Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Ke Panti Asuhan


__ADS_3

Loveta begitu bersemangat sekali untuk ke panti asuhan. Lovata tidak sabar untuk bertemu dengan Liam. Sudah sejak lama Loveta tidak bertemu dengan Liam.


“Cinta suka Kak Liam atau Leo?” Dathan yang sedang menyetir melihat sang anak dari pantulan cermin. Menunggu jawaban dari sang anak.


“Cinta suka dua-duanya.” Dengan semangat Loveta menjawab.


“Cinta harus menjawab satu saja. Mana ada anak laki-laki mau diduakan.” Dathan mengomentari jawaban anaknya.


Neta yang duduk di sebelah Dathan menoleh ke arah suaminya itu. Bisa-bisanya Dathan mengatakan akan hal itu. Neta tidak habis pikir, sang suami bisa menanyakan semacam itu.


“Diduakan itu apa, Mami?” Loveta yang tidak mengerti pun segera melemparkan pertanyaan.


Neta melirik suaminya kesal. Suaminya justru memancing keingintahuan sang anak. Menjawab pertanyaan anak-anak itu terkadang sulit. Jadi dia memilih untuk


“Diduakan itu artinya Cinta menyukai permen, tapi juga suka coklat. Padahal Cinta harus pilih salah satu.” Neta mencoba menjelaskan dengan kalimat yang lebih sederhana.


“Kenapa harus pilih salah satu kalau bisa dua-duanya?” Loveta masih begitu penasaran sekali.


Dathan hanya tersenyum. Dia tahu jika sang istri sedang pusing memikirkan bagaimana cara menjawab.


“Karena uangnya tidak cukup jadi harus memilih satu.” Neta memberikan jawaban logis.


“Lalu, karena uang Lolo tidak cukup. Jadi harus pilih satu. Kak Liam atau Leo?” Loveta mencoba menanyakan lagi.


“Iya.” Neta membenarkan ucapan anaknya.


Loveta tampak berpikir kembali. Dia masih bingung harus memberikan permen pada siapa.


“Kalau permennya hanya satu. Lebih baik dimakan sendiri saja. Jangan memikirkan siapa yang mau dikasih jika masih bingung.” Akhirnya Dathan mulai bicara. Dari tadi obrolan sang anak dan sang istri begitu seru sekali.

__ADS_1


“Baiklah, permennya untuk Lolo saja.” Loveta memilih untuk mengikuti apa yang dikatakan oleh sang papa.


Dathan hanya bisa tersenyum. Obrolan dengan anak-anak memang selalu seperti itu. Darri membahas Liam dan Leo sampai ke membahas mendua, sampai harus memilih, dan terakhir sampai permen dan coklat. Obrolan dengan anak-anak memang selalu menyenangkan. Menjelaskan dengan versi yang mudah dimengerti oleh anak-anak.


Mobil sampai di panti asuhan. Tampak anak-anak semuanya langsung menyambut Neta dan Dathan. Menyalami mereka berdua. Yang lain juga melambaikan tangan pada Loveta.


Loveta tampak melihat ke sekeliling. Memerhatikan ke mana keberadaan Liam. Karena sedari tadi, tidak tampak Liam di sana.


Dathan, Neta, dan Loveta masuk ke panti asuhan. Mereka disambut oleh Bu Kania, Maria, dan Adriel.


“Apa kabar, Sayang?” Bu Kania memeluk Neta. Sejak menikah, ini kali pertama Neta datang.


“Baik, Bu.” Neta memeluk ibu yang selama ini menjaganya itu. Dia benar-benar merasa begitu rindu sekali karena sudah cukup lama tidak bertemu.


“Maria.” Neta langsung segera menghampiri Maria yang berada di samping ibu panti. Dia merindukan temannya itu. Selama ini mereka hanya berkomunikasi lewat pesan singkat atau telepon. Jadi tentu saja dia merindukannya.


Di samping Neta ada Dathan yang menyapa Adriel. “Hai, Driel.” Dathan menjabat tangan pria yang pernah singgah di hati istrinya itu.


“Apa kabar, Pak Dathan?” Adriel yang menjabat tangan Dathan, melemparkan pertanyaan.


“Baik, kamu sendiri?” tanya balik Dathan.


“Aku baik-baik saja.” Dathan tersenyum.


Di saat Neta dan Dathan sedang sibuk menyapa dan melepas rindu, Loveta sudah menghilang. Gadis kecil itu mencari keberadaan Liam. Karena sejak tadi dia tidak melihat Liam sama sekali. Dia juga bertanya pada teman-teman Liam. Apakah Liam ada. Dan ternyata Liam sedang membuat minuman untuk tamu bersama kakak-kakaknya yang lain.


“Kak Liam.” Loveta memanggil.


“Cinta di sini?” Liam tersenyum.

__ADS_1


“Iya, cari Kak Liam.” Gadis kecil itu malu-malu menjawab.


“Kak Liam sedang apa?” Loveta melihat apa yang dilakukan oleh Liam.


“Membuat minuman.” Liam menunjukkan pada Loveta gelas-gelas yang berisi teh hangat.


“Untuk Lolo?” tanya Loveta memastikan.


“Iya, untuk Cinta dan yang lain.” Liam menjawab sambil mengangkat nampan. Membawanya ke ruang tamu di mana tamu-tamu berada.


Loveta yang melihat hal itu segera ikut di samping Liam. Berjalan berdampingan dengan Liam ke ruang tamu. Sesekali dia melihat pria kecil di sebelahnya sambil tersenyum-senyum.


Kedatangan Loveta dengan Liam membuat Neta dan Dathan saling pandang. Ternyata anaknya itu sudah pergi mencari Liam. Dathan benar-benar heran. Bagaimana bisa anaknya itu mengejar pria-pria kecil.


“Wah ... Liam ada asistennya.” Maria menggoda Liam, tetapi sambil melirik Neta. Dia juga sekaligus menggoda Neta. Karena anaknya sudah kabur mencari Liam.


“Cinta, sapa Nenek Kania dulu.” Neta hanya bisa heran saja. Loveta memilih mencari Liam, dibanding menyapa yang lain.


Loveta dengan segera menyapa Ibu Kania, Maria, dan Adriel. Adriel yang melihat aksi Loveta juga tak kalah gemas. Anak-anak perempuan yang agresif.


“Silakan diminum.” Liam dengan sopan mempersilakan tamu-tamu untuk menikmati minuman yang disajikan.


“Terima kasih, Liam.” Neta tersenyum. Liam tumbuh sebagai anak yang baik. “Liam, ajak Cinta main.” Neta pun memilih untuk menitipkan Loveta. Tanpa dititipkan pun sebenarnya dia yakin jika Loveta akan ikut Liam.


“Iya, Kak.” Liam mengangguk. Kemudian menarik tangan Loveta. Menggandengnya dan mengajaknya bermain.


Dathan yang melihat anaknya digandeng seperti itu merasa tidak rela. Anak perempuannya adalah aset berharga, tidak boleh disentuh siapa-siapa.


“Kenapa kamu memintanya main bersama Cinta?” Dathan berbisik pada Neta. “Lihatlah, digandeng oleh pria itu.” Dia melayangkan protes.

__ADS_1


__ADS_2