
Dathan mengerakkan bibirnya. Menyesap bibir manis milik wanita yang menjadi istrinya. Neta pun perlahan membalas ciuman yang diberikan oleh sang suami. Menyesap bibir sang suami yang menjadi candu. Dathan mengakses setiap sudut mulut Neta. Tak memberikan sedikit pun celah tersisa.
Tangan Neta yang melingkar di leher Dathan membuat ciuman mereka semakin dalam. Ditambah lagi Dathan yang menarik pinggang Neta, membuat tubuh sang istri menempel ke tubuhnya. Membuat keduanya merasakan ciuman lebih dalam. Tangan Dathan yang berada di pinggang Neta pun mulai turun ke bawah. Mencengkeram lembut bagian tubuh nan kenyal milik Neta.
Saat tangan Dathan mulai nakal. Seketika Neta menghentikan ciumannya. Dia mendorong lembut tubuh Dathan.
“Kenapa?” Dathan tampak bingung dengan yang dilakukan oleh sang istri.
“Aku takut ada yang lihat.” Neta melihat ke kanan dan kiri.
Apa yang dilakukan Neta pun membuat Dathan ikut juga. Dia melihat ke segala arah. Sayangnya, yang dilihat hanyalah lautan biru. Tidak ada orang. Sekali pun di vila sebelah-sebelah ada orang. Mereka tahu jika orang-orang yang ke sini adalah orang-orang yang sedang ingin berbulan madu. Jadi mereka pastinya akan memaklumi.
Dari pada kesenangan tertunda lebih baik Dathan membawa sang istri masuk ke kamar. Dia segera menangkup tubuh Neta tanpa basa-basi. Hal itu membuat Neta seketika berteriak. Dia terkejut ketika sang suami mengangkatnya.
“Kenapa digendong?” tanya Neta yang penasaran.
“Membawamu ke dalam.” Dengan tenang Dathan menjawab sambil mengayunkan langkahnya menuju ke tempat tidur.
Neta hanya tersenyum saja ketika melihat aksi sang suami. Membuatnya benar-benar merona. Ini pertama kalinya Dathan menggendongnya ala bridal style.
Perlahan Dathan menurunkan sang istri ke atas tempat tidur. Tubuh Dathan yang membungkuk membuatnya begitu dekat dengan wajah sang istri. Sayangnya, wajah sang istri tertutup dengan rambut. Hingga Dathan harus menyingkirkan perlahan rambut-rambut yang menutupi wajah sang istri. Ingin melihat wajah cantik yang kini akan dipandang sepanjang masa.
Neta tersipu malu ketika Dathan menatapnya. Tatapan Dathan itu selalu saja membuatnya tak bisa berpaling. Wajah Dathan yang begitu tampan memang selalu menghipnotisnya.
“Aku tutup pintunya dulu. Aku tidak mau ada yang melihat kita.” Dathan mendaratkan kecupan di bibir sang istri.
“Apa kamu yakin jika tidak akan ada yang lihat?” Neta memiringkan tubuhnya. Tangannya bersiku menopang kepalanya.
“Tentu saja tidak.” Dathan menjawab dengan pasti. Sambil tangannya berusaha menutup pintu kaca yang menjadi penutup kamar dengan balkon.
“Kalau yang dengar?” Neta memastikan kembali. Dia takut jika nanti suara desahannya akan terdengar dan membuat orang-orang iri dengan kegiatan mereka.
“Memang seberapa kencang kamu akan mendesah?” Dathan tersenyum. Pintu yang tertutup segera dikuncinya. Tak lupa gorden ditarik untuk menutupi pintu kaca tersebut.
__ADS_1
“Mana aku tahu akan sekencang apa? Katanya malam pertama sakit. Jadi bisa jadi aku akan berteriak.” Neta dengan polosnya menjawab pertanyaan sang suami.
Dathan hanya tertawa. Istrinya benar-benar menggemaskan sekali. “Berteriaklah sekencang yang kamu mau.” Dathan mengayunkan langkahnya menghampiri Neta.
Melihat Dathan yang melangkah mendekat membuat jantung Neta berdebar kencang. Dia merasa takut melakukan malam pertama.
“Kamu tidak lelah?” Neta yang berdebar-debar justru melemparkan pertanyaan bodoh tersebut.
“Bukankah tadi kita tidur selama perjalanan?” Dathan menyeringai. Selama perjalanan tadi, mereka memang tidur terus. Menyimpan tenaga untuk malam pertama mereka.
Neta mengingat jika selama perjalanan berjam-jam tadi, dia tidur terus. Selain karena kemarin kelelahan akibat acara pernikahan, dia juga ingin menghemat tenaganya.
“Kamu tidak lapar?” Pertanyaan bodoh itu keluar lagi dari mulut Neta.
“Lapar.” Dathan menyeringai. Langkahnya semakin dekat dengan sang istri.
“Kalau begitu ayo kita pesan makan.” Neta berusaha untuk bangkit.
