
Mendengar jawaban Cinta, Neta berusaha untuk tetap tenang. Dia menyadari jika ternyata Cinta tumbuh dengan baik. Dia tidak merasakan sama sekali kehilangan kedua orang tuanya meski kedua orang tuanya sudah berpisah.
“Apa yang dilakukan Cinta, mama, dan papa di sini?” Rasa penasaran membuatnya bertanya akan hal itu.
“Kita melihat matahari terbenam.” Loveta menunjuk ke arah matahari.
Neta mengalihkan pandangannya pada matahari yang ditunjuk oleh Loveta. Memang benar adanya jika dari balkon terlihat matahari yang tenggelam. Terlihat begitu indah. Jadi jika dibilang ini tempat favorit wajar saja. Dirinya juga suka di tempat ini.
“Apa yang dilakukan papa dan mama di sini?” Entah setan apa yang merasuki Neta. Dia begitu ingin tahu sekali apa yang dilakukan oleh Dathan dan mantan istrinya.
“Mama duduk di sana dengan cinta. Papa minum kopi di sini.” Loveta menunjuk ayunan yang ada balkon di mana dia duduk dengan sang mama, dan di kursi di mana sang papa duduk.
Neta menangkap sekali pun berada di tempat yang sama ternyata Dathan tetap menjaga jarak.
“Itu kalau mama jemput Lolo sore. Kalau mama jemput pagi, ya tidak.” Loveta menceritakan kembali. Senyum Loveta begitu polos sekali. Dia seolah benar-benar tidak tahu jika mama dan papanya berpisah.
“Mama ke sini setiap apa?” Setelah tadi wawancara dengan papanya, sekarang giliran anaknya. Benar-benar jiwa wartawan Neta begitu kental.
“Mama pulang jumat sore atau sabtu pagi. Nanti Lolo diajak ke apartemen mama. Bermain, makan, belanja.” Dia menceritakan semua pada Neta apa yang dilakukannya.
Neta tersenyum. Kata ‘pulang’ itu terdengar aneh di telinganya. Karena dia tahu Dathan dan mantan istrinya sudah bercerai. Namun, karena Loveta tidak tahu, jadi wajar saja dia memberikan istilah itu pada mamanya.
“Papa tidak ikut main?” Kembali Neta bertanya.
“Papa ikut main.” Loveta menjawab dengan semangat.
Neta jadi berpikir. Bagaimana Dathan bisa bermain dengan mantan istrinya di depan anaknya. Apa Dathan tampak biasa saja. Apa interaksi itu tidak menimbulkan cinta. Ach … pertanyaan di kepala Neta terlalu banyak. Hingga sulit untuk dia mendapatkan jawaban atas semua itu.
__ADS_1
“Ayo, kita naik ayunan, Aunty.” Loveta menarik tangan Neta. Membawanya untuk pergi ke ayunan.
Neta pasrah saat Loveta menariknya. Dia mengikuti saja apa yang dilakukan oleh Loveta. Dia duduk di ayunan yang menghadap ke arah matahari tenggelam. Sungguh pemandangan dari balkon benar-benar indah. Baru saja sebentar, Neta sudah menjadikan tempat ini favorit baginya.
Neta dan Loveta memandangi langit yang perlahan mulai menguning. Warna langit pun perlahan berubah. Pemandangan yang memang jarang ditemukan Neta di kota.
Saat sedang asyik memandangi langit, Dathan datang menghampiri. Neta mengalihkan pandangan pada pria yang baru saja selesai mandi. Seketika jantung Neta dibuat melompat-lompat ketika melihat Dathan dengan rambut basahnya yang acak-acakan. Sesekali dia menyugar rambutnya dengan tangannya. Dathan sudah mirip iklan sampo yang sedang memamerkan rambutnya. Namun, bukan itu masalahnya. Pesona Dathan tiba-tiba membuat Neta sesak napas.
Astaga, jika aku tidak jatuh cinta. Artinya aku benar-benar tidak normal. Matahari sudah pulang ke peraduannya, tetapi panasanya tetap saja mencairkan sebongkah es.
Neta benar-benar tidak bisa menolak pesona Dathan. Sungguh, Neta harus menguatkan imannya. Agar tidak buru-buru menerima cinta Dathan.
“Sedang apa kalian?”
