Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Seperti Hantu


__ADS_3

Hari ini Arriel menyiapkan anaknya sekolah. Karena tidak ada asisten rumah tangga, dia harus menyiapkan makanan sendiri.


Pagi-pagi sekali dia sudah bangun. Kemudian membuat makanan dan bekal sekolah Loveta. Arriel tidak pandai memasak. Jadi dia hanya memasak simple saja. Untuk sarapan dia membuat roti tawar dengan diolesi coklat dan segelas susu.


Untuk bekal, dia membuat omelete. Besok dia akan memesan makanan di catrering langganannya saja. Itu akan lebih praktis.


Seusai membuat makanan, Arriel segera membangunkan anaknya. Dia buru-buru sekali, karena hari sudah siang. Sayangnya, Loveta tak semudah itu dibangunkan. Hingga dia berusaha keras.


Pagi ini benar-benar melelahkan sekali. Dia benar-benar dibuat kewalahan. Arriel tidak bayangkan bagaimana kewalahannya Dathan mengurus anaknya. Dia tahu memang ada asisten rumah tangga, tetapi setahunya banyak hal yang dikerjakan Dathan sendiri.


“Lolo makan dulu. Jangan ke mana-mana, Mama akan mandi dulu.” Arriel memberitahu anaknya.


“Baik, Ma.” Loveta mengangguk. Dia adalah anak yang baik. Dewasa karena keadaan membuatnya paham sekali keadaan sekitar.


Papanya selalu mengajarkan untuk berusaha sendiri untuk beberapa hal. Dia selalu paham sekali dengan orang-orang yang sibuk. Jadi dia tidak akan menuntut dan melakukan hal-hal aneh.


Saat sang mama mandi, Loveta pun menikmati sarapannya dengan tenang. Sama seperti ketika dia di rumah.


Arriel mandi secepat kilat. Kali ini dia tidak sempat mencuci rambutnya, karena dia tidak punya waktu banyak. Apalagi dia harus mengeringkan rambutnya.


Seusai mandi, tak ada berdandan. Dia hanya memilih memakai krim wajahnya saja dan bedak tipis. Pakaian yang dipakai adalah yang memungkinkan dirinya untuk bisa berlalu. Dia benar-benar membuang pikirannya memakai dress.

__ADS_1


Arriel segera menghampiri Loveta. Dia sudah menenteng tas milik Loveta. Karena mereka harus segera berangkat.


“Sudah, Sayang?” tanya Arriel.


“Sudah, Ma.” Loveta sudah selesai makan. Tangannya sedang mengusap bibirnya yang basah karena susu yang baru saja diminumnya.


“Baiklah, ayo kita berangkat.” Arriel mengulurkan tangan. Membantu sang putri untuk turun dari kursi. Dia segera mengajak Loveta untuk berangkat.


Langkah Arriel begitu cepat. Hingga Loveta benar-benar kesulitan mengimbanginya. Mamanya itu terus menariknya, tanpa melihat ke belakang bagaimana Loveta tertatih.


“Mama, jangan cepat-cepat.” Loveta pun melemparkan protesnya.


Arriel tidak menyangka jika langkahnya membuat sang anak kesulitan. “Mama gendong saja.” Dia langsung membungkukkan tubuhnya. Kemudian meraih tubuh sang anak. Membawanya ke dalam gendongan.


Arriel sampai di tempat parkir. Dia memang terbiasa menyetir sendiri. Jika ke luar kota seperti kemarin, dia baru menggunakan sopir.


Saat sampai, dia segera menurunkan Loveta dan meminta anaknya untuk masuk ke mobil. Memasang sabuk pengaman dan memastikan anaknya aman.


Arriel beralih ke sisi mobil. Masuk dan segera melajukan mobilnya. Dia berharap jika anaknya tidak akan terlambat.


Perjalanan sedikit tersendat. Beruntung tidak membuat Loveta terlambat. Lebih tepatnya Loveta sampai tepat waktu. Jadi paling tidak, tidak membuat Arriel malu. Untuk pertama kali dia mengantarkan anaknya, dan membuatnya terlambat.

__ADS_1


Arriel mengantarkan Loveta sampai di kelas. Loveta langsung disambut oleh sang guru, dan mengajaknya langsung masuk karena kelas akan segera dimulai.


Arriel yang melihat anaknya masuk, bernapas lega. Akhirnya perjuangan pagi ini sudah selesai. Rasanya benar-benar membuat jantung Arriel berdegup kencang.


“Tumben mamanya yang antar.” Seorang ibu teman Loveta bertanya.


“Iya, papanya sedang sibuk.” Arriel malas jika mengatakan jika Loveta sedang bersamanya.


“Pantas.” Ibu itu tersenyum.


“Saya permisi dulu.” Arriel pun segera berpamitan. Dia harus segera berangkat bekerja. Jadi tidak mau berlama-lama mengobrol.


Arriel kembali melajukan mobilnya. Dia menuju ke kantornya. Jarak sekolah ke kantor cukup jauh. Jadi tentu saja membuatnya semakin harus tambah sabar.


Arriel sampai di kantor. Setelah memarkirkan mobil, dia segera ke ruangannya. Semua karyawan menyapa Arriel. Namun, tatapannya sedikit aneh sekali. Soal melihat orang asing.


Tepat di depan ruangannya, dia bertemu dengan Mauren. Mauren juga sama dengan karyawan Arriel. Menatap aneh pada Arriel.


“Kalian ini kenapa? Kenapa melihatku seperti melihat hantu.” Arriel tidak suka tatapan karyawan dan Mauren.


“Memang kamu seperti hantu. Coba lihatlah wajahmu. Terlihat pucat seperti hantu.” Mauren pun menjelaskan apa yang membuatnya menatap aneh.

__ADS_1


Arriel segera masuk ke ruangannya. Sambil duduk, dia mengambil kaca di laci mejanya. Dia ingin melihat wajahnya.


“Astaga, aku benar-benar seperti hantu.” Arriel mendapat wajahnya tampak pucat karena hanya memakai bedak saja. Tidak ada lipstik di bibirnya dan juga alisnya tampak pudar saat tanpa goresan pensil alis


__ADS_2