
Pagi ini Neta bersiap untuk ke Bandara. Bersama dengan Maria, mereka menuju ke bandara dengan menaiki taksi. Tidak banyak yang mereka bawa, mengingat hanya akan dua hari di sana.
Saat perjalanan ke Bandara, ponsel Neta berbunyi. Dia segera mengambil ponsel tersebut yang berada di dalam tasnya. Layar ponsel yang menampilkan nama Dathan membuatnya tersenyum. Dia senang karena sang kekasih menghubunginya pagi-pagi seperti ini.
“Halo, Sayang.” Dathan menyapa Neta yang berada di seberang sana.
“Kamu bangun?” Neta tahu jam bangun Dathan bukan jam segini.
“Iya, aku ingin memastikan jika kamu sudah berangkat.” Dathan memang sengaja bangun untuk menghubungi sang kekasih.
Neta tersenyum. Kekasihnya begitu perhatian sekali. “Iya, ini aku sedang perjalanan ke bandara.
“Bersama Maria?” Dathan memastikan kembali.
“Tentu saja bersama Maria.” Neta merasa aneh dengan pertanyaan Dathan, padahal dia tahu dengan siapa dirinya pergi.
Di seberang sana Dathan tertawa. “Baiklah, kalau begitu kabari aku jika sudah sampai.”
“Iya, aku akan mengabari jika kalian sampai.” Neta segera menutup teleponnya.
“Astaga, aku benar-benar dibuat iri, ternyata kalian romantis sekali.” Maria yang mendengar obrolan Neta dan Dathan pun hanya bisa menggeleng heran.
“Memangnya Martin tidak seperti itu?” Neta menatap sang teman yang duduk di sebelahnya.
“Tidak, dia biasa saja.” Maria menekuk bibirnya ketika kekasihnya tidak seperti Dathan. Dia merasa jika ingin sekali memiliki kekasih seperti Dathan.
“Nanti aku akan ajari Martin.” Neta pun menggoda temannya itu.
“Coba saja jika bisa.” Maria tersenyum.
Taksi sampai di bandara. Mereka berdua segera turun dan melakukan pengecekan sebelum masuk ke pesawat. Hari ini akan menjadi hari panjang untuk Neta dan Maria. Karena sesampainya di sana, mereka hanya akan mampir ke hotel untuk menaruh tas. Kemudian pergi ke acara pembukaan showroom tersebut. Jelas, mereka tidak punya celah untuk istirahat.
...****************...
“Sayang, ayo bangun.” Dathan mendaratkan kecupan di pipi sang anak. Sudah siang, tetapi sang anak tak kunjung mau bangun. Padahal hari ini dia akan dijemput mamanya.
__ADS_1
“Sebentar lagi, Papa.” Loveta masih begitu mengantuk sekali.
“Sayang, nanti mama datang kamu belum siap.” Dathan kembali mencium Loveta. Bulu halus di dagunya membuat Loveta geli.
“Papa.” Loveta akhirnya bangun karena merasa geli sekali.
Dathan hanya bisa tertawa. Membangunkan sang anak adalah dengan cara itu.
Setelah Loveta bangun, Dathan segera menyiapkan keperluan sang anak. Di saat Dathan menyiapkan, Loveta mandi dengan asisten rumah tangga. Dathan memastikan jika Loveta membawa kebutuhannya. Termasuk obat-obatan. Takut-takut jika dia akan sakit.
Sambil menunggu sang mama, Loveta menyempatkan sarapan lebih dulu. Dathan memastikan jika Loveta makan dengan kenyang, jadi nanti dia tinggal main saja. Rencananya, hari ini Loveta dan sang mama akan pergi ke taman hiburan. Jadi Dathan memastikan jika sang anak akan baik-baik saja nanti di sana.
Selang beberapa saat Arriel datang menjemput sang anak. Loveta menyambut sang mama dengan senang. Memeluk sang mama begitu erat.
“Dia sudah makan, jadi sudah aman.” Dathan memberitahu Arriel.
“Baiklah, jadi aku bisa langsung ke taman hiburan jika begini.” Arriel tersenyum. Jika anaknya sudah makan, tentu saja dia sudah tenang. Walaupun sebenarnya dirinya sendiri belum makan, tetapi dia bisa makan roti nanti.
Dathan ikut tersenyum. “Dengarkan apa kata mama. Jangan pergi jauh-jauh dari mama.” Dathan memberikan pengertian pada anaknya. Tangannya membelai lembut rambut Loveta dengan lembut.
“Kalau begitu aku pergi dulu.” Arriel segera berpamitan. Dia mengulurkan tangannya-menggandeng Loveta. Membawa gadis kecil itu untuk masuk ke mobilnya.