“Kamu sepertinya sedang menghindar?” Dathan curiga tiba-tiba sang istri mau melakukan yang lain.
“Aku hanya mengajakmu makan jika lapar.” Neta membela diri.
“Makananku ada di sini. Lalu kamu mau ke mana?” Dathan menatap penuh damba wanita yang kini jadi istrinya itu.
“Di mana?” Neta melihat ke arah kanan dan kiri. Melihat di mana makanan yang dibilang Dathan.
“Di sini.” Dathan menyeringai sambil perlahan membenamkan bibirnya di bibir Neta.
Bibir manis milik sang istri kini menjadi candu baginya. Apalagi ketika sang istri membalas ciuman yang diberikan. Tangan Dathan perlahan membuka kancing baju yang Neta pakai. Beruntung sekali sang istri memakai baju dengan kancing di depan dan celana pendek. Jadi tentu itu akan memudahkan untuk menyingkirkannya.
Saat kancing terlepas. Dathan melepaskan juga tautan bibirnya dengan sang istri. Tangannya bergerak menyingkirkan baju yang dipakai sang istri. Hingga meninggalkan bra berwarna mint yang senada dengan baju yang dipakai sang istri.
Dua gundukan kenyal yang menantang itu membuat Dathan menelan salivanya.
__ADS_1
Dathan segera membuka baju yang dipakai dan membuangnya sembarangan. Saat baju terlepas, tampak perut bak roti sobek yang tampak begitu indah.
Neta sudah pernah melihat pemandang perut Dathan. Namun, melihat dengan suasana berbeda, tentu saja menyalurkan gelenyar aneh yang dirasakan di bawah sana. Tangan Neta secara impulsif bergerak menyentuh perut Dathan. Tak ada lemak yang terselip di sana. Tampak keras dan berotot.
Tangan Neta yang bermain-main di perut Dathan membuat pria itu memejamkan matanya. Menikmati sentuhan yang diciptakan sang istri. Dathan yang tak kuasa menahan sentuhan sang istri, memilih untuk segera membenamkan bibirnya pada bibir sang istri. Tangan Dathan mulai bergerilya pada benda kenyal dibalik bra milik sang istri.
Neta yang merasakan sentuhan Dathan pun hanya bisa mencengkeram punggung sang suami. Dia merasakan tubuhnya sedikit menegang. Membuatnya bingung perasaan apa yang sedang dirasakan.
Dathan mulai menyingkirkan apa yang melekat di tubuhnya dan tubuh sang istri. Dia ingin menuntaskan kewajibannya sebagai suami yang sah untuk istrinya. Mencari kenikmatan yang telah lama ditinggalkannya.
Perlahan Dathan mulai memasukkan miliknya pada tubuh sang istri. Menuju surga tersembunyi yang baru terjamah olehnya. Menjadi orang pertama yang datang dan menikmati semuanya.
Neta jelas merasakan benda asing pada tubuhnya. Rintihan terdengar saat dia merasakan sakit. Hingga sang suami menghentikan sejenak untuk memberikan ruang pada Neta.
“Sakit?” tanya Dathan memastikan.
“Sedikit.” Neta malu-malu menjawab.
“Mau aku hentikan?” Dathan tidak tega melihat sang istri kesakitan.
“Tidak.” Neta menahan tubuh sang suami yang hendak menghentikan aksinya.
Dathan tersenyum. Dia pun kembali melanjutkan sambil mendaratkan bibirnya agar menahan rasa sakit yang dirasakan sang istri. Dia sadar jika ini kali pertama untuk Neta, dan perlu untuk beradaptasi.
Saat sang istri mulai beradaptasi, Dathan perlahan memperdalam miliknya. Cairan hangat yang keluar dari celah penyatuan mereka menandakan jika dinding penghalang dapat ditembus oleh Dathan. Hal itu membuat Dathan tersenyum. Akhirnya, dia dapat memiliki sang istri sepenuhnya.
Neta yang sudah mulai rileks pun membuat Dathan terus membuat irama tubuhnya. Mencari kenikmatan dalam setiap gerakan. Suara indah yang mengalun dari bibir keduanya menandakan seberapa banyak kenikmatan yang mereka dapati.
Sebuah pelepas yang sempurna mengakhiri penyatuan antara dua insan yang baru saja merengkuh indahnya pernikahan itu. Tubuh Dathan yang lemas pun jatuh tepat di atas tubuh sang istri. Keduanya mengatur deru napas mereka. Menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi kekosongan paru-paru mereka.
“Terima kasih untuk menjadikan aku yang pertama.” Dathan mendaratkan kecupan di dahi Neta.
Neta hanya tersenyum saja. Dia masih terlalu lelah untuk menjawab ucapan dari Dathan. Namun, rona bahagia terpancar dari wajah Neta. Dia merasakan bahagia ketika bisa melalukan dengan orang yang dicinta.
__ADS_1