
Seusai makan mereka melanjutkan kembali obrolan mereka di ruang keluarga. Neta duduk tepat di sebelah Dathan. Dia segera mengeluarkan majalah yang dari dalam tasnya untuk diberikan pada Dathan. Dathan harus mengecek dulu isi dari berita yang mereka berikan. Agar kelak tidak ada masalah yang ditimbulkan dari majalah tersebut.
“Ini majalah yang akan rilis minggu depan. Kamu bisa mengecek dulu sebelum rilis.” Neta menyodorkan majalah di mana terpampang wajah Dathan di depannya.
Dathan menerima majalah yang diberikan oleh Neta. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajahnya yang terpampang. Dia tampak sempurna sekali di majalah tersebut.
“Aku tampan sekali di sini?” Dathan tersenyum melihat dirinya sendiri.
“Kamu memang tampan.” Neta tersipu malu memuji kekasihnya.
“Apa kamu sedang memujiku?” Dathan mengalihkan pandangan pada Neta.
“Aku mengatakan apa adanya. Aku mengatakan yang sebenarnya.” Neta tersenyum. “Dan aku yakin semua yang melihat artikelmu akan mengatakan hal yang sama.” Neta semakin melebarkan senyumnya.
“Jangan membuatku besar kepala.” Datha tersenyum dia merasa kekasihnya begitu memujinya. Hingga membuatnya benar-benar melayang.
“Aku tidak berbohong. Apa perlu aku buatkan survei jika mereka setuju jika memang kamu tampan?” Neta begitu antusias sekali.
“Kamu ini.” Dathan mencubit Neta. Berpacaran dengan mereka yang usianya lebih muda membuat jiwa muda memang begitu bersemangat. Tentu saja hal itu yang kini terjadi pada Neta. Dia begitu bersemangat sekali ketika Neta merayunya.
Neta hanya tersenyum saja.
Dathan segera membuka majalah yang diberikan oleh Neta. Dia segera melihat dan membaca isi di dalamnya. Semua yang ditanyakan Neta kala itu ada di dalam majalah semua.
Dathan membaca dengan saksama. Tidak ada satu kata pun terlewat olehnya. Dia merasa jika tidak boleh ada yang salah. Karena tidak mau sampai ada yang berbeda dengan yang diberikan olehnya.
Neta menunggu Dathan yang sedang asyik membaca. Saat menunggu dia menguap karena mengantuk. Dathan yang melirik sang kekasih hanya tersenyum saja. Tangannya segera bergerak menarik kepala Neta untuk merebahkan kepalanya di pahanya.
__ADS_1
“Aku tidak mengantuk.” Neta mengelak tawaran Dathan yang membawanya tidur di pahanya.
“Tadi kamu menguap.” Dathan mencegah tubuh Neta untuk bangun.
Neta yang tidak bisa bangun pun akhirnya memilih untuk tetap di paha Dathan. Apalagi tangan Dathan membelai lembut rambutnya. Membuatnya begitu nyaman sekali.
Dathan sibuk membaca lembar demi lembar. Memastikan jika yang ditulis sesuai. Tidak ada tambahan yang dapat merugikan dirinya. Sambil membaca Dathan membelai lembut rambut Neta.
Neta tidak benar-benar tidur. Dia hanya merebahkan kepalanya di paha Dathan. Dan menunggu Dathan yang membaca.
“Apa kamu tidak menemukan kesalahan apa-apa?” Neta menatap Dathan.
Dathan mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah bawah di mana Neta berada. “Belum.” Sesaat setelah mengatakan itu, Dathan kembali membaca.
Tiga puluh menit Dathan akhirnya selesai juga. Dia segera meletakkan majalah di atas meja.
“Apa harus ada yang direvisi?” tanya Neta menatap Dathan.
“Kalau begitu biar aku catat.” Neta berangsur bangun dari pangkuan Dathan. Dia segera mengambil buku kecil miliknya dan juga pulpen. “Apa saja?”
“Di halaman ke sepuluh, baris ke tiga ada nama Dathan, tanpa huruf H.” Dathan tersenyum.
Neta membulatkan matanya. Sedetail itu Dathan hafal halaman dan baris kalimat. Yang lebih membuat Neta adalah hanya secuil saja yang terlewat. Namun, Neta tetap akan menulisnya.
“Lalu di halaman dua belas. Ada kalimat
“keluarga adalah prioritas” kamu lupa menambahkan kata “utama”.” Dathan selalu ingat yang diucapkan. Jadi dia hafal setiap kata yang diucapkan.
Neta menelan salivanya. Sekuat itu ingatan Dathan. “Apa ada yang lain lagi?” tanya Neta.
__ADS_1
Dathan meraih kertas Neta. Dia menulis sendiri apa yang harus direvisi. Neta hanya bisa melihat saja apa yang perlu direvisi.
Ternyata cukup banyak yang harus diperbaiki. Neta menelan salivanya. Sungguh ini adalah hal yang menjadi pekerjaan tambahan.
“Ini.” Dathan memberikan buku pada Neta.
Neta hanya tersenyum saja ketika Dathan memberikan bukunya. Sepertinya pekerjaannya akan sangat banyak.
Pekerjaan utama Neta sudah selesai. Kini tinggal dirinya bersantai. Dia menunggu Loveta untuk bangun. Sesuai dengan yang diminta Loveta.
“Wah ... Cinta bau asem.” Neta menutup hidungnya. “Bagaimana jika kita mandi dulu?” Neta ingin Loveta jauh lebih segera.
“Lolo mau mandi. Biar wangi.” Loveta tidak mau dibilang bau asam. Jadi dia meminta untuk mandi.
Neta pun segera mengajak Loveta mandi. Tak membiarkan Loveta mandi sendiri. Sepanjang mandi Loveta terus bercerita. Neta dengan antusias mendengarkan.
Neta sengaja tidak membasahi rambut Loveta. Mengingat Loveta belum benar-benar sembuh. Takut nanti masih demam. Setelah mandi, Neta membantu Loveta yang memakai baju. Tak lupa mengikat rambut Loveta agar lebih rapi.
“Sudah cantik, sekarang kita makan kue lebih dulu.” Neta mengulurkan tangannya. Mengajak Loveta untuk makan kue yang dibawanya tadi. Mereka makan di ruang keluarga. Neta menyuapi Loveta dengan telaten. Memastikan jika Loveta makan dengan baik.
Dathan hanya bisa menatap iri ketika anaknya mendapatkan perhatian dari Neta. Rasanya Dathan ingin sakit juga.
“Besok Papa juga mau sakit.” Dathan mengatakan lebih dulu. Paling tidak kekasihnya sudah siap sedia. Barang kali bisa cuti.
“Memangnya kenapa papa mau sakit?” Loveta begitu penasaran. “Lolo tidak suka sakit.”
“Biar diperhatikan seperti Cinta.” Dathan jujur mengatakannya.
Loveta tertawa. Ternyata papanya iri. Neta pun ikut tersenyum. Kekasihnya benar-benar seperti anak kecil. Tidak mau kalah sama sekali.
__ADS_1
“Lolo.”
Ketika mereka sedang tertawa bersama. Nama Loveta terdengar dipanggil. Mereka semua mengalihkan pandangan ke arah pintu masuk. Melihat siapa gerangan yang datang.