
Neta menatap Dathan. Bisa-bisanya sang suami polos menjelaskan seperti itu. Jelas itu membuatnya bingung. Apalagi Loveta tampak histeris.
“Sayang, Kak Liam akan tinggal dengan mamanya. Jadi dia harus ikut mamanya.” Neta akhirnya ikut turun tangan.
“Tidak mau, nanti Lolo tidak bertemu Kak Liam.” Loveta menangis. Dia memeluk Liam dan tidak mau melepaskannya.
“Sayang, Kak Liam akan bahagia ketika bersama mamanya. Seperti Lolo yang bahagia dengan mama dan papa, papi dan mami.” Adriel ikut membujuk.
“Lolo tidak mau jauh dari Kak Liam.” Lolo masih menangis terisak. Merasa benar-benar tersiksa sekali.
“Lolo, Kak Liam akan kunjungi Lolo jika nanti libur sekolah. Jadi Lolo jangan bersedih.” Liam pun mencoba membujuk Loveta.
Liam membalik tubuhnya ke arahnya. Senyumnya menghiasi wajahnya ketika menatap Loveta. Tangan mungilnya menghapus air mata di pipi Loveta.
“Jangan bersedih. Nanti Kak Liam sedih jika Lolo menangis.” Liam mencoba membujuk Loveta.
“Kak Liam jangan pergi.” Loveta masih menangis. Dia masih tidak rela jika Liam pergi.
“Kak Liam ingin tinggal bersama mama. Kak Liam ingin merasakan seperti Lolo yang disayang mami atau mama. Jadi Kak Liam harus pergi. Nanti Kak Liam akan datang untuk mengunjungi Lolo.” Liam tersenyum. Tangan mungilnya masih bergerak menghapus air mata Loveta.
“Memang Kak Liam tinggal di mana? Jauh?” Loveta menatap Liam. Dia ingin memastikan dulu berapa lama Liam akan mengunjunginya.
Liam menatap mamanya. Dia sendiri tidak tahu mamanya akan membawa ke mana.
__ADS_1
“Kak Liam akan tinggal di Italia.” B Julia mencoba menjelaskan.
“Italia itu mana?” tanya Loveta. Dia
memandang Julia dengan lekat. Kemudian mengalihkan pandangan pada Neta, Dathan, Arriel, dan Adriel.
“Italia itu ada di luar negeri.” Neta mencoba menjelaskan. “Jika naik pesawat selama lima belas jam. Lima belas jam itu artinya kalau Lolo berangkat pagi, malam sudah sampai.”
“Berarti lama sampai. Berarti jauh?” tanya Loveta.
“Jauh di mata dekat di hati, Cinta. Jadi jangan khawatir. Walaupun jauh, tetapi Kak Liam selalu di hati Cinta.” Dathan mencoba menjelaskan pada anaknya. Dia menghampiri anaknya.
Neta, Arriel, dan Adriel hanya terperangah ketika Dathan menjelaskan. Sudah seperti menjelaskan sepasang kekasih saja. Namun, masih masuk akal.
Neta merasa janji Dathan itu terlalu berat. Belum tentu kelak mereka bisa mewujudkannya. Mengingat tidak ada yang tahu ke depan akan seperti apa. Namun, mengingat suaminya sudah berjanji. Tentu saja dia pasti akan menepati.
“Benarkah?” tanya Loveta memastikan.
“Iya, Sayang.” Dathan membenarkan ucapannya.
Loveta mengalihkan pandangan pada Liam. “Kak Liam boleh pergi, tapi jangan lupa Lolo.” Dia menatap lekat wajah Liam. Menatap penuh harap.
“Iya, Kak Liam tidak akan pernah lupa.” Liam tersenyum.
__ADS_1
“Aku tidak akan pernah lupa.” Liam tersenyum. Dia juga berjanji tidak akan melupakan Loveta.
Loveta akhirnya berhenti menangis. Dia merasa jika apa yang dijanjikan papinya dan juga Liam sudah cukup.
Liam beralih pada Bu Kania. “Ibu, Liam sayang.” Dia memeluk Bu Kania. Sejak kecil Bu Kania menjaganya. Jadi tentu saja dia sangat menyayangi Bu Kania.
Bu Kania menangis. Dia merasa sedih ketika harus melepaskan Liam. Apalagi dia adalah anak yang baik.
“Ingat apa yang selalu Ibu ajarkan. Jadi anak yang baik. Ibu yakin kelak kamu akan menjadi orang yang hebat.” Bu Kania membelai lembut wajah Liam, dan kemudian mendaratkan kecupan di puncak rambut Liam.
“Iya, Bu. Liam akan selalu ingat nasihat Ibu.” Liam menghapus air matanya. Dia berusaha tegar.
“Jaga diri baik-baik di sana. Kabari kami juga.” Adriel mengusap lembut rambut Liam. Liam sudah seperti adiknya. Jadi dia merasa jika menyayangi Liam.
“Jangan lupakan kami semua. Selalu ingat kami.” Neta ikut mengusap rambut Liam. Baginya Liam adalah anak yang pintar. Sejak kecil dia selalu patuh. Selalu mendengar nasihat. Di usia sepuluh tahun, dia lebih dewasa dibanding umurnya.
“Iya, Kak. Pasti Liam tidak akan lupa.” Liam mengangguk.
“Kami permisi dulu. Nanti jika sudah sampai di Italia. Kami akan mengabari.” Julia pun meraih pundak anaknya. Dia menatap Bu Kania, Adriel, dan Neta.
Mereka semua mengangguk. Melepaskan Liam untuk ikut dengan mamanya. Liam melambaikan tangan ketika mengayunkan langkahnya ke taksi.
Loveta yang membalas dengan lambaian tangan juga. Namun, saat taksi mulai pergi, dia kembali menangis. Dathan yang melihat anaknya menangis langsung menggendongnya. Menenangkan anaknya itu.
__ADS_1