Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Khawatir


__ADS_3

Neta berjalan dengan semangat ke lift. Di depan lift dia menekan tombol angka di mana ruangannya berada. Lift yang belum terbuka membuatnya harus menunggu sejenak lift yang terbuka.


“Sepertinya kamu bahagia sekali.”


Tiba-tiba suara pria terdengar. Neta yang mendengar akan hal itu segera menoleh. Memastikan siapa gerangan orang yang berbicara dengannya itu. Ternyata Adriellah pemilik suara itu. Terlihat pria itu membawa minuman kopi di tangannya. Tampaknya, pria itu baru saja membeli kopi di kafe depan kantor.


“Tentu saja aku senang. Aku baru saja menyelesaikan wawancaraku.” Neta tersenyum. Memang benar adanya jika dia sangat bahagia karena wawancaranya sudah berhasil. Tinggal menyelesaikan laporannya, dan semua beres.


“Pantas kamu senang sekali.” Adriel tersenyum.


Lift terbuka, Neta dan Adriel masuk ke lift bersama. Kebetulan tidak ada orang yang masuk ke lift. Jadi lift hanya diisi oleh mereka berdua.


“Jadi anak kemarin yang mengantarkan kamu sampai ke Dathan Fabrizio?” Kemarin dari balik kaca mobil Adriel melihat Neta yang dipeluk oleh seorang anak perempuan. Tampak anak itu begitu senang sekali melihat Neta. Hal itu membuat Adriel tertarik.


Benar dugaan Neta jika kemarin Adriel kemarin melihat dirinya. “Iya, dia anak yang aku ceritakan.” Neta tampak tenang.


Adriel mengangguk-anggukkan kepalanya. Ternyata tebakannya benar. “Tapi, apa dia ikut papanya ke kantor? Aku lihat dia di kantor.” Dia merasa aneh ketika ada anak kecil di kantor.


Neta bingung ketika ada yang bertanya akan hal pribadi tentang Dathan. Sebisa mungkin dia menjaga hal itu. Sekali pun kenal baik Adriel, dia tidak mau menceritakan pada Adriel.


“Dia kemarin sedang ikut ke kantor. Karena mamanya tidak sedang ke luar negeri.” Neta memilih memberikan alasan itu. Lagi pula memang dia dengar dari Dathan jika mama Loveta keluar negeri.


“Oh ….” Adriel mengangguk pasti.


Dari apa yang diucapkan Adriel, Neta mengambil kesimpulan jika ternyata dia tidak melihat Dathan kala itu. Jadi dia tidak bertanya tentang Dathan. Paling tidak, Neta aman. Tidak membahas Dathan.


Lift terbuka. Mereka berdua keluar dari lift dan segera menuju ke ruangan masing-masing. Neta langsung ke kursinya. Sudah ada Maria di sana.


“Bagaimana? Apa sudah selesai semua wawancaranya?” Maria langsung melempar pertanyaan itu pada Neta.


Neta tersenyum lebar. “Selesai. Malam ini aku tinggal lembur karena harus mengerjakan banyak pekerjaan.”

__ADS_1


“Wah … aku rasa ini akan jadi hal yang menakjubkan. Karena pertama kali Dathan Fabrizio wawancara.” Maria ikut senang ketika temannya itu dapat menyelesaikan pekerjaannya.


Neta tersenyum. Dia juga tidak sabar ini akan jadi sejarah. Karena dirinya yang dapat mewawancara Dathan pertama kali.


...****************...


Dathan melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu menunjukan jam tujuh. Entah kenapa Dathan cemas. Mengingat Neta masih belum mengabari apakah gadis itu sudah pulang atau belum. Walaupun bagi Neta ini adalah hal biasa, tentu saja tidak bagi Dathan. Ini bukan hal biasa. Apalagi Neta cukup spesial paginya.


“Cinta sudah mengantuk?” tanya Dathan memastikan pada anaknya. Dia tidak bisa pergi sebelum anaknya tidur. Dia tidak tega jika anaknya tidak tanpa dirinya.


“Belum.” Loveta menggeleng.


“Papa telepon dulu. Loveta tunggu di sini.” Tangan Dathan membelai lembut rambut anaknya. Memastikan jika anaknya akan tenang menggambar.


“Baik, Pa.” Loveta mengangguk.


