Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Menukar Dengan Cinta


__ADS_3

“Kak Adriel.” Neta begitu terkejut ketika melihat Adriel yang memanggil Dathan. Dia memikirkan kenapa Adriel berada di tempat yang sama dengannya. Padahal jika diingat, dia tadi melihat Adriel sudah lebih dulu pulang dibanding dirinya.


Adriel menghampiri Dathan dan juga Neta. Melihat Neta bersama Dathan, dia hanya menarik senyum tipisnya saja. “Senang sekali melihat Pak Dathan di sini.” Dia segera mengulurkan tangan pada Dathan.


“Senang juga bertemu denganmu.” Dathan menerima uluran tangan Adriel.


Adriel mengalihkan pandangan pada Neta. “Baru saja aku mau memintamu untuk membuat jadwal bertemu dengan Pak Dathan, tetapi ternyata kita justru bertemu di sini.” Dia tersenyum manis pada Neta.


Neta hanya bisa tersenyum saja. Dia sebenarnya sedikit panik ketika memikirkan bagaimana dia menjawab. Apalagi Adriel melihatnya berdua dengan Dathan. Pasti Adriel sedang memikirkan apa yang dilakukannya dengan Dathan.


“Kalian mau makan? Ayo, sekalian aku yang traktir. Kita harus merayakan penjualan majalah yang luar biasa.” Adriel merasa jika penjualan dari artikel Dathan benar-benar luar biasanya. Jadi tentu saja itu membuatnya memikirkan untuk merayakan semua itu.


Dathan dan Neta saling pandang. Mereka tentu saja tidak punya alasan untuk menolak.


“Ayo.” Dathan pun mempersilakan Adriel untuk berjalan bersama ke dalam restoran.


Neta hanya bisa pasrah saja ketika Dathan akhirnya memilih mengajak Adriel. Dia pun ikut masuk bersama dengan dua pria itu.


Di dalam restoran mereka segera memilih tempat duduk. Pramusaji yang menghampiri mereka menanyakan makanan apa saja yang dipesan oleh tiga orang tersebut. Sambil menunggu makanan yang dipesan, mereka mengobrol bersama.


“Saya berterima kasih sekali Pak Dathan sudah mau wawancara. Tidak menyangka penjualan majalah melampaui biasanya.” Adriel tersenyum manis.


“Sama-sama. Berterima kasih saja pada karyawan Anda. Jika dia tidak gigih membuat saya wawancara tentu saja saya tidak akan mau diwawancara.” Dathan menatap sejenak pada Neta yang kebetulan duduk di sebelahnya.

__ADS_1


“Tentu saja saya akan berterima kasih. Kebetulan kantor sudah menyiapkan bonus untuk Neta.” Adriel menatap ke arah Neta. “Tapi, aku masih penasaran, bagaimana Neta membujuk Pak Dathan yang memang sangat susah untuk diwawancara.” Dia begitu penasaran sekali. Di kantor semua orang sudah bilang jika Dathan sangat sulit untuk diwawancara.


“Aku—”


“Menukar wawancara dengan cinta?” Tiba-tiba Adriel memotong ucapan Neta.


Neta membulatkan matanya ketika mendengar apa yang dikatakan Adriel. Apa yang dikatakan Adriel mengisyaratkan jika pria di depannya itu sudah tahu hubungannya dengan Dathan. Namun, yang menjadi pikirannya adalah dari mana Adriel tahu.


Adriel menatap Neta. Bagaimana reaksi Neta yang terkejut membuatnya yakin jika yang dikatakannya adalah benar. Sejenak dia mengingat bagaimana dirinya tadi tahu.


Suara ponsel terdengar ketika Adriel sedang mengerjakan pekerjaanya. Ternyata temannyalah yang menghubungi. Dengan segera dia mengangkat sambungan telepon tersebut.


“Ada apa menghubungi aku?” tanya Adriel pada Martin di seberang sana.


“Aku di kantor, memangnya di mana lagi.” Adriel merasa temannya aneh sekali. Sudah tahu ini adalah jam kerja, tetap saja itu ditanyakan.


“Aku ada di kafe seberang, ke sinilah sebentar.”


“Untuk apa?” Adriel masih banyak sekali pekerjaan. Jadi tentu saja dia tidak bisa pergi.


“Ini tentang Dathan Fabrizio.” Martin menjelaskan alasannya ingin bertemu dengan Adriel.


Mendengar nama itu, seketika membuat Adriel, memang ada yang penting tentang Dathan Fabrizio yang ingin Martin katakan. “Baiklah, aku akan ke sana.” Adriel segera mematikan sambungan teleponnya. Segera dia menemui temannya yang berada di kafe seberang.

__ADS_1


Untuk mencapai kafe, Adriel harus berjalan dulu. Sekitar sepuluh menit barulah dia sampai di kafe tersebut. Saat masuk ke kafe, sudah ada Martin di sana melambaikan tangannya. Memberitahu keberadaannya pada Adriel.


Adriel segera menghampiri temannya itu. Dia segera bergabung duduk di depan sang teman yang sedang asyik menikmati secangkir kopi.


“Ada apa dengan Dathan Fabrizio?” Adriel begitu penasaran sekali ketika mendengar temannya memintanya datang untuk pria yang fotonya berada di sampul majalah yang baru rilis hari ini.


“Apa ini benar Dathan Fabrizio?” Martin melemparkan pertanyaan sambil menunjukan majalah yang dibawanya pada Adriel.


“Apa kamu tidak bisa baca jika ini Dathan Fabrizio?” Adriel memutar bola matanya malas. Sungguh menyebalkan sekali temannya itu, memanggilnya hanya untuk pertanyaan bodoh.


“Aku tahu, tetapi aku hanya ingin memastikan padamu.” Martin menatap Adriel dengan wajah yang serius.


“Iya, itu Dathan Fabrizio.” Adriel akhirnya membenarkan apa yang dikatakan temannya itu.


“Apa kamu tahu jika dia adalah kekasih Neta?” Martin memastikan kembali pada Adriel.


Adriel membulatkan matanya ketika mendengar ucapan temannya. Dia benar-benar masih belum mengerti apa yang dibicarakan temannya itu. “Apa maksudmu?” Dia menanyakan kembali pertanyaan yang diberikan oleh Martin.


“Jadi kemarin aku pergi dengan Maria. Sebelum pergi, aku ke kosnya dulu. Dia sana aku melihat pria ini bersama Neta. Saat memperkenalkan diri dia menyebut namanya Dathan. Aku pikir ini adalah orang yang berbeda. Sampai akhirnya pagi ini majalah ini rilis dan aku melihat wajah pria ini sama persis dengan pria yang aku lihat kemarin.” Martin menjelaskan panjang lebar apa yang terjadi kemarin.


Adriel begitu terkejut sekali mendengar apa yang dikatakan temannya. Sejak awal, dia memang sudah menaruh curiga jika Dathan dan Neta memiliki hubungan, dan kini akhirnya dia mendengar sendiri akan hal itu. Mendengar jika Dathan benar-benar kekasih Neta.


Yang jadi masalah adalah, kenapa Neta tidak mengatakan padanya. Pikirannya pun melayang pada Dathan yang sulit untuk diwawancara. Dia berpikir apakah Neta menggunakan cara mendekati Dathan untuk mendapatkan wawancara. Jika itu benar, maka Adriel benar-benar kecewa karena Neta tidak profesional sama sekali dalam pekerjaanya. Namun, jika salah, dia takut jika justru Dathan memanfaatkan Neta ketika memberikan wawancara.

__ADS_1


__ADS_2