
Neta tersenyum. Dia tahu maksud dari pertanyaan Dathan. “Aku baik-baik saja, tenanglah.”
Dathan mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Tepat berada di samping Neta. “Aku belum bisa beritahu Cinta tentang semua.” Dathan mengembuskan napas. Dia sendiri belum siap menyakiti anaknya.
Neta menoleh pada Dathan. Menatap pria yang masih memakai kacamata bacanya itu. Senyumnya menghiasi wajahnya. “Dia terlalu dini untuk paham masalah orang dewasa. Biarkan saja dulu. Kita yang harus memahaminya. Lagi pula, aku harus mulai terbiasa dengan semua itu. Karena bukan Cinta yang harus mengerti, tetapi aku.”
Dathan menarik senyumnya. “Bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu jika kamu seperti ini.” Sungguh benar-benar Neta membuat Dathan luluh lantah. Gadis di depannya itu membuatnya tidak bisa memikirkan yang lain.
“Apa akhir pekan ini kamu ada janji?”
Neta memikirkan jika minggu ini, dia tidak punya janji. “Sepertinya tidak. Memang kenapa?” tanya Neta.
Dathan senang karena Neta tidak punya jadwal untuk pergi. “Bisakah kamu ikut aku ke Bali. Rencananya aku dan Cinta akan ke Bali.” Karena anaknya minggu ini masih bersamanya, jadi Dathan memanfaatkan untuk berlibur.
Neta cukup terkejut ketika diajak untuk pergi. Dia menimbang-nimbang tawaran Dathan.
__ADS_1
“Kita berangkat jumat malam dan akan kembali minggu pagi.” Di sela-sela Neta yang memikirkan hal itu pun, langsung menjelaskan kembali.
“Baiklah.” Neta yang menimbang-nimbang, akhirnya setuju untuk ikut Dathan dan Loveta ke Bali.
Dathan senang Neta bisa bergabung dengannya ke Bali. Ini kesempatan untuknya mendekati Neta. Melanjutkan semua pertanyaan yang sudah dikumpulkannya.
“Baiklah, sekarang selesaikan pekerjaanmu.” Dathan tak mau mengganggu terlalu lama. Jika pekerjaan Neta tertunda, bisa jadi rencananya juga akan tertunda.
Neta mengangguk. Dia segera melanjutkan kembali menyelesaikan data yang dibutuhkannya. Dathan sendiri memilih untuk melanjutkan pekerjanya. Tak mau mengganggu Neta.
Neta yang kebetulan sudah selesai pun memilih menemani Loveta bermain. Menunggu Dathan yang masih sibuk bekerja. Dathan sama sekali tidak terganggu ketika Neta dan Loveta bercanda ria.
Saat bermain dengan Loveta teringat, jika dia belum mendapatkan foto untuk wawancaranya.
“Foto.” Seketika dia mengucap kata itu ketika mengingat jika dia belum mendapatkan foto tersebut.
__ADS_1
“Ada apa dengan foto?” Dathan cukup terkejut mendengar ucapan Neta.
“Aku lupa belum memotretmu.” Neta mengatakan akan hal itu. “Bisakah kita melakukan sesi foto?” tanya Neta.
“Kamu mengajak aku untuk foto di jam seperti ini. Aku sangat berantakan dan kamu mau memotretku?” Dathan merasa tidak terima. Fotonya harus paripurna. Jadi dia tidak mau sampai fotonya yang terpampang jelek. Apalagi ini wawancara pertamanya.
Neta menelan salivanya. Dia bingung karena ingatannya baru saja terlintas apa yang dilupakannya.
“Besok pagi kamu datanglah ke rumah. Aku akan bersiap untuk difoto.” Dathan memberikan perintahnya.
Neta merasa memang saat ini bukan waktu yang pas. Jadi dia memilih mengiyakan permintaan Dathan.
“Baiklah.” Neta akan ke rumah Dathan besok. Mengambil gambar Dathan untuk majalahnya.
Saat pekerjaan Dathan selesai, akhirnya dia mengajak Neta dan Loveta untuk pulang. Dathan mengantarkan Neta lebih dulu. Barulah dis pulang. Dathan meminta Neta untuk datang ke rumahnya pagi. Agar dia tidak terlalu siang mengantarkan Loveta sekolah.
__ADS_1