Dathan segera berlalu ke taman belakang. Dia ingin menghubungi Neta. Mengingat sedari tadi Neta tidak menghubunginya sama sekali. Dathan benar-benar cemas merasakan semua ini.


“Halo.” Akhirnya suara indah itu terdengar.


“Kamu masih di kantor?” Dathan langsung menanyakan pertanyaan itu. Dia merasa cemas sedari tadi.


“Iya, aku masih di kantor. Ada apa kamu menghubungi?” Neta di seberang sana melempar pertanyaan itu.


“Aku hanya khawatir padamu kerja sampai malam seperti ini.” Dathan tidak berbasa-basi. Dia mengungkapkan apa yang memang dirasakannya.


Neta tertawa kecil di seberang sana. “Aku biasa seperti ini. Jangan khawatir. Aku akan aman. Di sini juga aku tidak sendiri. Teman-temanku juga banyak yang sedang mengerjakan pekerjaannya.” Neta mencoba menjelaskan akan hal itu.


Dathan mengembuskan napasnya. Rasanya, dia benar-benar tidak suka Neta sampai larut malam. “Lalu kamu pulang jam berapa?” Dathan memastikan kembali.


“Em … mungkin jam sepuluh. Karena masih ada yang harus dikerjakan.”

__ADS_1


“Apa?” Dathan semakin terkejut ketika Neta mengatakan jam segitu dia baru akan kembali. “Apa itu tidak terlalu malam?” Dathan semakin tidak habis pikir. Bisa sampai malam sekali pulangnya Neta.


“Iya, memang aku harus selesaikan ini. Jika aku tidak selesaikan ini, yang ada akhir pekanku akan digunakan untuk mengerjakan ini semua.”


Mendengar ucapan Neta, Dathan seolah kalah. Dia mau Neta bersamanya akhir pekan ini, tetapi sayangnya dia harus merelakan Neta lembur sampai malam hari seperti sekarang.


“Baiklah, kerjakan pekerjaanmu. Nanti aku akan menjemputmu. Tidak ada penolakan. Bilang pada temanmu jika kamu tidak pulang dengannya.” Dathan tidak akan membiarkan Neta pulang sendiri.


“Jika kamu memaksa, aku bisa apa.” Neta justru tertawa di seberang sana.


Dathan yang tadinya kesal pun seketika menarik senyumnya.


“Baiklah, sampai jumpa nanti.”


“Sampai jumpa nanti.” Dathan segera mematikan sambungan teleponnya. Dia kembali menghampiri anaknya untuk menemani menggambar. Setelah ini, dia akan menemani Loveta tidur. Barulah dia bisa menjemput Neta.


...****************...


“Dijemput?” Maria yang sedari tadi di samping Neta menebak apa yang baru saja dilakukan oleh temannya itu. Sedari tadi ponsel Neta berdering ketika temannya itu ke toilet. Saat datang, dia segera memberitahu. Neta pun segera mengangkat sambungan telepon tersebut.


“Iya.” Neta tersenyum dengan memamerkan deretan giginya. Merasa senang Dathan akan menjemputnya. “Jadi aku tidak jadi pulang denganmu.” Dia memberitahu Mari.


“Em ….” Maria hanya berdeham. “Sepertinya memang kamu sedang jatuh cinta.” Dia menyindir temannya itu.


“Sepertinya begitu.” Neta tersenyum. Dia semakin yakin dengan perasaannya. Dia yakin jika memang sudah ada rasa di hatinya untuk Dathan. Semakin hari dia memang merasakan rasa itu tumbuh subur. Dia merasa Dathan memang pantas untuk menjadi pilihan hatinya. Masalah Loveta, dia masih memikirkannya. Memberitahu anak itu tanpa harus menyakiti perasaannya.


Neta kembali mengerjakan pekerjaanya. Begitu pun dengan Maria. Akhir pekan besok Maria akan pergi dengan seorang pria teman Adriel yang bekerja di majalah Kfa-majalah fashion yang masih bernaung dalam Syailendra Grup. Karena itu, dia juga harus menyelesaikan pekerjaanya hari ini juga.


Mereka berdua begitu fokus sekali. Mereka menatap layar laptop tanpa mengindahkan sekali apa yang ada di sekitar.


“Kalian belum pulang?”

__ADS_1


Tiba-tiba suara seseorang terdengar. Neta dan Maria yang sedang fokus pun langsung terkejut mendengar suara itu.


__ADS_2