
Dathan dan Neta melihat jelas wajah Mauren dari samping. Mereka akhirnya mengetahui siapa dalang dalam hal ini. Tentu saja semua ini adalah ulah Mauren.
“Siapa, Than?” Reno meraih ponsel Martin. Melihat siapa gerangan wanita yang menjadi dalang semua ini.
Saat ponsel berada di tangannya, Reno melihat jika yang berada di foto tersebut adalah Mauren. Tentu saja itu membuatnya terkejut. Reno menatap sang istri. Menanyakan apakah sang istri menduga jika Mauren yang melakukan semua ini.
“Mauren?” Rifa begitu terkejut. Ingatannya kembali pada pertemuan dengan Arriel dan Mauren. Tentu saja dia tidak menaruh curiga sama sekali. Apalagi, tampak Mauren begitu ikut terkejut.
“Jika dua wanita apa artinya Mauren dengan Arriel?” Reno menatap Dathan. Dia menebak-nebak siapa gerangan satu wanita lain tersebut.
“Tapi, tadi aku jelas melihat Arriel begitu terkejut, jadi tidak mungkin Arriel.” Rifa mencoba membela. Dia masih belum percaya jika itu adalah Arriel.
“Bisa saja dia hanya berdrama ‘kan?” Reno menebak.
Dathan mengepalkan tangannya. Merasa kesal jika benar-benar Arriel dan Mauren yang melakukannya. Tentu saja ini membuat Dathan tidak terima jika ternyata orang-orang terdekatnya yang melakukan hal ini.
Dathan segera berdiri. Dia harus menemui Arriel dan Mauren. “Ren, bawa Cinta pulang. Aku akan menyelesaikan ini.” Dia merasa masalah ini tidak bisa ditunda.
Reno mengangguk. Dia tahu yang harus dilakukan. Bersama dengan sang istri dia pun ikut berdiri. Kemudian menyusul Loveta yang sedang bermain dengan anaknya dan Maria.
__ADS_1
“Martin, terima kasih sudah membantu kami. Setelah ini kami akan selesaikan sendiri.” Dathan mengulurkan tangannya pada Martin.
“Sama-sama. Aku harap semua akan ada jalan keluar.” Martin hanya bisa membantu sebatas ini saja.
“Ini sudah sangat membantu sekali.” Dathan tersenyum tipis. Dia kemudian beralih pada sang istri. “Ikutlah dengan aku ke rumah Arriel. Aku tidak mau bicara tanpa ada kamu.” Dathan sudah berjanji akan menjaga rumah tangganya dengan baik. Segala hal yang bersangkutan dengan mantan istrinya harus sepengetahuan sang istri.
“Baiklah.” Neta hanya bisa mengangguk. Dia sendiri merasa harus ikut. Apalagi dia melihat wajah Dathan yang begitu kesal sekali. Dia harus jadi penenang untuk sang suami.
Adriel yang berada di sana pun tidak bisa berbuat apa-apa. Dia merasa jika ini sudah bukan ranahnya. Jadi dia tidak akan ikut campur lebih dalam. Dia memilih untuk membiarkan Neta dan Dathan pergi.
Neta dan Dathan segera menuju ke mobilnya. Dathan melajukan mobilnya menuju ke apartemen Arriel. Sambil melajukan mobil, Dathan menghubungi mantan istrinya itu. Memastikan jika dia ada di apartemen.
“Halo, Than.” Suara Arriel terdengar mengisi keheningan di dalam mobil karena Dathan memasang mode loudspeaker. Jadi Neta yang berada di sampingnya pun juga ikut mendengar suara tersebut.
“Aku sedang di apartemen.”
“Bersama Mauren?” Sambar Dathan setelah mendapati di mana keberadaan mantan istrinya itu.
“Iya, dia ada di sini dan mungkin akan segera pulang.”
__ADS_1
Mendengar jika Mauren akan pulang, tentu saja Dathan tidak akan melepaskannya. “Tahan dia untuk tetap tinggal.”
“Untuk apa?”
“Aku bilang tahan dia, apa kamu tidak mendengar.” Suara Dathan meninggi. Sejujurnya Dathan cukup emosi saat ini. Dia pikir mantan istrinya sudah mengakhiri usahanya untuk mengusik hidupnya. Namun, ternyata dia salah. Sang istri justru dengan sengaja melakukan itu semua. Menyebarkan pernikahannya.
Arriel di seberang sana cukup terkejut ketika mendengar suara Dathan yang meninggi. Tampak dia benar-benar menakutkan sekali.
“Baiklah.”
Dathan segera mematikan sambungan telepon saat mendapati jawaban dari Arriel. Neta yang berada di samping Dathan dan mendengar obrolan tersebut merasa begitu kesal. Karena dia baru kali ini melihat sang suami sekesal itu.
Neta menarik tangan Dathan. Mencoba menggenggam erat tangan pria yang sudah menjadi suaminya itu.
“Jangan terlalu emosi. Kita bisa selesaikan dengan baik-baik.”
Dathan mengembuskan napasnya. “Aku masih tidak terima. Kenapa dia harus melakukan ini. Padahal kemarin dia sudah tampak baik dengan membawa Cinta. Namun, dia menghancurkan semua begitu saja.” Satu hal yang dipikirkan Dathan adalah rasa kecewa. Dia pikir bisa berdampingan dengan Arriel menjaga anaknya, tetapi ternyata dia salah.
“Jangan menuduh dulu. Bisa jadi memang Mauren, tetapi tidak dengan Arriel.” Neta masih mencoba membujuk sang suami untuk tenang.
__ADS_1
“Apa kamu tidak dengar jika tadi teman Martin bilang jika ada dua wanita. Lalu jika bukan Arriel, siapa lagi?” Dathan sudah sangat yakin. Kemungkinan hanyalah Arriel saja. Tidak mungkin orang lain. Sekali pun mengajak teman, Mauren tidak akan seceroboh itu memberikan informasi pada wartawan dan temannya tahu.
Neta mengingat jika Martin mengatakan dua wanita. Jadi tentu saja suaminya menebak jika itu Arriel. Karen Mauren adalah teman Arriel. Dalam hal ini, Neta bingung. Ingin ikut menuduh, tetapi dia sadar harus bersikap netral. Jika dia ikut menuduh yang ada nanti tidak akan bisa mengontrol suaminya. Neta memilih untuk mendengar saja apa nanti jawaban dari Arriel.