Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
S2 : Menjaga Kamu


__ADS_3

“Memang kenapa?” Neta berbisik kembali.


“Iya, tidak apa-apa, tapi dia laki-laki.” Sebagai seorang papa memang sulit bagi Dathan yang menerima semua itu. Dia merasa anaknya perlu dilindungi. Jadi dia tidak mau sampai anaknya dekat-dekat dengan laki-laki lain.


Neta melirik. Dia merasa aneh dengan jawaban Dathan. Namun, dia sadar jika itu dilakukan Dathan karena ingin menjaga anaknya.


“Tenanglah, dia akan baik-baik saja.” Neta mencoba meyakinkan suaminya itu. Tak mau sampai suaminya berpikir yang tidak-tidak.


Dathan hanya bisa pasrah. Dia memang harus berpikir positif untuk saat ini.


“Tadi kami bawa bingkisan untuk anak-anak.” Neta yang usai berbisik-bisik dengan Dathan mengingat akan sesuatu hal.


“Biar aku dan Adriel yang ambil. Kamu di sini saja.” Dathan menatap Neta. Memberikan perintah pada Neta untuk diam. Sesuai dengan perjanjian mereka tadi.


“Baiklah.” Neta mengangguk.


“Ayo, Driel.” Dathan mengajak Adriel untuk ke mobilnya. Mengambil bingkisan yang dibawa.


Adriel mengangguk dan bangun dari posisi duduknya. Kemudian mengikuti Dathan ke mobilnya.


“Aku akan bantu juga.” Maria tak mau ketinggalan. Dia ikut membantu Dathan dan Adriel.


Neta lega karena banyak yang ikut membantu. Paling tidak Dathan tidak akan keberatan melakukan hal itu.

__ADS_1


“Dathan protektif sekali.” Bu Kania pun mengomentari yang dilakukan Dathan. Merasa lucu melihatnya. “Apa jangan-jalan kamu sudah hamil?” Bu Kania langsung menebak.


Neta tersenyum. “Iya, Bu. Neta sudah hamil enam minggu.” Dia menceritakan tentang kehamilannya itu. Merasa jika memang kebahagiaan yang dirasakan.


“Selamat, Sayang.” Bu Kania langsung memeluk Neta. Merasa bahagia atas kabar ini. “Ibu ikut senang karena akhirnya kamu hamil juga.” Sebagai ibu yang menjaga Neta sejak kecil, dia merasa bahagia sekali. Merasa jika ini adalah kebahagiaan yang luar biasa.


“Terima kasih, Bu.” Neta tersenyum senang. Kebahagiaannya kini jadi kebahagiaan orang lain juga.


“Ibu dan Neta kenapa peluk-peluk?” Maria yang melihat dua orang berpelukan pun merasa begitu penasaran.


Neta dan Bu Kania melepaskan pelukannya ketika. Bu Kania mengalihkan pandangan pada Maria.


“Neta hamil,” ucap Bu Kania.


“Neta hamil?” Maria memperjelas kembali sambil menatap Neta, dan mendapati anggukan dari temannya itu. Dengan segera Maria meletakkan barang-barang yang dibawanya dan segera menghampiri Neta.


“Terima kasih.” Neta tersenyum senang.


Adriel yang mendengar jika Neta hamil ikut senang. “Selamat, Pak Dathan.” Dia memberikan selamat pada Dathan yang berdiri di sampingnya.


“Terima kasih.” Dathan mengangguk.


Maria dan Bu Kania begitu antusias sekali. Mereka ingin mendengarkan cerita tentang kehamilan Neta. Di saat para wanita asyik mengobrol, para pria melanjutkan kembali mengambil barang-barang di mobil.

__ADS_1


“Kapan kamu akan menikah?” Dathan melempar pertanyaan itu pada Adriel. “Apa kamu masih memprioritaskan pekerjaanmu?” Dathan ingat jika Adriel pernah bercerita jika dia suka dengan pekerjaan, dan takut membagi waktu.


“Sepertinya aku sudah tidak memprioritaskan hal itu. Mungkin aku akan menikah jika sudah mendapatkan wanita yang cocok.” Adriel merasa kini prinsipnya sudah berubah. Kehilangan Neta membuatnya sadar jika dia memang harus mengubah prinsipnya.


Dathan tersenyum. Dia berharap Adriel akan menemukan wanita yang pas.


Mereka melanjutkan kembali membawa barang-barang bingkisan yang dibawa Neta dan Dathan. Meletakkan di ruang tamu. Tepat saat merek sedang merapikan bingkisan, pihak catering pesanan Dathan datang. Dathan memang menyiapkan semuanya, karena tidak mau merepotkan ibu panti dengan kedatangannya.


Adriel segera memanggil anak-anak panti. Meminta mereka untuk duduk dan menikmati makanan yang dibawa oleh Dathan dan Neta. Sebelum makan, Adriel meminta mereka berdoa. Mendoakan Neta yang sedang hamil.


“Kak Liam, Lolo mau punya adik bayi.” Loveta dengan bangga.


“Kalau punya adik. Cinta harus jadi kakak yang baik. Jaga adiknya.” Liam memberikan nasihat pada Loveta.


“Kalau Lolo jaga adik, siapa yang jaga Lolo?” Pertanyaan itu terlintas begitu saja di pikiran Loveta. Karena dia tidak punya kakak, jadi tidak ada yang menjaganya.


“Nanti Kak Liam, jaga Cinta.” Liam tersenyum.


“Benarkah?” Loveta memastikan pada Liam, dan mendapatkan anggukan dari Liam. Loveta begitu senang sekali karena Liam akan menjaganya. Bayangannya sesederhana itu. Mendapatkan kakak yang akan menjaganya.


Dari kejauhan Dathan memerhatikan anaknya. Anaknya cukup dekat sekali dengan Liam. Sejak awal melihat Liam, dia adalah anak yang baik. Penuh kehangatan. Liam adalah versi Neta.


Neta yang melihat Dathan sedang sibuk melihat anaknya, menyenggolnya. Memberikan isyarat pada sang suami. Agar tidak terlalu berpikir berlebihan pada anaknya.

__ADS_1


Dathan memilih mengalihkan pandangan. Menuruti sang istri yang memberikan isyarat.


Anak-anak menikmati makanan yang dibawakan Dathan. Mereka juga mendapatkan bingkisan hadiah dari Dathan dan Neta. Mereka semua begitu bahagia mendapatkan itu semua. Neta dan Dathan yang melihat hal itu merasa begitu senang. Kini kebahagiaan mereka juga dirasakan anak-anak panti. Berharap kelak anaknya sehat sampai waktunya lahir. Apalagi banyak orang yang mendoakan.


__ADS_2