Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Adik Alca


__ADS_3

Akhirnya Arriel melahirkan anak laki-laki dua hari yang lalu. Loveta sudah ke rumah sakit untuk bertemu dengan adiknya itu. Hari ini Neta, Dathan, dan Loveta akan ke rumah. Hanya Neta yang belum bertemu. Karena dia tidak bisa membawa anaknya ke rumah sakit.


“Lolo mau beli mainan untuk adik bayi.” Sebelum ke apartemen mamanya.


“Mau beli mainan apa untuk adik?” Neta menatap Loveta yang duduk di kursi depan. Bersebelahan dengan papinya.


“Lolo mau beli mainan yang seperti punya Nessia dan Danish. Yang bisa bunyi ‘kricik-kricik’.” Loveta memberitahu papi dan maminya.


“Iya, nanti beli saja.” Neta tersenyum. Loveta sedang sangat bahagia karena kehadiran adiknya. Jadi wajar saja jika begitu antusias. Jadi Neta pun ikut senang.


Sampai di mal Loveta membeli beberapa mainan untuk adiknya. Dia asyuk memasukkan mainan ke keranjang mainan.


“Mami, lihat ini lucu.” Loveta melihat mobilan.


“Sayang, nanti kita beli mainan itu jika adik ....” Neta menggantung ucapannya karena lupa dengan nama anak Arriel.


“Adik Alca, Mami.” Loveta memberitahu sang mami.


“Iya, saat Adik Alca sudah besar. Kalau masih kecil belum bisa bermain mobilan.” Neta membelai lembut rambut anaknya.


Loveta mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Nanti kita beli lagi.” Dathan ikut menimpali.


“Siap, Mi, Pi.” Loveta mengangguk.


Loveta memilih untuk mainan lain.

__ADS_1


Neta dan Dathan membelikan beberapa kado untuk anak Arriel. Kemarin-kemarin, mereka memang belum sempat ke membeli kado. Jadi sekalian berangkat, sekalian mereka beli.


Hadiah yang dibeli Neta cukup banyak, dari baju, perlengkapan mandi, dan perlengkapan tidur. Ditambah dengan mainan yang dibeli Loveta, barang yang dibawa ke apartemen Arriel cukup banyak. Untung bagasi mereka besar. Jadi muat untuk menaruh hadiah tersebut.


Mereka segera ke apartemen Arriel. Karena mal dekat dengan apartemen Arriel, itu membuat mereka cepat sampai.


Dathan yang turun lebih dulu, segera menurunkan stroller untuk si kembar. Neta segera memindahkan anak mereka ke stroller. Kemudian mendorong stoller anaknya masuk ke apartemen Arriel.


Dathan membawa belanjaan yang cukup banyak yang dibeli Neta dan Loveta. Karena tidak bisa dibawa sekali, terpaksa nanti Dathan akan kembali.


Neta menekan bel apartemen Arriel, tampak Bu Kania yang membuka. Ternyata ibunya itu juga ada di apartemen Arriel.


“Ibu sudah lama?” tanya Neta.


“Belum, Ibu baru sampai juga.” Bu Kania tersenyum.


“Ayo masuk.” Bu Kania mempersilakan Dathan, Neta, dan Loveta masuk.


“Adik.” Loveta berlari. Namun, langkahnya terhenti. “Kakak cuci tangan dulu.” Dia selalu dibiasakan untuk cuci tangan sebelum memegang adiknya. Jadi itu menjadi kebiasaan.


Arriel yang melihat anaknya begitu pintar merasa senang. Neta dan Dathan memang mengajarkan anaknya itu dengan baik.


“Hai, Riel.” Neta menautkan pipinya. “Selamat atas kelahirannya.” Neta ikut senang ketika Arriel kini memiliki anak juga.


“Terima kasih.” Arriel tersenyum.


“Kalian itu bawa apa? Kenapa repot-repot?” Adriel yang melihat barang bawaan yang dibawa Dathan merasa heran. Karena cukup banyak yang dibawa.

__ADS_1


“Tidak apa-apa untuk Alca.” Neta tersenyum.


“Lolo sudah cuci tangan. Papi dan Mami cepat cuci tangan.” Loveta kembali setelah tadi cuci tangan. Tadi dia ditemani oleh Bu Kania.


“Siap, Bos.” Dathan tersenyum mendapati perintah dari Loveta.


Mereka segera cuci tangan seperti yang diminta oleh Loveta.


Neta yang merasa tangannya sudah bersih langsung mengendong anak Arriel. Dia gemas dengan anak Alca yang tak kalah tampan dari Danish.


Sayangnya, baru menggendong Nessia sudah menangis. Dia seolah tidak rela maminya menggendong bayi lain.


“Nessia, Mami gendong Alca sebentar.” Loveta menenangkan adiknya.


Mereka semua tersenyum senang. Karena Loveta begitu pintar memberikan pengertian pada adiknya. Berharap Loveta jadi kakak yang baik.


Nessia yang masih menangis, membuat Arriel akhirnya menggendong Nessia. Mendekatkan tubuh Nessia untuk melihat Alca. Tangan mungil Nessia meraih tangan Alca. Penasaran dengan bayi yang digendong maminya itu.


Suasana begitu hangat ketika semua berkumpul. Apalagi melihat tingkah Loveta yang asyik menasihati Danish untuk bersabar menunggu maminya, karena sedang mengendong Alca. Sayangnya, Danish menangis jugu. Bu Kania akhirnya turun tangan. Dia menggendong Danish. Jadi adil, semua digendong.


“Papi, Lolo juga mau digendong.” Loveta menarik tangan Dathan. Tak mau kalah juga dengan adiknya.


Semua tertawa. Karena Dathan yang sedang asyik mengobrol dengan Adriel harus ikut menggendong.


Dathan selalu tidak bisa menolak jika anaknya meminta. Jadi tentu saja dia langsung menggendong Loveta juga.


“Ye .... Lolo digendong.” Loveta bersorak senang.

__ADS_1


__ADS_2