum dengan Pak Bryan yang begitu romantis sekali.”
“Jangan iri. Nanti kamu jadi bisa menggodaku. Aku tidak bisa selingkuh, karena istriku sudah luar biasa sekali servisnya.” Bryan tampak serius sekali.
“Sayang.” Shea langsung memukul lembut lengan sang suami. Kemudian beralih pada
Neta. “Maaf, dia memang seperti itu, suka bercanda.” Dia menjelaskan. Takut Neta merasa tidak nyaman.
“Tidak apa-apa.” Neta menarik senyum di sudut bibirnya.
“Sudah kalian mulai saja wawancaranya. Aku akan buatkan minum.” Shea berdiri. Dia tidak mau suaminya terus bercanda. Yang ada akan mengulur acara wawancara.
“Jangan dianggap serius ucapku.” Bryan tersenyum.
“Iya, Pak.” Neta mengangguk.
“Tidak apa-apa. Pak Bryan sudah meluangkan waktu saja, saya sudah bersyukur.”
Shea datang dengan membawa dua cangkir berisi teh. Setelah itu dia berpamitan untuk bersiap di kamarnya. Takut-takut nanti Neta akan memotretnya, jadi dia mau tampil cantik.
Neta menikmati tehnya terlebih dahulu. Sebelum memulai wawancaranya. Begitu pula dengan Bryan, dia menikmati teh miliknya.
“Baiklah, kita mulai wawancaranya, Pak.” Neta memberikan aba-abanya sambil menyalakan perekam suara.
Bryan pun bersiap. Menunggu pertanyaan yang akan ditanyakan oleh Neta.
__ADS_1
“Ini adalah ulang tahun Adion Company ke enam puluh tahun. Apa yang Anda rasakan bisa mencapai angka itu?” Neta memberikan pertanyaan pertamanya yang Neta berikan.
“Aku merasa senang bisa merayakan ulang tahun Adion yang ke enam puluh. Ini sudah berada di generasi kedua di mana papaku yang membangunnya. Aku ingin Adion terus bisa merayakan ulang tahunnya setiap tahunnya.” Bryan tersenyum ketika menceritakan kembali perjalanan berapa lama Adion berdiri.
“Ini berarti sudah di generasi kedua. Apa Pak Bryan sudah menyiapkan untuk generasi ketiga?” Neta menatap Bryan.
“Tentu saja. Sayangnya anak bungsuku belum mau mengurusnya. Dia masih sibuk bekerja sebagai karyawan di perusahaan lain.” Terasa lucu ketika sang papa memiliki perusahaan besar, tetapi anaknya bekerja pada orang lain.
“Apa dia sedang berusaha untuk memahami bisnis sebelum memegang tanggung jawab penuh?” Neta begitu penasaran sekali.
“Mungkin semacam itu. Dia masih mengali potensi diri sendiri. Dia bilang bekerja pada orang tuanya sendiri akan membuatnya seenaknya sendiri karena itu dia memilih bekerja di tempat orang lain sendiri, sebelum nanti dia bertanggung jawab atas perusahaan.”
“Bicara tentang keluarga. Seberapa besar peran keluarga dalam bisnis?” Neta kembali bertanya.
“Keluarga adalah fondasi awal dari sebuah usaha. Saat fondasi kuat, kamu akan bisa membangun sebuah bangunan hingga tinggi. Jadi sebelum memulai usaha, kamu harus menguatkan fondasi itu. Caranya apa? Sayangi mereka sampai mereka akan memberikan kepercayaan padamu, memberikan semangat padamu, memberikan doanya untukmu. Dari situlah sebuah usaha akan sukses.” Itu secuil pandangan Bryan atas sebuah peran keluarga.
Neta cukup kagum dengan jawaban Bryan. Tak jauh dari Dathan yang mengutamakan keluarga.
“Apa harapan Anda dengan Adion Company yang kini sudah berusia enam puluh tahun.” Neta kembali bertanya.
Saat ingin bertanya, suara bel berbunyi. Bryan terpaksa berdiri untuk melihat siapa gerangan yang datang.
Neta ikut menoleh. Dilihatnya pria tampan dengan tampilan kasual datang.
“Mommy mana, Dad?” Pria itu bertanya sambil masuk. Saat masuk dia melihat Neta dan membuat pandangan mereka saling beradu.
__ADS_1