
“Lolo nanti besar mau jadi apa?” Liam bertanya sambil menatap Loveta yang sedang asyik menggambar.
“Lolo mau jadi seperti mama. Bisa gambar-gambar.” Beberapa hari ikut sang mama, Loveta menjadi suka sekali dengan pekerjaan sang mama. Apalagi dia memang hobi menggambar. Jadi wajar saja jika itu membuatnya merasa jika menemukan kesukaannya.
Liam tersenyum.
“Kak Liam mau jadi apa?” Loveta bergantian menatap Liam. Ingin tahu yang akan dilakukan oleh Liam.
“Aku mau jadi pengusaha sukses.” Sejak dulu Liam memang ingin menjadi pengusaha sukses.
“Seperti papa?” Loveta tahu jika papanya adalah seorang pengusaha.
“Iya.” Liam mengangguk.
“Kenapa mau jadi seperti papa?” Loveta begitu penasaran sekali. Dia merasa ingin tahu apa alasan Liam.
“Aku ingin bisa punya banyak uang. Biar agar bisa buat panti asuhan.” Sejak tinggal di panti asuhan dan mendapatkan orang-orang yang begitu baik, Liam merasa jika dirinya harus banyak bersyukur. Karena itu, dia akan belajar dan bisa menjadi pengusaha.
Walaupun tidak mengerti yang dijelaskan oleh Liam, Loveta hanya mengangguk saja. Mereka pun melajutkan kembali menggambar sambil bercerita.
Di saat Liam dan Loveta sedang asyik mengobrol dan menggambar, Arriel dan Adriel memilih untuk mengobrol di balkon. Menikmati pemandangan kota dari atas.
“Kamu tinggal di mana?” Arriel menatap Adriel yang duduk berseberangan dengan dirinya.
“Aku tinggal di sana.” Adriel menunjuk sebuah apartemen yang terlihat dari apartemen Arriel. Walaupun bukan apartemen besar, tetapi cukup untuk dirinya tinggal saat ini.”
“Wah … ternyata tidak jauh dari sini.” Arriel tersenyum.
“Iya, tadi juga aku berangkat hanya butuh waktu sebentar.” Kemarin, dia sudah menjemput Liam. Jadi tadi pagi, mereka berangkat dari apartemennya. Apartemen itu adalah fasilitas dari kantor. Jadi Adriel tinggal menempati saja.
“Pasti kamu suka ke mal itu.” Arriel menunjuk salah satu bangunan tinggi yang tak jauh dari apartemen Raven.
__ADS_1
“Iya, aku sering ke sana.” Adriel membenarkan. “Jika kamu main ke mal itu, mampir saja ke apartemenku.” Adriel berbasa-basi.
“Apa kamu sedang mengundang seorang wanita untuk ke apartemenmu?” Arriel tersenyum tipis.
“Bukan begitu maksudku. Aku hanya berpikir–”
“Aku hanya bercanda.” Arriel tertawa.
Adriel merasa tidak enak. Entah kenapa dia merasa sedikit canggung dengan Arriel. Mungkin karena Arriel lebih tua dibanding dirinya. Jadi dia merasa takut tidak sopan pada Arriel.
“Ini malam minggu, apa kamu tidak pergi dengan kekasihmu?” Entah kenapa Arriel merasa ingin tahu tentang Adriel.
“Aku tidak punya kekasih. Jadi karena itu aku bisa ke sini.” Adriel tersenyum
Arriel mengangguk-anggukan kepalanya ketika mengetahui jika pria di sampingnya. Entah kenapa dia merasa senang mendengar jika Adriel tidak memiliki kekasih.
Suara bel terdengar. Arriel yang sedang asyik mengobrol pun berdiri. Dia segera menuju ke pintu apartemennya untuk melihat siapa gerangan yang datang. Saat membuka pintu dia melihat orang dari catering yang dipesannya yang datang. Tentu saja Arriel memesan, mengingat dirinya tidak bisa memasak.
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Arriel merasa tidak enak. Karena Adriel adalah tamu di rumahnya.
