
Jumat sore ini sepulang kerja Neta memutuskan pergi ke panti asuhan. Saat Dathan memutuskan untuk melamarnya, dia langsung menghubungi Ibu Kania. Dia memberitahu jika sabtu depan akan ada pria yang datang melamarnya. Saat itu Ibu Kania tampak terkejut. Karena tidak ada angin dan hujan, Neta memberitahu jika akan ada pria yang melamar. Namun, sebagai orang tua, dia pun juga senang sekali. Karena anak asuhnya akhirnya bisa menikah.
Neta tidak pergi sendiri. Dia pergi dengan Maria. Mereka sengaja langsung ke sana agar bisa menyiapkan semuanya saat sabtu pagi. Karena mengingat Dathan akan datang pada sore hari.
Saat datang mereka semua disambut hangat oleh anak-anak panti. Neta dan Maria adalah kakak bagi mereka semuanya. Tentu saja hal itu membuat mereka semua menyayangi mereka.
Neta yang menyapa anak-anak panti pun segera menyapa ibu panti. Beliau adalah ibu baginya. Jadi tentu saja dia sangat menghormatinya.
“Terima kasih Ibu sudah mengizinkan Neta melakukan lamaran di sini.” Neta menatap Ibu Kania. Merasa senang karena Ibu Kania begitu baiknya.
“Kebahagiaan seorang ibu adalah mengantarkan anaknya sampai ke pernikahan. Menyerahkan anaknya pada pria yang tepat. Tentu saja ibu mengizinkan.” Bu Kania membelai lembut wajah Neta.
“Terima kasih.” Neta tersenyum.
“Tapi, Ibu masih bingung bagaimana kamu bertemu dengan pria itu?” Sampai detik ini dia masih bingung.
Neta tersenyum. “Waktu itu Neta wawancara, Bu. Dari situ Neta suka. Dia orang yang baik, dewasa, penuh perhatian.” Dia menceritakan secara singkat bagaimana pertemuannya dengan Dathan.
Bu Kania tersenyum. Dia tahu persis seperti apa Neta. Sejak kecil, dia memang suka dengan pria yang lebih tua. Dia seolah mencari sosok ayah dan kakak. Karena itu dulu dia begitu dekat dengan Adriel. Sejenak Ibu Kania teringat dengan pembicaraannya dengan Adriel kala itu.
Seharian mereka ke taman hiburan. Adriel dan Ibu Kania beristirahat. Mereka menikmati secangkir tehnya.
“Kemarin Neta menghubungi Ibu, jika akan ada pria yang datang melamar. Apa kamu sudah tahu?” Bu Kania menanyakan akan hal itu pada Adriel.
__ADS_1
Adriel tersenyum. Ternyata Neta sudah mengabari ibu panti. Sejak tadi datang, dia memang tidak membahas tentang Neta. Menunggu ibu panti membahasnya.
“Sudah, Bu. Adriel juga sudah kenal dengan pria yang akan menjadi suami Neta.”
Bu Kania mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia merasa tenang ketika Adriel sudah tahu. “Apa kamu baik-baik saja ketika tahu ini?” Bu Kania membelai bahu Adriel. Senyum manis wanita paruh baya itu tampak begitu menenangkan.
“Aku baik-baik saja, Bu. Sejak awal menjalin hubungan dengan Neta, aku merasa aku lebih nyaman jadi kakaknya dibanding jadi kekasihnya. Rasanya sulit untuk mengubah rasa itu, walaupun aku sudah berusaha.” Adriel memang sengaja menerima ajakan Neta kala itu. Berharap rasa sayangnya memang lebih dari seorang kakak ke adiknya. Namun, ketika dilanjutkan itu terasa begitu menyakitkan sekali, karena tidak ada perasaan apa pun.