Suara bas Dathan yang terdengar membuat Neta tersadar. “Sedang melihat matahari.”
Dathan tersenyum. Dia segera mendudukkan tubuhnya di atas ayunan. Tepat di samping Neta. Ayunan ini memang cukup panjang untuk mereka bertiga. Jadi tentu saja ketika Dathan naik, tidak ada masalah.
Aroma sabun khusus untuk pria tercium di indera penciuman Neta. Apalagi jaraknya begitu dekat. Jadi tentu saja aroma itu langsung menggelitik indera penciumannya. Aroma segar begitu terasa. Benar-benar membuat Neta tak kuasa.
Sabar, Ta. Duda memang punya pesona yang tak tertandingi. Mungkin karena pengalaman mereka lebih banyak.
Neta hanya bisa berusaha untuk menguatkan hatinya yang rapuh karena pesona Dathan.
“Di sini memang adalah tempat yang nyaman untuk melihat matahari tenggelam.” Dathan memandangi langit sore sambil memberitahu Neta.
“Iya, begitu indah sekali dipandang dari sini.” Sayangnya, saat mengatakan itu Neta bukan menghadap ke langit, tetapi ke wajah Dathan.
__ADS_1
Dathan yang menoleh mendapati Neta yang sedang memandanginya. Namun, Neta segera mengalihkan pandangannya. Melihat ke arah langit yang sedang dibicarakan oleh Dathan. Dathan yang melihat aksi Neta itu hanya tersenyum saja. Sungguh menggemaskan.
Neta yang melihat langit, tiba-tiba teringat dengan ayunan yang dinaiki. Dia segera menoleh pada Dathan. “Apa ini kuat menampung kita?” Dia memastikan pada Dathan. Dari cerita Loveta, tadi hanya mama dan Loveta yang naik. Pikiran Neta, mungkin Dathan tidak ikut naik karena ayunan ini tidak kuat.
“Tenanglah, ayunan ini dirancang kuat untuk menampung dua ratus lima puluh kilogram, jadi kita akan tetap aman.” Dathan justru mengayunkan ayunan bergerak maju mundur.
Neta panik. Namun, saat ayunan tampak biasa saja, dia segera mulai tenang. Saat menikmati ayunan, dia mulai berpikir jika bisa saja Dathan duduk bersama mantan istrinya di sini sambil melihat matahari terbenam, tetapi Dathan memilih duduk di kursi dan membiarkan anak dan mantan istrinya berdua.
“Lolo suka warna langit.” Loveta menceritakan sambil menunjukan warna langit.
“Namanya jingga.” Neta menjelaskan warna yang dimaksud oleh Loveta.
“Jingga.” Loveta mengangguk-anggukkan kepalanya.
Mereka bertiga menikmati langit sore yang perlahan berubah menjadi gelap. Walaupun berada di jarak yang dekat, Dathan sama sekali tidak melakukan hal-hal aneh. Seperti mengambil keuntungan dengan menyentuh Neta.
Saat melihat langit sudah mulai gelap. Dathan mengajak Neta dan Loveta untuk segera masuk. Loveta belum makan, jadi Dathan meminta anaknya itu untuk makan. Neta pun tak sungkan untuk menemani Loveta. Kebetulan dia masih kenyang. Jadi memilih menemani Loveta makan saja.
Dathan yang melihat Neta dan Loveta merasa senang. Dia berharap Loveta bisa menerima Neta sebagai ibu. Walaupun, Dathan bingung harus memberikan penjelasan seperti apa.
Setelah makan, Neta belajar bersama Loveta. Neta mengajari Loveta pelajaran yang diajarkan sang guru tadi di sekolah. Hal itu membuat Loveta begitu bersemangat sekali. Karena Neta begitu seru sekali saat mengajarinya.
Neta memang sering mengajari anak-anak panti. Jadi dia merasa memang tidak sedang berusaha berpura-pura mendekati atau bahkan berusaha mencari muka di depan Dathan.
“Cinta suka belajar dengan Aunty.” Loveta mengungkapkan perasaannya.
Neta tersenyum.
__ADS_1
“Jika Cinta suka, nanti Aunty akan temani Cinta belajar setiap hari jika mau.” Dathan tiba-tiba mengatakan hal itu pada Loveta.
Neta yang mendengar hal itu membulatkan matanya. Dia terkejut dengan ucapan Dathan itu.