“Tidak apa-apa.” Adriel tersenyum. Dia merasa biasa melakukan hal ini. Jadi tentu saja dia merasa biasa saja.
Arriel tidak bisa menolak. Dia membiarkan Adriel untuk merapikan makanan yang dibelinya. Dia memberikan piring untuk meletakkan makanan.
“Aku jadi malu karena tidak memasak untuk kalian.” Sambil meletakkan makanan, Arriel berbicara. Adriel hanya menjawab dengan senyuman. “Aku tidak bisa memasak.” Dia menjelaskan alasannya membeli makanan.
“Jika kamu tidak bisa memasak, carilah pria yang bisa memasak.” Adriel tersenyum menggoda.
“Agar seimbang begitu?” Arriel menatap Adriel. Menekuk bibirnya, sedikit kesal.
“Bukan.” Adreil menggeleng.
__ADS_1
“Lalu?” Arriel begitu penasaran sekali.
“Agar kamu tidak akan kelaparan.” Adriel tertawa.
Arriel mencerna ucapan Adriel. Hingga akhirnya, dia tertawa. Karena yang dikatakan Adriel ada benarnya. Jika suaminya kelak bisa memasak, jadi dia tidak perlu menunggu makanan yang dipesan.
“Apa kamu bisa memasak?” Arriel menatap Adriel lekat. Mereka yang berdiri bersebelahan. Membuat mereka berdua saling pandang.
Untuk sesaat Adriel melihat jelas wajah cantik Arriel. Jika dilihat, Arriel memang begitu cantik. Adriel melihat tidak ada kerutan di wajah Arriel walaupun umurnya sudah di atas tiga puluh. Dia masih begitu cantik sama seperti wanita seumuran dengannya.
Arriel yang mendapat tatapan dari Adriel pun terpaku. Dia diam dan membalas tetapan itu. Entah kenapa, dia merasa jantungnya berdegup dengan kencang. Perasaan yang sudah dia yakini apa ini. Iya, Arriel terpesona dengan ketampanan Adriel. Jantungnya yang berdetak menandakan ada sepercik rasa suka di hatinya. Sama persis sewaktu dirinya bertemu dengan Dathan.
“Aku bisa memasak.” Adriel akhirnya menjawab pertanyaan Arriel. “Apa kamu ingin menjadikan aku suamimu?” Senyum
tipis tertarik di sudut bibir Adriel.
Arriel terperangah. Tidak menyangka Adriel akan mengatakan hal itu. Tentu saja dia merasa debaran jantungnya semakin memompa lebih kencang. Ini seperti sebuah buaian yang akan membuatnya melayang tinggi.
“Mama. Lolo lapar.” Suara Loveta seketika menghentikan obrolan kedua orang yang sedang asyik dengan perasaan yang baru mereka rasakan.
“Oh … iya, Sayang. Kita makan.”
Arriel yang tersadar segera meminta anaknya untuk duduk. Dia juga meminta Liam untuk ikut duduk juga. Segera Arriel mengambilkan makanan untuk dua anak tersebut. Hal itu membuatnya sedikit mengalihkan perhatian Arriel pada Adriel.
Adriel hanya tersenyum tipis. Dia sendiri juga tidak mengerti, kenapa bisa dirinya mengatakan hal itu. Seperti tidak ada kontrol dalam dirinya. Untuk menutupi rasa malu yang dengan lancangnya mengatakan itu, Adriel pun memilih segera duduk. Mengambil makan sendiri, dan menikmati makan dengan Arriel, Loveta, dan Liam.
Di meja makan suasana begitu hangat, Adriel bercanda dengan Loveta dan Liam. Menceritakan banyak hal. Arriel hanya memilih diam saja. Memerhatikan Adriel.
Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya bukan?
Pertanyaan itu pun terbesit di hatinya. Takut jika dia jatuh cinta pada pria yang umurnya lebih muda darinya itu. Ini membuatnya merasa adalah hal yang tidak mungkin.
__ADS_1