Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Gaun Pernikahan


__ADS_3

Pulang kerja Neta langsung ke butik bersama Dathan dan Loveta. Mereka sudah membuat janji dengan Rifa. Jadi Rifa menunggu mereka di malam hari.


Sebelum meminta pada Rifa seperti apa gaun yang diinginkan, Neta dan Dathan melihat-lihat gaun yang berada di butik Rifa. Saat Dathan dan Neta sedang asyik memilih gaun, Loveta asyik bersama dengan Rifa.


“Kalau bisa jangan yang terlalu terbuka.” Dathan memberikan pendapatnya. Dia merasa tidak senang jika tubuh sang istri dilihat orang lain.


“Memang kenapa?” Neta senang sekali jika menggoda sang kekasih.


“Aku tidak rela jika tubuhmu dilihat orang lain. Hanya aku saja yang boleh melihatnya.” Dathan mendekatkan mulutnya ke telinga Neta. Berbisik tepat di telinga. “Aku mau hanya aku yang melihat tubuhmu.”


Pipi Neta langsung merona merona mendengar akan hal itu. Tidak menyangka Dathan akan mengatakan itu.


Dathan tersenyum. Dia senang sekali menggoda Neta. Pipi merona sang kekasih tampak mengemaskan sekali.


“Aku akan carikan.” Dathan pun memilih-milih gaun yang pas untuk sang calon istri. Saat memilih dia menemukan gaun dengan potongan yang tertutup. “Ini.” Dia menunjukkan pada Neta.


Neta melihat gaun yang tertutup. Sayangnya itu terlalu polos. Tanpa hiasan sama sekali. Terlalu klasik. Jadi justru terlihat seperti jaman kuno.


“Tidak.” Neta menggeleng.


Dathan kembali mencari. Neta juga ikut mencari. Memastikan gaun yang dipilihnya benar-benar yang diharapkan. Dia mau ini menjadi pernikahan yang sempurna untuknya.


“Ini.” Neta sengaja menunjukkan sebuah gaun yang begitu seksi. Dia ingin tahu apa reaksi Dathan. Potongan gaun justru pendek. Hanya terdapat ekornya saja.


Dathan menatap malas pada Neta. Namun, senyumnya kemudian terbit di wajah tampannya. Dia kembali mendekat ke arah Neta. Kembali berbisik pada Neta. “Kamu pakai ini boleh, tetapi di saat malam pertama kita.”

__ADS_1


Neta kembali merona. Sang kekasih selalu bisa saja menggodanya. Sungguh Neta sebal sekali.


“Kalian sudah dapat gaunnya?” Tiba-tiba Rifa datang.


Dathan dan Neta yang sedang asyik berbisik-bisik pun menghentikan aksi mereka.


“Dapat, Kak.” Neta tersenyum.


Dathan membulatkan matanya. Tadi Neta menunjukkan gaun seksi, dia takut Neta akan memilih itu.


“Aku mau gaun seperti ini.” Neta menunjukkan satu gaun. Gaun berbentuk strapless. Namun, karena ada lace yang menutupi, membuat gaun menjadi tidak terlalu terbuka.


“Kalau begitu kita gambar saja. Yang penting kamu sudah punya bayangan.”


Rifa mengajak Neta dan Dathan ke meja yang berada di ruangan tersebut. Di sana ada Loveta yang sedang asyik makan kue. Dathan dan Neta pun bergabung dengan Loveta. Duduk berhadapan dengan Rifa.


“Aku yang klasik dan simple, Kak.” Neta menjelaskan pada Rifa.


Rifa segera menggambar apa yang diinginkan oleh Rifa. Dia membuat pola yang diinginkan oleh Neta.


“Aku mau taburan mutiara, tetapi jangan terlalu mencolok.” Neta tadi sempat melihat gaun pengantin tadi berpikir jika gaun akan semakin cantik jika ditambah mutiara akan cantik. “Aku mah juga lace di bagian bahu dibuat tambahan bunga. Untuk menutupi bahu yang terbuka. Satu lagi, aku mau ekornya sedikit lebar dan panjang untuk acara pesta. Untuk akad nikah, aku mau yang sederhana saja tanpa ekor.


Tampilannya hampir mirip tapi tidak perlu dengan hiasan mutiara. Cukup dengan bahan brokat saja.” Neta menjelaskan panjang lebar tentang gaun yang diinginkan Neta.


Dengan sabar Rifa menggambar gaun yang diinginkan Neta. Setiap detail digambar sesuai dengan yang diinginkan oleh Neta.

__ADS_1


“Ini.” Sesaat kemudian Rifa memberikan gambar yang dibuatnya.


Neta berbinar ketika melihat gambar yang disodorkan oleh Rifa. Dia merasa senang karena gambar sesuai dengan yang diinginkan.


“Baiklah, kalau begitu ayo aku ukur.” Rifa pun meminta Neta untuk berdiri.


Neta segera berdiri. Rifa langsung mengukur tubuh Neta. Memastikan jika nanti gaun akan pas dibuat untuk Neta.


Usai urusan gaun selesai, Neta, Dathan, dan Loveta berpamitan. Dathan mengantarkan Neta lebih dulu. Di perjalanan, Loveta tertidur pulas. Gadis kecil itu mengantuk dan kelelahan.


“Aku kasihan jika Cinta harus ikut seperti ini. Nanti, kalau kita menikah. Biarkan dia di rumah saja.” Neta merasa tidak tega melihat Loveta yang selalu ikut Dathan pergi ke mana-mana.


“Apa artinya kamu akan berhenti bekerja setelah menikah?” Dathan menoleh ke arah Neta sejenak. Membagi konsentrasinya pada jalanan di depannya.


“Sepertinya begitu.” Neta malu menjawab hal itu.


Dathan langsung menarik tangan Neta. Mendaratkan kecupan di punggung tangan. Dia merasa senang ketika Neta akhirnya memilih untuk fokus pada keluarga. Ini yang diharapkannya ketika menikah dengan wanita yang tepat.


Neta tersenyum. Sejak dulu, dia berharap bisa jadi seorang ibu yang sempurna.


Saat perjalanan Neta teringat dengan majalah yang diberikan Adriel tadi siang. Dia pun segera mengeluarkannya untuk diberikan pada Dathan.


“Ini majalahnya. Kamu bisa lihat lagi. Besok pagi sudah rilis. Jadi aku yakin kamu akan menjadi pusat perhatian besok.” Neta tersenyum ketika mengingat jika esok wajah Dathan akan terpampang di majalah.


Dathan meraih majalah kemudian meletakkan di atas dasboard mobil. “Aku harap akan ada dampak baik saat aku muncul.” Tak muluk-muluk harapan Dathan. Segala hal yang dilakukannya ingin sekali berdampak positif.

__ADS_1


Neta mengangguk. Berharap besok majalah yang akan rilis baik untuk Dathan. Syukur-syukur membuat bisnis Dathan semakin berkembang.


__ADS_2