Dathan mengangguk. Saat sang anak di dalam mobil, dia melambaikan tangan. Senyumnya sang anak menghiasi wajahnya, membuat Dathan begitu senang sekali. Berharap hari ini anaknya akan menikmati liburannya.
Perlahan, mobil Arriel pergi meninggalkan rumah Dathan. Saat mobil perlahan menghilang dari pandangan, Dathan segera masuk ke rumah. Tempat yang dituju adalah kamarnya. Mengambil tas yang sudah dipersiapkan dari semalam.
Rencananya, Dathan akan bertemu dengan pihak wedding organizer. Dia juga akan bertemu dengan pihak hotel untuk memesan ballroom hotel. Setelah itu, rencananya Dathan akan menyusul Neta. Mana mungkin dia membiarkan sang kekasih hati jauh dari jangkauannya. Apalagi di luar kota. Dathan tidak rela Neta pergi jauh terlalu lama.
Dathan mengambil tasnya dan segera melajukan mobilnya ke rumah Reno. Dia akan bertemu dengan pihak wedding organizer dan pihak hotel bersama dengan temannya itu.
...****************...
Dathan dan Reno menunggu di restoran K-Vin. Restoran ini adalah milik Rowan Kavin-menantu dari Bryan Adion. Rowan juga memiliki wedding organizer. Dathan akan menggunakan jasanya untuk mengatur semua acara pernikahannya.
“Maaf saya terlambat.” Rowan yang datang langsung meminta maaf. Jalanan macet, dan itu membuatnya terlambat.
__ADS_1
“Tidak masalah, Pak.” Dathan mengulurkan tangan.
Rowan menerima uluran tangan dan segera duduk bersama. Mereka mengobrol bersama. Dathan menyampaikan keinginannya. Rowan pun menyambut dengan baik, dia nanti akan mengirimkan contoh dekorasi. Jadi Dathan dan calon istrinya bisa memilih.
“Apa hotelnya sudah booking?” Rowan memastikan terlebih dahulu. Paling tidak, dia harus tahu jadwal pernikahan Dathan.
“Kebetulan kami akan bertemu pihak hotel Maxton.” Dathan menjelaskan pada Rowan.
“Kebetulan sekali. Hotel Maxton milik kakak ipar papa mertua saya. Jadi saya bisa membantu untuk booking.” Rowan menawarkan untuk membantu Dathan.
“Wah … kebetulan sekali kalau begitu. Kami jadinya bisa sekalian pilih paket all in one.” Dathan tertawa. Dia merasa ini dipermudah sekali. Apalagi Rowan menawarkan hotel sekalian. Dathan merasa tidak hanya Bryan Adion saja yang baik, tetapi juga sang menantu. Dia pun senang berkenalan dengan Rowan.
“Baiklah, nanti saya akan kabari. Jadi Pak Dathan tinggal terima beres.” Rowan tersenyum.
Dathan merasa senang akhirnya urusan dengan rencana pernikahan satu per satu selesai. Tinggal mencari cincin saja. Sejak kemarin, Neta belum sempat. Kekasihnya itu begitu sibuk sekali.
“Kalau begitu saya permisi dulu. Hari ini hari libur. Saya ada janji dengan anak dan istri.” Rowan memilih berpamitan. Dia ada janji dengan istrinya-Ghea dan juga anak-anaknya. Jadi tidak bisa berlama-lama di restoran.
“Silakan.” Dathan mempersilakan sang pemilik restoran itu untuk segera pergi.
Rowan segera pergi. Kebetulan sang istri dan anak-anaknya sudah menunggu di ruangannya, jadi dia pun menghampirinya.
Selepas Rowan pergi, Dathan pun bersiap untuk pergi. Dia akan pergi ke bandara untuk menyusul Neta. Dathan diantar oleh Reno untuk mencapai bandara.
“Jika hari ini aku mengantarmu, berarti besok aku juga harus menjemputmu?” Reno menatap sang teman.
“Tentu saja, apa kamu tega aku pulang sendiri.” Dathan tersenyum polos.
“Ishh … kamu harus menambah gajiku karena merangkap jadi supir di luar jam kerja.” Reno pun memberikan sindirannya.
“Astaga, kamu membantu teman pelik sekali.” Dathan mencibir snag teman.
“Ini bisnis.” Reno tersenyum. Dia tidak mau sama sekali rugi.
“Tulis saja berapa yang kamu minta, aku akan urus.” Apa yang diberikan temannya jauh lebih banyak, jadi bagi Dathan tidak masalah.
__ADS_1
Reno hanya tersenyum saja. Dia tahu jika sang teman pasti akan mengatakan itu. Padahal aslinya, Reno tidak akan melakukan itu semua. Dia benar-benar tulus membantu Dathan.