Bos Duda Kesayangan

Bos Duda Kesayangan
Mama Meminta Maaf


__ADS_3

Mobil Arriel sampai di rumah Dathan. Saat sampai, ternyata sudah terparkir beberapa mobil di sana. Terlihat jika ada yang datang selain Arriel, Mama Anggun, dan Mauren. Mama Anggun merasa sedikit takut ketika harus berhadapan dengan Dathan. Mama Anggun takut Dathan akan marah besar padanya.


“Riel, apa Dathan akan marah pada Mama?” Mama Anggun merasa begitu takut sekali. Mengingat jika dirinya yang menyebar berita pernikahan Dathan pertama kali.


“Setiap kesalahan pasti harus dipertanggungjawabkan. Jadi Mama harus berani. Seberani Mama memulai.” Arriel memberikan mamanya sindiran.


Mama Anggun memutar bola matanya malas. Dia masih merasa dirinya benar. Karena meluapkan rasa kesalnya pada Dathan. Harusnya, Dathan bisa kembali pada sang anak. Jadi bisa berkumpul bersama.


Mereka bertiga akhirnya turun. Di depan pintu rumah, Arriel mengetuk pintu terlebih dahulu. Hingga sesaat kemudian seseorang membawa pintu tersebut.


Arriel melihat Neta yang membuka pintu rumah. Tampak wanita cantik yang kini menjadi istri Dathan itu tersebut tersenyum padanya. Mama Anggun yang melihat wanita di depannya menduga jika wanita itu adalah istri Dathan. Terakhir dia melihat foto yang diberikan oleh Mauren. Jika dilihat, memang wanita di depannya itu jauh lebih muda dibanding anaknya. Jadi wajar saja Dathan mau yang lebih muda.


“Hai, Ta.” Arriel menyapa Neta.


“Hai, Riel. Akhirnya kamu datang juga.” Neta memang sudah tahu jika Arriel akan datang.


“Iya, kebetulan jalanan tidak macet. Jadi aku bisa sampai lebih cepat.” Arriel tersenyum. Dia kemudian beralih pada sang mama.


“Kenalkan Neta, ini mamaku.” Dia memperkenalkan mamanya.


Neta tersenyum pada mama Arriel. Kemudian mengulurkan tangannya. “Saya Neta.” Dia memperkenalkan dirinya.


Mama Anggun melihat Neta dengan saksama. Entah kenapa dia masih tidak rela jika Neta mendapatkan Dathan. Arriel yang melihat sang mama hanya diam saja dan tidak menerima uluran tangan dari Neta pun langsung menyenggol sang mama. Memberikan kode untuk sang mama agar segera menerima uluran tangan Neta.

__ADS_1


Mama Anggun yang tersadar dari pikirannya pun akhirnya memilih untuk segera menerima uluran tangan Neta. “Anggun.” Dia ikut memperkenalkan diri.


Neta tersenyum. “Ayo, silakan masuk.” Neta melebarkan pintu agar Arriel, Mauren, dan Mama Anggun bisa masuk.


Neta mengajak mereka semua ke ruang keluarga. Kebetulan ada teman-temannya juga di sana.


Melihat ada banyak orang membuat mereka bertiga sedikit tidak nyaman. Mengingat nanti yang akan dibicarakan adalah hal serius. Arriel yang memerhatikan orang di ruang keluarga, mendapati ada Adriel di sana juga. Dia pun tersenyum pada pria tampan itu.


Dathan yang melihat ada tamu yang datang segera berdiri. Menyalami mereka semua. “Apa kabar Nyonya Anggun?” Tepat pada


Mama Anggun, Dathan membuka mulutnya.


Mama Anggun terkesiap ketika mendapati Dathan memanggil dengan sebutan ‘Nyonya’. Itu seolah menegaskan jika memang dirinya sudah terhubung dengan Dathan.


“Mama.” Suara Loveta seketika terdengar. Loveta langsung memeluk sang mama.


“Sayang.” Arriel mendaratkan kecupan di pipi sang anak. Merasa rindu sekali.


Mama Anggun melihat Loveta yang kini sudah tumbuh begitu besar dan cantik. Mirip sekali dengan Arriel di waktu kecil. Tentu saja itu membuatnya merasa sedih. Karena tidak pernah bertemu dan melihat cucunya.


“Lolo.” Mama Anggun memanggil Loveta.


Loveta yang melihat ada yang memanggilnya dan dia tidak kenal langsung mengeratkan pelukannya pada sang mama. Arriel menyadari jelas jika memang anaknya takut. Bagi anaknya mamanya adalah orang asing. Jadi wajar saja jika takut.

__ADS_1


“Sayang, ini nenek. Ayo kenalan.” Arriel meminta sang anak untuk mengulurkan tangannya.


“Nenek siapa?” Loveta merasa tidak kenal.


Mama Anggun merasa sakit ketika cucunya saja tidak kenal dirinya. Ke mana dirinya selama ini. Dia memilih tinggal di Singapura dan jarang kembali. Sampai dia lupa jika punya cucu secantik ini.


“Ini nenek Lolo.” Arriel menjelaskan dengan lembut.


“Halo, Lolo. Kita baru bertemu.” Mama Anggun tersenyum sambil membelai lembut wajah Loveta.


“Halo, Nenek.” Walaupun masih takut, dia tetap menjawab.


Dathan melihat jelas bagaimana anaknya tidak mengenali neneknya sendiri.


Bagaimana bisa kenal, jika neneknya saja tidak pernah datang. Yang justru dia tahu kakek dan nenek itu adalah mama dan papa Reno. Mereka yang justru sering bertemu Loveta. Saat berkunjung ke rumah Reno, mereka selalu menyempatkan berkunjung ke rumahnya untuk bertemu Loveta.


Adriel, Maria, dan Martin yang melihat jika ada tamu saling memberikan kode untuk berpamitan saja. Tidak mau mengganggu Dathan dan Neta yang sedang ingin berbicara.


“Pak Dathan, Neta. Sepertinya kami pamit pulang dulu.” Adriel membuka pembicaraan terlebih dahulu.


Dathan dan Neta mengalihkan pandangan pada Adriel, Maria, dan Martin. Mereka pergi mungkin karena kedatangan Arriel, Mauren, dan Mama Anggun.


“Baiklah, terima kasih sudah ke sini. Lain kali kita harus bertemu lagi untuk sekadar makan siang bersama.” Dathan tersenyum. Dia mengulurkan tangan pada Adriel, Martin, dan Maria.

__ADS_1


Mereka bertiga mengangguk. Mereka bertiga juga bersalaman dengan Neta, Arriel, Mama Anggun, dan Mauren. Saat bersalaman dengan Arriel, Adriel tersenyum manis. Mereka baru bertemu sebentar, tetapi ternyata harus berakhir. Padahal belum sempat mereka sekadar bertegur sapa.


__ADS_2