Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Bukan Aku


__ADS_3

Di jam istirahat Neta dan Maria segera ke kafe yang berada di seberang kantor. Tadi Maria sudah menghubungi Martin untuk datang ke kafe. Mereka ingin menanyakan secara langsung apakah Martin terlibat dalam hal ini.


“Hai.” Martin menyapa Neta dan kekasihnya.


“Apa kamu yang membocorkan ini?” Maria tanpa basa-basi menyodorkan majalah yang menampilkan foto Dathan dan Neta.


Martin mengerutkan dahinya. Merasa jika terkejut dengan yang dikatakan oleh kekasihnya. Dia memang sudah melihat artikel itu tadi pagi. Akan tetapi, tidak menyangka jika sang kekasih akan menuduhnya seperti itu.


“Kamu menuduh aku?” Martin menatap sang kekasih. Dia tampak tidak terima dengan tuduhan yang diberikan kekasihnya itu.


“Martin maafkan Maria. Bukan maksud kami begitu.” Neta justru merasa tidak enak ketika Maria main asal tuduh. Bukan menanyakan dengan baik-baik. “Maria, jangan begitu. Kita bicara baik-baik.” Neta menarik temannya itu untuk duduk.


Maria duduk. Dia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba menuduh kekasihnya. Mungkin karena terbawa perasaan hanya kekasihnya yang merupakan wartawan majalah gosip.


Martin meraih majalah yang diberikan oleh kekasihnya. “Aku sudah baca ini tadi pagi, tapi jika kalian menuduh aku yang menyebarkan ini, aku tegas mengelak. Aku tidak melakukannya.” Martin menatap Neta dan kekasihnya. “Aku memang wartawan gosip, tetapi aku tidak mengambil keuntungan untuk diriku sendiri dalam hal ini.” Dia kembali menimpali.


Neta melihat dalam bola mata Martin. Dia yakin jika kekasih temannya itu tidak melakukannya.


“Jika aku mau, aku sudah membahas acara pernikahanmu itu sejak lama. Bahkan aku bisa memberikan foto eksklusif pernikahanmu dengan Dathan.” Martin kala itu hadir di pernikahan Neta dan Dathan. Jelas dia punya foto-foto Neta dan Dathan.


Mendengar bantahan Martin, Neta semakin yakin jika bukan dialah yang melakukannya. Dia yakin jika orang lain yang melakukannya.

__ADS_1


“Maafkan aku, Sayang. Aku hanya merasa takut kamu yang melakukannya saja.” Maria menarik tangan Martin.


“Aku tahu pasti kamu sedang khawatir dengan temanmu.” Martin tersenyum.


Neta kini semakin dibuat bingung. Siapa gerangan yang melakukan hal itu. Jika bukan Maria, buka juga Martin, lalu siapa? Pertanyaan itu pun menghiasi kepala Neta.


“Driel.” Ketika mereka sedang asyik mengobrol. Martin memanggil Adriel yang masuk ke area kafe. Tadi memang Adriel juga menghubunginya. Mengajaknya bertemu. Karena itu, Martin membuat janji sekalian.


“Hai.” Adriel mengayunkan langkah menghampiri meja yang diisi Neta, Maria, dan Martin. “Kalian juga di sini?” Adriel yang melihat Neta dan Maria tampak sedikit terkejut.


“Iya.”


Adriel sudah menebak. Jika pasti mereka datang untuk menanyakan hal yang sama dengannya. Namun, melihat Neta dan Maria yang tenang, dia menduga jika Martin bukan menyebarkan berita pernikahan Neta. Adriel bergabung dengan Neta, Maria, dan Martin. Ikut mengobrol masalah yang dihadapi Neta.


“Aku punya kenalan orang majalah ini. Aku akan coba tanyakan dan minta bertemu siapa yang menulis artikel ini.” Martin mencoba memberikan solusi terbaiknya. Mengingat dia juga penasaran. Siapa gerangan yang menyebarkan hal ini.


“Cobalah tanya pada temanmu itu. Agar kita tahu siapa yang menyebarkan ini.” Adriel mendukung rencana temannya itu


“Baiklah.” Martin mengangguk.


“Baiklah, kabari aku dengan segera.” Neta menatap Martin. Dia berharap dari sini ada titik terang.

__ADS_1


...****************...


Rifa datang ke toko perhiasan milik Arriel. Dia datang sesuai dengan permintaan sang suami. Karena tidak mau terlihat mencolok datang untuk bertemu Arriel, dia datang membeli perhiasan. Beruntung suaminya tadi memberikannya uang, setelah berdebat jika dirinya tidak mungkin datang hanya untuk sekadar bertanya.


Rifa melihat-lihat perhiasan sambil melihat sekitar. Mencari keberadaan Arriel. Dia mau pertemuannya dengan Arriel itu tanpa sengaja.


Benar saja. Selang beberapa saja. Arriel keluar bersama Mauren. Tampak mereka memakai tas seolah siap untuk pergi.


“Kak Rifa.” Arriel yang kebetulan keluar dari ruangannya melihat Rifa yang datang ke tokonya. Dia tampak terkejut.


“Kamu di sini, Ril? Aku pikir kamu sedang keluar.” Rifa tersenyum. Dia menautkan pipi pada Arriel, dan bergantian pada Mauren. Dia memang sudah mengenal dua wanita itu.


“Sebenarnya memang mau keluar makan siang.” Arriel tersenyum. “Kak Rifa ke sini mau cari perhiasan?” Arriel menebak kedatangan Rifa.


“Iya.” Rifa tersenyum.


“Bagaimana kita makan dulu, nanti dilanjut mencari perhiasan?” Arriel menawari Rifa untuk bergabung dengannya makan.


Rifa merasa ini adalah kesempatan tentu saja dia akan memanfaatkan dengan baik. Dia mungkin bisa bertanya-tanya nanti. Apa ada kaitannya Arriel dengan artikel pernikahan Dathan dan Neta.


“Baiklah, ayo.” Rifa memanfaatkan dengan baik ajakan Arriel.

__ADS_1


Mereka bertiga pergi ke salah satu restoran di dekat toko. Mengingat jalanan macet ketika jam makan siang. Jadi tentu saja lebih enak dekat-dekat saja.


__ADS_2