“Bagus kalau kamu baik-baik saja. Sejak awal memang ibu kurang setuju dengan hubungan kalian. Apalagi ibu tahu kalian sejak kecil.” Sebagai orang tua, dulu dia hanya bisa mendukung saja. “Ibu berharap kamu akan dapat wanita yang lebih baik.” Bu Kania menepuk pelan bahu sang anak.
“Iya, Bu.”
Ingatan itu sedikit membuat Bu Kania semakin tenang ketika Neta memutuskan menikah dengan pria lain. Sebagai orang tua pastinya, ingin anaknya mendapatkan yang terbaik.
“Ibu ikut senang ketika kamu akhirnya mendapatkan pria yang baik. Ibu hanya bisa mendoakan saja. Semua kamu selalu bahagia.”
...****************...
Pagi-pagi Neta dan Maria sudah pergi ke pasar. Mereka membeli bahan-bahan masakan yang akan mereka masak. Karena agar lebih berhemat dan anak-anak panti bisa makan semua, mereka sengaja memasak.
Belanjaan cukup banyak, sedangkan motor tidak cukup. Hal itu membuat akhirnya Maria pulang lebih dulu, sedangkan Neta menunggu di pasar.
Pasar tidak terlalu jauh, hanya lima belas menit dari panti. Jadi Neta memilih tidak beranjak dari tempatnya. Lagi pula ini masih pagi. Sekali pun matahari
__ADS_1
Saat sedang asyik menunggu, tiba-tiba sebuah mobil melintas di depannya. Dia tahu persis siapa gerangan pemilik mobil itu. Saat kaca mobil terbuka, tampak Adriel di sana.
“Kak Adriel yang jemput?” Neta menebak jika Adriel datang untuk menjemputnya.
“Motor Maria mogok saat sampai, jadi Kakak yang jemput. Cepat masukan belanjaan kamu.” Adriel menjawab sambil membuka pintu mobil untuk keluar dari mobil. Dia segera membantu Neta untuk memasukkan barang-barang yang dibelinya tadi.
Neta segera masuk ke mobil ketika semua barang-barang belanjaan sudah masuk. Dia duduk di samping Adriel yang mengemudikan mobilnya. Tidak butuh waktu lama, saat Neta sudah masuk, dia segera melajukan mobilnya.
“Kak Adriel sudah datang sejak tadi?” Neta memastikan. Dia sudah pergi dua jam ke pasar. Jadi mungkin Adriel sudah datang sejak tadi.
“Aku datang ketika Maria sampai dari pasar. Dia langsung memintaku menjemputmu.” Adriel menjelaskan sambil menatap ke arah depan jalanan.
“Terima kasih, Kak.” Neta menatap Adriel.
“Terima kasih untuk apa?” Adriel menoleh ke arah Neta sejenak. Membagi konsentrasinya.
“Terima kasih untuk menjemputku dari pasar dan terima kasih sudah mau datang ke acara lamaranku.” Neta merasakan bahagia Adriel mau datang.
Adriel menatap Neta lekat. “Aku tidak akan membuang kesempatan untuk menyerahkan adikku pada pria yang tepat.”
Neta tersenyum. Ketika di hari bahagianya ada orang-orang yang mendukungnya, tentu saja ini adalah hal yang membahagiakan. Neta sudah tidak punya siapa-siapa. Jadi orang-orang inilah yang menjadi sumber semangatnya.
Mobil akhirnya sampai di rumah. Anak-anak panti langsung mendekat berusaha untuk membantu Neta membawa barang. Neta begitu senang karena acara kali ini sangat meriah sekali. Mereka semua akan membantunya untuk menyiapkan acara.
__ADS_1
Adriel yang turun dari mobil pun segera membantu mengeluarkan kursi-kursi. Menaruh meja besar untuk jadi tempat menaruh makanan.
Semua orang bahu-membahu untuk membantu. Anak-anak perempuan membantu memasak, sedangkan anak-anak laki-laki membantu Adriel merapikan ruangan. Berharap acara lamaran akan berjalan dengan lancar.